Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 335 : Candaan di hari lalu


__ADS_3

Tak lama setelah Sultan mengganti semua pakaiannya yang basah itu, dan kemudian ia pun lalu duduk kembali di samping Rere sembari mencubit pipi Rere dengan manis di dalam rumahnya itu di sana.


Dan Rere pun kembali menatap foto Sultan, namun di sana Sultan menutup foto albumnya itu, dan menyuruh Rere untuk melihat-lihat foto kakak perempuannya itu ketika dia menikah dulu.


Dan tentu saja di dalam album itu ada banyak foto wajah Sultan, ketika mana ia masih menginjakan kakinya itu di sekolah SMP dulu, dan tentu saja wajah Sultan masih sedikit agak polos, apalagi foto itu diambil ketika Sultan baru saja masuk ke dalam sekolah SMP.


Wajahnya masih terlihat imut, dan Rere pun sempat memfoto wajah Sultan itu menggunakan handphonenya sendiri di dalam sana.


Rere pun kembali tersenyum, dan Rere pun merasa bahwa Sultan memang sudah bule dari lahir, dan itu semakin membuat Rere merasa iri saja, dikarenakan semasa Rere masih muda dulu itu, tak seindah bila dibandingkan dengan masa mudanya Sultan dulu.


"Ini anak emang rese ya! dari dulu mukanya masih tetap sama aja engga ada bedanya, dan udah itu wajahmu makin imut aja dah, kalau gue lihat-lihat lagi," ucap Rere sembari mencubit kedua pipi Sultan itu di dalam sana.


"Sutt! udah Re, jangan dilanjutin, soalnya pujianmu itu terlalu berlebihan, dan itu engga baik buat gue karena yang sepatutnya kamu puji itu adalah Allah, dan gue di sini hanya bisa menerimai apa yang telah beliau berikan kepada gue sekarang ini, dan apalagi sekarang Allah telah memberikan elu untuk gue cintai," ucap Sultan yang tak langsung menatap Rere karena di sana ia tengah bermain dengan gitarnya itu sendiri.


"Gue engga memuji elu bolot! gue cuma bilang apa adanya sama elu, dan terlebih elu jangan kepedean ya! karena di luaran sana masih banyak cowok yang lebih cakep daripada elu."


"Aihh, sakit beut dah hati gue Re! untung gue sayang sama elu Re, kalau misalnya gue engga sayang sama elu, udah gue tinggalin lu dari dulu," ucap Sultan sembari memegang dada sebelah kirinya itu.


"Sultan gue engga selemah yang gue kira! dan Sultan gue engga pernah selebay ini karena Sultan gue sudah mengetahuinya, apa itu arti candaan, dan apa itu arti sebuah keseriusan," ucap Rere sembari mengelus-elus rambut Sultan yang lembut itu.


Sultan bersama dengan Rere pun kembali tertawa di dalam rumah itu, dan Rere pun kembali menatap album foto itu, dan kemudian Sultan pun kembali memainkan gitarnya itu di dalam sana, dan dengan manisnya ia melihat Rere, yang di mana dia tengah asik tersenyum-senyum sendiri dengan lepas di dalam sana.


Kesibukan itu adalah kesibukan yang mereka buat-buat sendiri, dan hal itu adalah sebuah hal, yang di mana titik puncaknya kebahagiaan itu ada pada senyuman, serta bunyi indahnya suara Rere.

__ADS_1


"Allahu Akbar, Allahu Akbar," suara panggilan azan salat zuhur pun telah dikumandangkan oleh ayah Sultan di dalam mesjid itu.


"Re, gue salat dulu ya, dan kalau elu mau salat, elu tinggal salat di dalam kamar gue aja ya, dan ini mukena sama sejadahnya," ucap Sultan dengan manis sembari memberikan mukena, serta sejadahnya itu kepada Rere.


"Temenin gue wudhu dulu lah Tan, tapi elu jangan ikutan masuk juga ke dalam ya, kamu tungguin guenya di luar pintu kamar mandinya aja ya, Tan," ucap Rere sembari menarik tangan Sultan.


"Ribet amat dah hidup lu Re! padahal apa susahnya tinggal jalan ke kamar mandi aja sendiri, dan ini elu pegang-pegang tangan gue buat apa coba? kan wudhu gue jadinya batal Re, dasar bolot!" ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere kembali.


....


Sultan pun kembali dibuat heran oleh Rere, dan ia pun di sana menunggu Rere dengan sabar, tanpa sedikit pun ia bisa meninggalkan wanitanya itu di dalam sana.


Namun, keusilannya ini, tak cukup sampai di sini saja, dan jadi dia pun mengunci pintu kamar mandi dari luar, yang di mana sehingga Rere pun tidak akan bisa membuka pintu tersebut itu dari dalam.


"Kayak orang gila aja kamu Tan! kenapa ketawa-ketawa sendiri kayak gitu? emangnya kamu lagi ngetawain apa di depan pintu kamar mandi?" ucap ibu Sultan sembari membukakan pintu kamar mandi itu.


"Mamah!" ucap Rere terkejut heran.


"Pacarmu ini emang nyebelin ya, Re! kamu engga kenapa-kenapa kan di dalam sana?".


"Sultan nya kemana ya, Mah? kok, dia engga ada, padahal kan tadi itu Rere nyuruh dia buat nemenin Rere di luar pintu kamar mandi, tapi kok, dianya malah engga ada ya, Mah, dan Rere juga bingung! kenapa tiba-tiba Rere bisa terkunci dari luar?".


"Pacarmu itu Re, yang udah ngunci pintu kamar mandi dari luar, dan udah itu kayaknya dia langsung lari, mamah engga tahu dia lari kemana, tapi kamu coba lihat aja sendiri di dalam kamarnya dulu Re, siapa tahu dia ada di dalam sana."

__ADS_1


"Gue malu Tan! awas aja ya, elu Tan! kalau nanti elu udah jauh dari rumah, elu bakalan abis gue makan! engga bisa didiemin ini si Sultan bolot!" ucap Rere dalam hati sembari berjalan memasuki kamar Sultan.


Dan di sana, Sultan telah menunggu Rere masuk ke dalam kamarnya itu, dan tentu saja Sultan belum merasa puas membuat Rere itu semakin sengsara, yang di mana waktu itu Sultan tengah bersembunyi di balik pintu kamarnya, dikarenakan dia ingin mengejutkan wanitanya itu di dalam sana.


Pintu kamar pun ditutup oleh Rere dengan perlahan, dan seketika itu, Sultan pun lalu mengejutkannya, yang di mana Rere pun sontak membalikkan badannya itu ke hadapan Sultan.


"Hayoo!" ucap Sultan yang mengejutkan Rere.


"Ihh, dasar bolot! gue kira siapa tadi? engga jelas banget emang kamu mah ahh! engga asik Tan, kalau gue jantungan gimana coba? dan lagian elu suka banget dah ngejahilin gue!" ucap Rere sembari melempar bantal yang berada di dalam kamar Sultan itu.


"Dih, bantal kamu lempar-lemparin Re! yang ada, yang engga jelas itu kamu Re! benda mati yang engga punya salah apa pun kamu sakitin," ucap Sultan sembari menaruh bantalnya kembali di kasur kamarnya itu.


Dan setelah itu, Sultan pun lalu pergi meninggalkan Rere, dikarenakan ia juga harus melaksanakan ibadah wajibnya itu di dalam mesjid sana.


Dan dengan khusyuknya ia berdoa, setelah mana ia telah selesai melaksanakan salat zuhurnya itu di dalam mesjid sana, dan kemudian itu Sultan pun melihat Rere yang tengah berdiam diri di luar rumah, dan hari itu Rere memang akan pergi pulang dari rumah Sultan, dikarenakan ibu Rere telah menelepon dirinya.


"Mah, Rere pamit mau pulang dulu ya, mamah jangan lupa jaga kesehatannya di sini ya," ucap Rere sembari mengecup tangan ibunya itu.


"Iya sayang, hati-hati di jalan ya, kapan-kapan Rere main ke sini lagi ya, nanti kita masak bareng sama mamah oke," ucap ibu Sultan sembari mengecup kedua pipi Rere.


"Anterin Rere pulang sampai rumahnya ya, Tan, dan jangan kebut-kebutan di jalan!" ucap ibunya kembali.


Grungg, grungg, grungg ... suara motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan, yang di mana mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan rumah itu sembari memberikan salamnya itu bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2