
Kakak Rere terlihat bingung! kenapa handphone milik adiknya ada ditangan Sultan begitu saja, padahal Rere bilang kepadanya kalau handphone dia itu benar-benar diambil sama preman yang sempat Sultan hajar habis-habisan.
Kakak Rere mulai beranggapan kalau adiknya sedang membohongi dirinya, bahkan dia juga sempat mengira kalau adiknya hanya sedang mencari-cari alasan agar dia dapat membelikan Rere handphone baru.
"Kayaknya A'a lagi dibohongin sama Rere ya, Tan, padahal kalau emang pacar kamu itu mau handphone baru apa susahnya tinggal bilang langsung aja sama A'a," ucap calon kakak ipar Sultan mulai menuduh adik perempuannya tanpa adanya bukti yang jelas.
"Sultan yakin kalau Rere engga akan pernah membohongi kakaknya sendiri, dan terlebih Rere adalah wanita yang sangat jujur, jangankan membohongi A'a di sana, membohongi Sultan pun dia juga engga berani," ucap Sultan membuat kakak iparnya beranggapan hal yang sama dengannya.
Sampai saat ini Sultan masih belum bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya itu seperti apa, dikarenakan dia pun tidak mengetahui kenapa pacarnya bisa bertemu dengan preman gila yang sempat dia lawan itu sebelumnya.
Namun akan tetapi, Sultan takan pernah membiarkan calon kakak iparnya itu terus-terusan menuduh Rere yang tidak-tidak, maka Sultan pun mulai menjelaskan kenapa bisa Rere berbicara kalau handphonenya diambil orang.
"Sebenarnya sekarang Sultan udah ada di Sukabumi, dan tadi juga Sultan sempat berkelahi sama preman yang ternyata dia itu adalah preman yang ngambil handphone adik A'a," penjelasan Sultan membuat calon kakak iparnya yang bernama Ramdan itu penasaran.
"Kenapa kamu bisa berantem sama dia di sana Tan? dan kenapa juga kamu bisa tahu pasti kalau itu memang handphone milik Rere," ucap Kak Ramdan yang masih saja meremehkan rasa sayang Sultan terhadap adiknya.
"Semuanya gara-gara preman itu! dia menawarkan bantuan secara paksa, dan otomatis Sultan merasa terganggu! akhirnya Sultan memukul wajahnya. Sultan kira dia mau nyerah, tapi ternyata dia malah manggil teman-temannya, tapi Sultan engga mundur, sampai-sampai mereka semua tumbang satu-persatu, dan di situlah Sultan ngeliat handphone Rere sedikit nongol dari dalam saku celana pimpinan preman gila itu."
Sultan menjelaskan semua ceritanya dengan jelas, dia memang sengaja berbicara panjang lebar agar kakak Rere tidak menuduhnya lagi.
Perbincangan Sultan bersama dengan Kak Ramdan telah usai. Kak Ramdan pun lalu mematikan panggilan telepon suaranya setelah dia berucap kata terima kasih kepada Sultan.
__ADS_1
Sultan tertidur karena malam ini adalah malam yang berat untuknya. Perkelahian tadi cukup menguras banyak staminanya, dan terlebih kondisi Sultan yang sekarang ini tidak mencerminkan kalau dia itu sedang baik-baik saja.
Sultan sempat meminum obat tidur agar ia dapat tertidur lebih cepat dari sebelumnya. Obat itu merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit dibagian kepala, dan efeknya memang dapat memberikan rasa ngantuk bagi setiap orang yang meminumnya.
Sultan tertidur dengan lelap, dan seperti biasa ia akan selalu memasang alarm di dalam handphonenya, dikarenakan ia pasti akan terbangun lebih siang.
Ternyata bunyi suara alarm pun tak dapat memberikan dampak apa-apa terhadap dirinya, lantas ibu Sultan membangunkannya dengan cara menyipratkan sedikit air diwajah Sultan.
Ia tidak marah sedikit pun kepada ibunya karena Sultan sering berkata kepada beliau bilamana dia tertidur pulas dan sulit untuk dibangunkannya, maka beliau boleh menyiramkan sedikit air diwajahnya, bahkan sampai air satu gayung pun tidak masalah asalkan dia dapat terbangun dari tidur terlelapnya.
....
Sultan juga sama seperti beliau, di mana Sultan memang sering mengganggu ibunya yang tengah tertidur pulas, namun ia takan pernah melakukan hal yang sama seperti beliau, dikarenakan Sultan takut kalau nanti namanya akan dicoret dari kartu keluarga.
"Sukurin kamu Tan! suruh siapa tidur kayak kebo, kalau pacar kamu tahu mungkin setelah nikah nanti dia juga akan melakukan hal yang sama seperti mamah," ucap ibu Sultan berbicara menggunakan nada suara rendahnya sembari menciprat-cipratkan air kewajah Sultan.
Sultan mengernyitkan dahinya dengan mata tertutup, ia masih tidak menyadarinya bahwa beliau tengah menjahilinya di dalam kamar Sultan.
"Engga sekalian tumpahin aja airnya Mah, nanggung kalau cuma sedikit mah," ucap Sultan membalas keusilan ibunya dengan hanya memberikan senyuman manisnya.
Krakk ....
__ADS_1
Suara punggung Sultan berbunyi pada saat ia akan terbangun dari kasur tidurnya. Sultan berteriak kesakitan, namun teriakannya tak terlalu bising untuk didengarkan.
"Ahhh ... tulang punggung Sultan rasanya kayak retak aja! tolongin Mah, jangan diem mulu," ucap Sultan kesakitan, namun ibunya malah tertawa melihat teriakan anaknya selepas itu.
"Abis ngapain aja kamu Tan? kok, engga kayak biasanya, padahal seberat apa pun pekerjaan yang sekarang tengah kamu kerjakan di sana, biasanya kan kamu engga akan merasakan kesakitan seperti ini," ucap beliau sembari menggenggam tangan serta membantu Sultan untuk terbangun dari baringannya.
Beliau masih belum menyadari penyebab sebenarnya itu apa, dan kenapa Sultan bisa terbangun dengan punggung yang kesakitan seperti itu.
"Ini cuma sakit gara-gara rindu Mah, nanti juga sembuh sendiri kalau Sultan udah ketemu sama Rere."
"Ohh, iya Tan, mamah mau nanya, kenapa belakangan ini anak perempuan mamah yang kedua susah dihubunginnya ya, apa jangan-jangan dia marah sama mamah karena mamah sering neleponin Rere?" tanya beliau sambil memijat-mijat punggung Sultan yang kesakitan itu.
"Ini handphone Rere Mah, satu Minggu yang lalu Rere sempat ditodong sama preman terminal, dan Sultan dapetin handphone ini langsung dari tangan premannya," Sultan keceplosan, dia benar-benar tak sadar telah memberikan ucapan yang dapat membuat dirinya terancam.
Beliau menjewer telinga Sultan, dan beliau pun marah kepadanya, dikarenakan sudah berapa kali beliau berbicara agar Sultan menghilangkan sifat buruknya itu untuk berhenti berkelahi dengan siapa pun orangnya, apalagi orang itu adalah preman.
"Adah, dah, dah ... sakit Mah! lagian Sultan berantem juga karena berniat mau membalaskan dendam anak perempuan mamah, emangnya mamah mau ngeliat anak mamah itu disakitin sama para preman terminal di sana?" tanya Sultan membuat ibunya membalikan arah pemikirannya, di mana beliau malah bertanya apakah Sultan memberikan pelajaran yang sangat berat kepada mereka semua.
"Keadaan premannya sekarang gimana Tan? apakah kamu menghajar mereka sampai masuk Unit Gawat Darurat? minimal masuk ke dalam kuburan dah," ucap ibunya membuat Sultan tertawa, kalau tahu beliau mengizinkan Sultan menghabisi mereka mungkin dia akan mengikuti kemauan ibunya di sana.
"Minimal masuk kuburan! itu mah maksimalnya Mih, kalau tahu mamah gue ini ngizinin gue untuk mengahbisi mereka malam tadi, anakmu ini pastinya engga akan segan-segan untuk memasukan mereka semua ke dalam kuburan," jawaban Sultan pun membuat ibunya tertawa, dan ternyata ibunya akan selalu memberikan izin kepadanya untuk melakukan hal tersebut bilamana keselamat Rere terancam.
__ADS_1