Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 157 : Kebersamaan


__ADS_3

Tak ada lagi perbincangan yang harus Sultan bahas bersama dengan gurunya itu di sana. Dan sebelumnya beliau memang sengaja menghubunginya sepagi ini karena Pak Mukhsin, ingin memberitahukan bahwa beliau mengizikan mereka untuk pergi pulang ke Sukabumi, tapi dengan catatan hanya sebentar, dan tak boleh lama bersinggah di Kota aslinya.


Perjanjian tersebut terdengar jelas ditelinganya, ia pun lalu memberitahukan hal ini kepada semua temannya di dalam ruangan kosan.


Dimas yang tengah mandi di dalam kamar mandi pun sangat senang mendengarkan hal ini. Dan tak lama kemudian tiba-tiba suara jatuhan benda terdengar begitu keras menghantam pintu dari kamar mandi.


Benda itu bukanlah benda biasa, melainkan Dimas, dia terjatuh karena menginjak sabun mandi yang tak sengaja dia jatuhkan dari genggamannya karena licin.


Sultan berteriak memanggil nama Dimas, ia bertanya kepadanya apakah dia baik-baik di dalam sana, namun tak lama setelah itu Dimas pun lalu membuka pintu kamar mandi dengan dipegang pinggulnya itu dengan menggunakan tangan kanannya.


"Elu kenapa bego? terus tadi suara jatuhan apa? jangan bilang kalau itu suara tubuh lu yang terjatuh ke bawah lantai kamar mandi," tanya Sultan heran, kenapa Dimas memengang pinggulnya itu.


"Sakit Tan! gue engga sengaja nginjek sabun mandi tadi," ucap Dimas menahan rasa sakitnya.


Sultan tertawa melihat Dimas bertingkah seperti anak kecil, padahal diumurnya yang sekarang dia bukanlah anak kecil lagi, melainkan dia sudah cukup memiliki umur untuk dibilang sebagai seorang remaja yang sesungguhya.


Sultan tak habis-habis berkata dan tertawa, semua temannya meledek Dimas, bukan membantu menghilangkan sedikit rasa sakitnya itu.


"Lagian elu kayak anak kecil aja dah Dim! pakai pakaian elu dulu sana, udah itu elu berbaring, biar gue patahin sekalian tulang pinggul lu," ucap Sultan sembari mengambil salep untuk dibalurkan ke seluruh bagian pinggul belakang Dimas.


Ia melupakan Rere demi membantu temannya, dan mungkin ia akan menghabiskan waktu singkatnya ini hanya untuk mengobati rasa sakit Dimas.


Krakk ....


Suara tulang pinggul Dimas berbunyi, ia tak memijat pinggulnya saja, melainkan seluruh bagian anggota punggungnya pun sekalian ia pijatkan untuk dia.


Suara teriakan Dimas terdengar, mungkin sampai terdengar ke luar ruangan. Lantas semua temannya tertawa melihat dia berteriak kesakitan.

__ADS_1


Ternyata badan gemuk tak berpengaruh terhadap kekuatannya, Sultan beranggapan bahwa Dimas memang memiliki tenaga yang cukup kuat, tapi bila soal urusan yang seperti ini, ternyata Dimas tumbang juga akhirnya.


"Aduh ... sakit Tan! udah Tan, udah," ucap Dimas merasa kesakitan ketika mana dia melihat kekuatan Sultan yang sesungguhnya.


"Lemah lu Dim! baru segini udah merengek! percuma badan besar kalau kekuatan yang sebenarnya ternyata selemah ini," Sultan terus memijat-mijat seluruh anggota bagian tubuh belakang Dimas.


Alamsyah menyela ucapan Sultan, dan dia bukannya malah membantu Sultan, tapi dia malah ingin menampar punggung Dimas.


Dimas mengira Sultan yang menampar punggungnya, tapi ternyata itu adalah Alamsyah. Sultan hanya tertawa sembari menekan kepala Dimas dengan tangannya agar dia tidak melihat ke arah kanan, maupun itu ke arah kiri.


"Diam lu bego! entar kalau tulangnya ngubah lagi emangnya elu mau apa?" ia berucap sembari menekan kepala Dimas supaya kepalanya berhenti melihat kesegala arah.


"Gue rela cium tangan elu dah Tan, daripada elu nyiksa gue seperti ini," ucapan Dimas hanya membuat Sultan tertawa lepas saja.


Ini adalah sebagian rasa dendam Sultan kepadanya dulu, karena sebelumnya dia pernah membantingkan tubuhnya di dalam ruangan bengkel sekolah hingga dirinya terbaring.


Sultan berkata dalam hatinya dengan cara meledek temannya itu tanpa dia ketahui. Dan sebenarnya Sultan merasa puas telah mendengarkan suara kesakitan yang sangat lepas itu.


Sultan telah menunjukan kekuatan yang sebenarnya kepada Dimas, mungkin saja sekarang dia paham untuk selalu menjaga sifatnya kepada seseorang pendiam seperti Sultan.


"Sebenarnya gua kagak tega, ketika gua denger suara elu yang sedang merasakan kesakitan seperti ini Dim," ucap Sultan berbohong, pada dasarnya ia merasa puas atas apa yang telah dia lakukan kepada temannya itu.


"Makasih Tan, pinggul gua udah baikan sekarang. Tapi, sebelumnya gimana cara lu bisa ngebenerin rasa sakit gue ini Tan?" tanya Dimas penasaran.


Sultan belajar hal itu dari ayahnya, ketika mana tangan Sultan patah, ayahnya lah yang selalu menolongnya.


Bukan hanya patah, tetapi pada saat dirinya terjatuh dari motor tuanya itu dulu, beliau lah sosok yang takan pernah meninggalkannya pada saat anak kandungnya sendiri menutupi rasa kesakitannya itu tanpa beliau ketahui penyebab sebenarnya apa.

__ADS_1


"Elu engga usah khawatir Dim, gue memang pernah belajar menangani masalah seperti ini dari ayah gua, bukan hanya dari dia, tapi dari Pramuka juga."


Dimas mengangguk dan mencium tangan Sultan, dikarenakan dia telah berjanji kepadanya akan mencium tangannya bila Sultan benar-benar bisa membuat rasa sakitnya hilang.


"Azmi, lihat foto ini, Dimas mengakui Sultan sebagai kakaknya sendiri di sini kepada kita," ucap Alamsyah memanggil Azmi sembari menunjukan foto yang tak sengaja dia ambil pada saat Dimas mencium tangan Sultan.


"Aww, soswit pake banget kalian dah," ucap Azmi tertawa ketika dia melihat foto yang ditunjukan oleh Alam.


Brukk ....


Suara tubuh Sultan menaiki tubuh Alamsyah, dan setelah itu Alamsyah tergeletak menahan tubuh Sultan, Dimas, Azmi, dan Wildan.


Tubuh Alamsyah sama seperti Iman, sahabatnya itu. Pantas saja kenapa dia berteriak menyuruh mereka berhenti menaiki tubuhnya yang tercepit di bawah itu, dikarenakan dia memang sudah tak tahan menahan rasa pengap ketika mereka menaiki tubunya yang tengah terbaring lemas itu.


"Woii, gue pengap Tan!" Alamsyah berteriak bukan karena kesakitan, melainkan dia hanya merasa setengah pengap saja.


"Susah bangun gue Lam! Dimas ada di atas gue," Sultan pun merasakan hal yang sama seperti Alam, namun Alam adalah orang yang paling tersiksa di dalam ruangan itu.


Azmi takan merasakan pengap, dikarenakan dia hanya ditindih oleh badan dari Wildan yang sama kecilnya seperti Azmi, dan Sultan.


Dimas terbangun dan membuat Azmi bersama dengan Wildan terhempas, serta terjatuh ke bawah lantai kosan.


"Aduhh ... gila lu Dim! kagak kira-kira kalau ngebantingin tubuh gue," ucap Azmi yang dibuat terbang melayang oleh bangunnya tubuh Dimas.


"Azmi ... kaki gue sakit ini," teriak Wildan yang sama terbang melayang seperti Azmi, namun kakinya sekarang tertindih oleh badan Azmi.


Mereka semua tertawa lepas menghilangkan semua beban dihidupnya. Hal ini yang membuat Sultan merasa betah karena adanya kebersamaan serta tawa canda yang takan pernah habis ditelan sedihnya, menahan jarak perhatian dari kedua orang tua dan kekasih hatinya di sana.

__ADS_1


Sultan baru sadar, kebersamaan ini membuatnya lupa bahwa dia harus menghubungi Rere kembali, walaupun sebelumnya Rere tak menyuruhnya, akan tetapi ini memang sudah menjadi keinginannya untuk berbincang berdua bersamanya kembali.


__ADS_2