
Pagi itu sekiranya pukul 03:40, di mana Sultan terbangun dari tidur terlelapnya. Dia tak langsung beranjak pergi dari baringannya itu walaupun Sultan telah sadar sepenuhnya, yang dia ingin lakukan sekarang hanyalah memastikan sosok bidadarinya telah terbangun dari tidurnya ataupun belum.
Sultan masih ingat bahwa SD cardnya masih terpasang di dalam headphonenya itu, lantas ia pun mencabut SD cardnya dan lalu memasang SD card tersebut kembali di handphonenya.
Pada saat dia menyalakan ponselnya, tiba-tiba dia melihat wanitanya sudah terbangun dari tidurnya sepagi ini, biasanya Rere akan terbangun setelah dia mendengar suara azan salat subuh, tapi sekarang ketika Rere menyadari bahwa Whatsapp Sultan telah aktif, dengan seketika dia pun menelepon Sultan.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara handphone Sultan menyala, namun dia sengaja tidak ingin menjawab panggilan tersebut secepat ini, hingga pada akhirnya panggilan telepon dari Rere itu pun mati dengan sendirinya.
Sultan tahu bahwa Rere pasti akan menghubunginya lagi apabila dia tak mendengar dan melihat Sultan menjawab panggilan telepon suara darinya itu terlebih dahulu.
Rere pasti akan mengira kalau Sultan sedang marah, namun apa yang tengah dia pikirkan itu tentunya salah. Sultan tidak marah, hanya saja dia sedang mengatur waktunya agar Rere yang mencari-cari dirinya sekarang.
"Angkat dong Be! gue mau ngomong sama lu, please lah dengerin penjelasan dari gue dulu, jangan asal berpikiran yang buruk-buruk tanpa elu mendengarkan alasannya seperti apa," ucap Rere sambil menghubungkan kembali panggilan teleponnya yang sempat terputus itu.
Sultan ke luar dari dalam ruangan sambil menyalakan rokok pertamanya di pagi hari yang cukup dingin ini. Tak lama setelah itu, Sultan pun duduk di depan teras kontrakan, dan di sanalah dia baru mau menjawab panggilan telepon suara dari Rere.
__ADS_1
"Baru juga gue nyalain handphone, elu udah main nelepon aja Be, tunggu dulu kenapa sih, handphone gue masih setengah sadar nih," ucap Sultan, di mana dia berbicara dengan menggunakan nada suara rendahnya.
Suara Sultan membuat Rere sadar, bahwa ternyata prianya tak sedang marah kepadanya, apalagi suara lembut itu sering Rere dengarkan disaat dia bertemu dengan Sultan.
"Untung aja kamu engga marah sama gue Tan, sebenarnya gue udah panik tadi tahu ga! maafin pacarmu ini ya, dikarenakan malam itu paketan data gue tiba-tiba abis," ucap Rere sambil mengela napas panjangnya.
"Engga ada untungnya bagi gue marah sama elu Re, lagian pacarmu ini udah tahu alasan elu mengabaikan gue semalaman karena sebab apa, makanya semalam gue buru-buru beli paketan data buat elu, gue cuma takut elu pergi dari dalam rumah hanya untuk mengikuti apa yang hati elu itu ingin berikan kepada gue ini Re,"
Ucapan Sultan memang benar, bila malam itu Sultan tak segera pergi membelikan apa yang tengah wanitanya itu inginkan, malam itu Rere akan pergi ke luar sampai dia benar-benar bisa mendapatkannya.
Apa yang Sultan ucapkan itu membuat Rere sadar dan paham, bahwa sebenarnya dia tak perlu memaksa waktu itu agar berputar kembali, dikarenakan waktu telah berjalan sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan.
....
Sultan selalu berkata kepada Rere, mau sampai kapan kita terus-terusan menuntut waktu agar waktu itu bisa berputar kembali ke arah yang tidak semestinya untuk dia lakukan, bila itu memang bisa apakah kamu akan memilih waktu yang berputar ketimbang kamu memilih waktu yang bergerak maju, maka pilihan kamu itu salah.
Mau sampai kapan ego menyuruhmu untuk melakukannya, padahal waktu yang berjalan telah menunjukan masa depanmu, tapi kamu tetap saja menginginkan waktu yang berputar, dan tanpa kita sadari bahwa apa yang kita inginkan itu hanya akan menunda-nunda masa depanmu sendiri.
__ADS_1
Itu adalah ucapan yang sering Sultan berikan kepada Rere, tapi entah kenapa dia melupakan hal itu, padahal Sultan sudah berbicara dengan sangat jelas kepadanya, jangan pernah mengharapkan yang takan pernah kamu dapatkan, dan anehnya Sultan malah mendengarkan lontaran kata yang tak ingin Sultan dengarkan.
"Andai saja waktu bisa berputar kembali ya, Tan, mungkin tadi malam gue engga akan membuatmu lama menunggu seperti ini," ucap Rere membuat Sultan tersenyum, padahal sebenarnya dia tengah kecewa melihat wanitanya menjadi lemah seperti ini.
"Apakah hanya karena rasa penyesalan itu elu menjadi selemah ini Be? jangan pernah mengharapkan waktu berputar ke arah yang tak semestinya untuk dia lakukan, tetap ubah masalahmu dengan waktu yang bergerak, dengan cara kamu berucap seperti itu tadi, tanpa gue sadari ternyata Rere gue masih sering mengharapkan hal yang dapat mengetahui bahwa Rere gue itu masih lemah."
Ucapan Sultan terdengar begitu tak asing ditelinga Rere, sepertinya Rere pernah mendengar ucapan tersebut, tapi itu entah kapan.
Rere kembali mengingat apakah Sultan pernah mengucapkan ucapan itu kepada Rere, dan tak lama kemudian ingatannya yang buruk itu membuat Rere sadar, bahwa ucapan itu adalah ucapan yang pernah Sultan berikan pada saat sosok penyemangatnya itu akan pergi meninggalkannya ke Tangerang.
"Iya Tan, maaf, gue lupa bahwa ucapan itu adalah ucapan yang engga ingin kamu dengarkan dari mulut gue ini, rasanya rindu membuat gue melupakan hal itu, tapi di sana elu benar-benar menjaga ucapan itu tanpa elu mau beranggapan hal yang sama seperti gue."
"Bila gue bisa mengubah takdir, bila gue bisa memutar balikan waktu, gue hanya ingin mengubah takdir itu untuk tetap terus maju saja serta terus mengajak dia bergerak hingga mana masa depan gue mulai terlihat bahwa elu adalah salah satu dari sekian banyaknya orang di muka bumi ini yang akan muncul di masa depan gue nantinya."
Rere tersenyum dengan lebarnya melihat Sultan bersungguh-sungguh mencintainya. Rere mengira ini hanyalah mimpi, namun pada saat dia mencubit pipinya, rasa sakit itu sungguh terasa sangat nyata.
Gemuruh angin mendengar Sultan, dan di sana Sultan baru bisa tersenyum, dan ternyata sang angin dapat merasakan perasaan Sultan yang sekarang ini seperti apa.
__ADS_1
"Seperti yang gue duga sebelumnya, di mana hari esok takan pernah sama dengan hari yang sekarang tengah gue rasakan ini, dan apa yang selama ini elu tertawakan itu semuanya adalah semangat gue, semangat yang takan pernah menghilang walaupun semua orang mengharapkan waktu yang bergerak mundur ke belakang," ucap Sultan dalam hati sembari menghembuskan perlahan asap rokoknya yang sekarang tengah dia nikmati itu.
Sultan menyuruh Rere untuk mematikan panggilan telepon suaranya, dikarenakan panggilan azan salat subuh telah dilantunkan dengan sangat merdunya.