Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 67 : Rumah keduamu


__ADS_3

Satu minggu telah berjalan, dan dua hari sebelumnya itu merukapan hari, yang di mana pertemuan itu hanya berjalan dengan sesaat saja, dikarenakan kebahagiaan yang menyangkut-pautkan tentang keluarga itu adalah suatu hal yang paling utama untuk dikerjakan dahulu.


Dan kali ini adalah masanya untuk Sultan memperkenalkan Rere bersama dengan kedua orang tuanya itu di sana. Dan tentunya hal itu merupakan suatu hal yang sungguh sulit untuk Sultan lalukan, dikarenakan Rere adalah tipe wanita pemalu, semuanya butuh waktu dan perlu melatih Rere dahulu, agar supaya dia bisa menjadi wanita yang lebih percaya diri lagi.


Dan terlebih, Sultan pasti akan sangat senang bilamana Rere bisa mengenal dan dekat dengan ibunya, ataupun dengan ayahnya juga itu di sana. Dan itu adalah suatu kebahagiaan yang hanya tinggal menunggu waktunya itu tiba sesaat lagi.


Pagi itu, tepatnya di hari Minggu, yang di mana Sultan akan mengajak Rere untuk pergi menemui orang tuanya itu di sana, dikarenakan ibu Sultan yang memaksa dirinya membawa Rere untuk pergi mengunjungi beliua di dalam rumahnya itu.


Sebelumnya hari itu, Sultan sempat mengajak Rere untuk pergi menemaninya joging pagi terlebih dahulu di sebuah tempat yang bernama Lapang Merdeka. Dan tentunya tempat itu akan nampak sangat ramai sekali bilamana hari Sabtu dan Minggu itu sedang menyapa mereka semua di sana.


Dan pagi itu, Sultan tak menjemput Rere di sana, dikarenakan mereka berdua pergi ke tempat itu hanya dengan menaiki angkutan umum saja.


Sementara itu, Sultan melihat Rere tengah duduk sembari menyantap bubur ayam yang bertempatan tidak jauh dari sekitaran jalan Odeon, dan tentunya Sultan pun menjahili Rere kembali, yang di mana ia memanggil nama Rere, namun kemudian itu ia pun lalu kembali menyembunyikan seluruh badannya itu di sebuah gerobak, yang mungkin gerobak itu tidak digunakan lagi oleh pemiliknya.


"Woii, lagi ngapai elu Re," ucap Sultan dari kejauhan.


"Emang kamu engga lihat apa Tan! kalau gue itu lagi makan? kenapa elu lama amat datangnya! gue nunggu elu di sini udah hampir satu jam lebih," ucap Rere sembari menoleh ke arah belakang, yang di mana ia pun lalu tersadar, bahwa di belakangnya itu tidak ada siapa-siapa di sana.


"Iya Neng, ada apa?" ucap tukang bubur itu, yang di mana ia mengira bahwa Rere sedang memanggil dirinya itu di sana.


"Ehh, engga Pak, engga ada apa-apa kok, saya kira tadi ada orang yang manggil nama saya, ternyata saya cuma salah dengar aja kali."

__ADS_1


"Ihh ... ini si Sultan bolot kemana dulu sih! kok, dia lama amat datangnya, dan udah itu jelas-jelas tadi gue denger suara dia di belakang, tapi kok, dia malah engga ada sih di sana," ucap Rere dalam hati sembari menatap handphonenya itu berkali-kali di sana.


Lantas, Sultan pun hanya tertawa ketika mana ia melihat Rere di tanya oleh tukang bubur itu, dan lalu ia pun mengirim sebuah foto hasil jepretannya itu sendiri kepada Rere, yang di mana itu adalah foto Rere yang dia ambil ketika Rere tidak menyadarinya di sana.


"Lagi ngapain di situ Re? gue ada di belakang elu nih, cepat ke sini, gue rindu nih sama elu," ucap Sultan sembari mengirimkan fotonya itu kepada Rere.


Rere pun lalu melihat Sultan ke arah belakang, yang di mana dia tengah menunggunya sembari bersandar manis, di sebuah gerobak yang sudah tak terpakai lagi itu di sana.


....


Suara langkah kaki yang sedikit agak terhentak itu, didengarkan kembali oleh Sultan, dan yang di mana suara langkah kaki itu seperti tak asing ketika ia dengar, dan tentunya suara langkah kaki itu adalah suara yang Rere berikan kepada Sultan, ketika mana pertama kalinya Sultan bertemu dengan Rere.


"Kangen kagak elu Re, sama gue?".


"Ngapain harus kangen! bukannya satu minggu kemarin, kita bertemu seperti biasa-biasa aja kan?".


"Ya, satu minggu kemarin itu kan gue cuma anter jemput elu aja Re, dan terlebih hari kemarin sekolah itu, engga seperti biasanya full day kayak gitu, jadi gue engga sempat bawa elu main ke mana-mana," ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere.


"Iya juga sih, yaudah deh Tan, gue kangen."


"Ngomong-ngomong, jaket sama celana kita samaan Re? apakah kita udah ngerencanai ini sebelumnya ya? gue nanya serius ini Re?".

__ADS_1


"Iya ya, gue baru sadar Tan."


Jaket merah dan celana olah raga khas sekolah itu, mereka kenakan bersama-sama, yang di mana seolah-oleh mereka berdua telah merencanakan itu sebelumnya, namun justru itu, mereka pun tak menyadarinya, dan kenapa mereka bisa satu paket seperti itu.


Tawa pun kembali berbunyi, senyum pun menyapa dengan hangatnya ditemani sang mentari pagi. Rasa yang ingin mereka rasakan ini telah kembali, dan apakah nanti Rere akan merasakan arti kata nyaman, bilamana ia menginjakan kakinya yang pertama kali di rumah Sultan itu nanti.


Sultan pun terus menatap wajah Rere di jalan sana dan ia pun terus merangkul bahunya itu, tanpa sedikit pun ia melepaskannya. Bukan tangan Rere yang ia penggang di jalan sana, melainkan bahunya yang ia pegang di sana dengan sangat erat.


"Elu disuruh pulang jam berapa sama mamahmu Re? soalnya kali ini gue mau ngajak elu kesuatu tempat, yang di mana tempat itu akan elu anggap seperti rumah elu sendiri di sana."


"Engga tahu Tan, mamah gue engga nanyain hal itu, kenapa emangnya Tan? terus tempat apa yang bakalan kita kunjungi lagi setelah ini?".


"Rumah gue Re, elu mau kan? kamu engga usah malu karena orang tua gue yang menyuruh gue untuk membawamu pergi ke sana."


"Iya Tan, gue mau."


Percakapan itu memang cukup singkat, namun hari itu takan mudah berlalu begitu saja, dikarenakan satu hari ini mereka akan mengunjungi dua tempat, yaitu Lapang Merdeka, yang di mana kali ini sedang mereka injaki sekarang, dan setelah itu adalah rumah Sultan, yang di mana nanti, mereka berdua akan memijaki rumah itu di sana dengan damai.


Dan kemudian itu, Sultan dan Rere pun lalu duduk di sebuah kursi tembok yang melingkari lapangan Merdeka itu di sana. Tempat itu sungguh sangat ramai, dan sehingga Sultan bersama dengan Rere pun lebih memilih untuk duduk saja sembari melihat ibu-ibu yang sedang bersenam di tempat sana itu.


"Aku tak bisa menatap mentari, aku tak bisa menatap rembulan malam karena di sini aku telah menatapmu, wahai kasih satu hatiku," ucap Sultan dalam hati sembari menatap Rere yang sedang tersenyum di sana.

__ADS_1


__ADS_2