Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 124 : Tempat terbaik untuk singgah


__ADS_3

Motor tua telah dimatikan dan diparkirkan oleh Sultan disaat dia telah sampai di depan rumah guru pembimbingnya itu.


Pak Mukhsin menatap tajam wajah Sultan, dikarenakan dia hanya datang seorang diri saja. Beliau pun memang sudah menunggunya dari awal, tapi dengan apa yang sekarang beliau lihat itu, sungguh membuat hatinya kecewa.


Sultan mengucapkan salam dan lalu mencium tangan beliau dengan begitu sopannya. Pak Mukhsin menggenggam erat tangan Sultan hingga wajah Sultan mengkerut kesakitan.


"Pada ke mana temanmu ini Tan!" ucap beliau membentak Sultan dengan mengeluarkan nada suara yang amat tinggi.


"Mereka masih di jalan menuju ke sini Pak, palingan beberapa menit lagi mereka akan segera tiba di rumah bapak," dengan penuh rasa percaya diri dia menjawab semua pertanyaan yang baru saja gurunya itu lontarkan kepadanya.


"Telepon mereka sekarang! disuruh kumpul aja susah! apalagi disuruh kerja beneran," ucap beliau dengan posisi badan tegak berdiri sembari meletakan kedua tangannya itu di atas dadanya.


Tak ada kontak, tak ada kabar, dan tak ada respons sama sekali yang masuk ke dalam handphonenya tersebut itu. Sehingga pada akhirnya Sultan pun mulai menghawatirkan, apakah keberangkatannya ini nanti akan dibatalkan olehnya.


Dia tak dapat membiarkan semua temannya itu masuk ke dalam masalah baru, yang di mana dia pun berdiam diri bukan karena dia tak sanggup untuk membela semua temannya itu, melainkan dia juga tengah mencari-cari alasan yang akan membuat gurunya itu mempercayai alasannya tersebut.


Pak Mukhsin menghela napas, dan Sultan pun ikut menghela napas juga bersama dengannya. Emosinya sudah mulai stabil, raut wajahnya sudah mulai berubah, yang di mana tadinya raut wajahnya itu mencerminkan sosok singa yang sudah siap menerkam mangsanya.


Tak silam beberapa menit waktu berjalan, suara raungan motor teman-temannya itu mulai terdengar jelas ditelinga Sultan. Raut wajah Sultan dengan seketika berubah, yang tadinya dia merasa bimbang akan menunggu kedatangan semua temannya itu di sana, sampai akhirnya mereka pun datang bersama-sama.

__ADS_1


Semua temannya itu datang dengan ditemaninya rasa takut, dan tentunya yang mereka takutkan itu adalah beliau akan memarahinya tanpa sedikit pun beliau memberikan rasa belas kasihan kepada mereka semua.


Yang jelas, mereka semua pun dimintai keterangan oleh Pak Mukhsin, kenapa bisa mereka semua datang tak tepat di waktu yang telah ditentukan sebelumnya, dan sementara itu kenapa Sultan bisa datang lebih awal mendahuli mereka semua, tentunya ini semua karena Rere, andai saja dia tak menemuinya kembali, mungkin Sultan pun akan bernasib sama seperti mereka.


Untung saja Pak Mukhsin hanya menyuruh mereka melakukan push up sebanyak 50 kali saja, dan ditambah dengan squat jump sebanyak 100 kali tanpa adanya jeda sedikit pun.


Huhh, huhh, huhh ....


Suara napas yang tak beraturan, kini mulai mengganggu konsentrasi mereka semua, lemas ada, namun sekarang apa yang bisa mereka lakukan! selain menuruti perkataan yang gurunya itu berikan kepada mereka semua.


Bukan hanya mereka saja yang ikut-ikutan dihukum, melainkan Sultan pun ikut terhukum juga, walaupun hukumannya itu tak terlalu berat, tapi tetap saja dia pun merasakan lelahnya juga.


Keringat mulai mengucur deras, serta denyut nadi pun mulai berdetak kencang, dan sementara Sultan duduk terdiam sambil menahan rasa ingin tertawa karena dia melihat muka Dimas memutih dan memucat.


....


"Ini adalah peringatan yang terakhir kalinya dari bapak untuk kalian semua, dan saya engga akan pernah mengulangi kata-kata ini lagi, jelas? camkan baik-baik!".


Pak Mukhsin sempat menghela napas terlebih dahulu, namun begitu menyebalkannya Sultan, yang di mana dia tengah meledek dan menertawakan semua teman-temannya itu, dikarenakan sebelum beliau memarahi mereka, dia sempat memarahi Sultan terlebih dahulu.

__ADS_1


Dan itu kenapa sebabnya Sultan tertawa, mungkin memang ucapan seorang guru selalu benar dan selalu mudah untuk dipahami bila seperti ini, tapi yang membuat Sultan tertawa itu bukan karena dia mengabaikan ucapan dari Pak Mukhsin, melainkan dia tertawa karena melihat raut wajah Dimas yang sudah mulai kelelahan, bahkan tangannya pun mulai bergetar.


Pak Mukhsin pun mulai menceramahi mereka kembali, dan hal yang Sultan tunggu-tunggu pun akhirnya telah tiba.


"Mulai dari sekarang bagaimana pun caranya kalian harus bisa bersikap lebih dewasa lagi, bapak engga suka melihat semua anak-anak asuhan bapak gagal nantinya di dunia kerja."


Setelah selesai beliau memberikan pencerahan kepada mereka semua, mereka pun mulai diperbolehkan untuk beristirahat dahulu dikamar yang berada di lantai dua.


Tubuh mereka kaku membatu, yang sekarang hanya bisa mereka lalukan itu hanyalah terbaring lemas. Dan sedangkan Sultan hanya bisa memijat-mijat bahu Dimas yang besar itu. Dimas pun nampak menikmatinya, namun dia hanya bisa memijat bahu dia saja, dan terlebih memang dia lah yang nampak lebih kelelahan ketimbang dengan teman-temannya yang lain di sana.


Pak Mukhsin pun mulai membicarakan keberangkatannya esok hari, yang jelas beliau hanya ingin mengabari bahwa pihak sekolah memperbolehkan beliau untuk meminjam mobil pribadi milik sekolahnya itu.


Dan lantas tak ada lagi yang harus diperbincangkan, maka dari itu, seluruh kawannya pun mulai kembali menyinggahi rumahnya itu masing-masing, namun ternyata semua kawannya itu berniat untuk mengadakan acara masak-masak terlebih dahulu, tapi Sultan menolaknya dan pastinya dia lebih memilih untuk bermain di rumah Rere saja bersama dengan adik dan juga ibunya.


Tidak ada tempat yang begitu nyaman untuk dia singgahi sebagai pelengkap rasa lelah, rasa rindunya selain di rumah kekasihnya itu di sana.


Kadang kala sunyi dan sepi selalu membelenggu, tak ada kata bosan mengucap kata itu, tak ada bosan-bosannya kata itu terus mengampiri kehidupannya, dan memang rasa itu selalu muncul disaat dia tak menatap senyuman indah yang selalu Rere berikan untuk menyemangati hari-harinya yang kelam.


Mungkin 3 Bulan ini Sultan tak dapat menuaikan rasa rindunya di sekolah, dan mungkin sekolah akan menjadi tempat tinggal yang kesekian baginya, dikarenakan ia akan selalu menyinggahi rumah kediaman yang pertamanya, dan tempat singgah yang keduanya itu berada di dalam rumah Rere.

__ADS_1


"Mungkin main di rumah mamah sebentar boleh juga ya, daripada gue pulang ke rumah gue sendiri, palingan ujung-ujungnya gue pasti bakalan tidur, kalau engga tidur palingan main gitar, membosankan!" ucapnya yang memang dari awal dia ingin mengunjungi dan bermain bersama dengan adik kecilnya itu, dan itu mungkin akan menjadi sebuah pengalamannya yang baru, mencintai Rere bersama dengan keluarganya akan terasa lebih indah.


Seperti biasa Sultan pun menyimpan motor tuanya itu di depan gang rumah Rere, berhubung gang masuk ke dalam rumah wanitanya itu sempit, jadi dia hanya bisa menyimpan motornya itu di luar ruangan rumahnya.


__ADS_2