
Masih di hari yang sama, yang di mana Sultan masih bersama dengan wanita malang itu di sana, ia berniat mengantarkannya pulang menuju ke rumahnya tersebut itu, dan di mana arah tujuan pulang Silvia dengan Sultan pun kebetulan sama-sama satu arah, jadi Sultan terlebih dahulu mengantarkannya pulang karena rumah Silvia lebih dekat dari arah jalan yang Sultan ambil waktu itu.
"Makasih udah nganterin saya pulang ya, dan maaf kalau saya udah ngerepotin Sultan seperti ini," ucap Silvia.
"Santai aja, dan lagian arah jalan pulang kita juga sama-sama lewat sini kok, jadi sekalian lewat aja."
"Kapan-kapan mampir ke rumah ya, biar saya kenalin sama orang tua saya bahwa Sultan adalah orang yang pernah nolongin saya waktu itu."
"Isyaallah, kalau ada waktu saya datang ke rumah ya."
"Kalau mau mampir ke sini, jangan lupa barengan sama pacar Sultan ya, biar nanti saya ceritain, seberapa baik dan seberapa harus pacar Sultan mencintai cowoknya ini."
Sultan pun lalu tersenyum ke arahnya, ia pun lalu pergi meninggalkannya di sana, dan sebelum itu Sultan pun sempat melambaikan tangannya itu kepada Silvia, dan lantas Silvia pun membalas lambaian tangan Sultan itu di sana sembari tersenyum, ketika mana Sultan telah menjalankan motor tuanya tersebut.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.
Telepon Sultan pun tiba-tiba menyala, dan ia pun lalu menepikan motornya itu terlebih dahulu, padahal ia baru menjalankan motornya tersebut hanya beberapa meter saja di jalan sana tadi, dan tahu-tahunya Rere pun menelepon Sultan sembari memarahinya.
"Kemana aja sih elu Tan? gue nungguin elu dari tadi juga dih! elu lagi main ya, sama cewe lain hah!" ucap Rere.
"Emang iya, tungguin gue pulang dulu, nanti gue jelasin sama elu ya, dan elu jangan marah nanti, gue mau jujur sama elu oke, sabar ya, Be."
Sultan pun seketika mematikan telepon dari Rere, dan ia pun lalu kembali menjalankan motor tuanya itu di jalan sana sembari tersenyum-senyum sendiri, melihat sikap perhatian dari Rere, begitu besar dia berikan kepadanya.
Tak silam beberapa lama Sultan menjalankan motornya itu, ia pun lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, dan sehingga ayahnya pun merasa heran! kenapa ia pulang secepat ini, apakah ia kembali membolos, ataupun ia kembali menjadi siswa nakal lagi, setelah apa yang pernah ia terimai konsekuensinya itu di sekolahannya tersebut.
Ia adalah siswa nakal, yang di mana ia pernah menerima surat dari sekolah untuk mengikuti pembinaan, yang di mana Sultan harus mengikutinya bilamana ia ingin naik kelas, bila ia tak mengikutinya, maka ia tidak akan naik kelas dan akan tetap tinggal di kelas 10.
__ADS_1
Waktu itu, Sultan juga tidak sendirian, dan bahkan teman-teman sekelasnya pun ada yang mengikuti pembinaan itu juga sebagian, dan selepas itu ditambah lagi dengan siswa dari kelas lain juga ada, bahkan jumlah mereka lebih banyak kala itu.
Kenakalannya itu, seketika berubah karena adanya Rere yang menemaninya di sana, yang mencintainya di sana, dan bahkan Rere pun sering melindungi dirinya, dan tentunya itu adalah prinsip Rere, yang di mana Rere tidak ingin terus-terusan membebani Sultan karena ia pun bisa menjadi wanita yang berjiwa seperti Sultan.
....
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon kembali menyala.
Setelah Sultan tiba di rumahnya, ia pun lalu segera menelepon Rere karena ia ingin berbicara suatu hal kepadanya, dan tentunya hal itu akan membuat Rere kecewa, ataupun akan membuat Rere merasa tidak bisa mempercai omongannya tersebut itu di sana.
"Tunggu sebentar, gue mau ke kamar mandi dulu Re," ucap Sultan tergesa-gesa.
"Jangan lama-lama!".
"Jangan mancing-mancing mulu! emang gue lama-lama di kamar mandi mau apa? jangan aneh-aneh lu bolot!" ucap Sultan yang seketika berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Ini anak kenapa sih! engga jelas amat!" ucap Rere di sana berbicara sendiri ketika melihat tingkah laku Sultan yang seperti itu kepadanya.
"Tan, kenapa udah pulang jam segini?" ucap ayahnya.
"Jangan mancing-mancing! udah kebelet ini," ucap Sultan yang masih berlari masuk ke dalam kamar mandinya itu di sana.
Ayahnya pun sempat melihat kalender, yang di mana ia melihat kalau hari ini adalah tanggal merah, dan kembali lah ayahnya itu dibuat bingung olehnya! kenapa ia masuk sekolah di hari libur, apakah ia lupa, dan tentunya ayahnya pun membiarkannya karena ia merasa sangat senang, ketika mana beliau melihat Sultan telah berubah menjadi seorang anak yang lebih baik lagi dari pada waktu sebelumnya.
"Ada apa Pak?" ucap Sultan sembari menarik resleting celananya itu di sana.
"Kenapa kamu masuk sekolah? ini kan hari libur."
__ADS_1
"Lupa Pak! maklum lah ... anak muda," ucap Sultan sembari tertawa.
"Kebalik Tan, seharusnya yang muda bisa lebih lupa."
"Sama aja Pak! aneh bapak ini ah."
Ayahnya pun lalu tertawa bersama dengan Sultan, dan lantas Sultan pun lalu kembali masuk ke dalam kamarnya itu di sana. Dan sementara itu, handphone Sultan masih menyala, dikarenakan Rere belum mematikan teleponnya itu karena ia sungguh sangat setia menunggu prianya tersebut di sana.
Sultan pun seketika melompat sembari terbaring di kasur kamarnya itu, dan lantas Rere pun kembali bersuara, namun waktu itu Sultan membiarkan Rere menunggunya lebih lama lagi di sana.
"Tan, kamu udah ada di kamar?" ucap Rere yang ingin memastikan bahwa Sultan sudah berada di dalam kamarnya tersebut.
Sultan pun masih belum menjawab panggilannya itu. Ia pun di sana tertawa tanpa bersuara, dan seketika Rere berbicara lewat panggilan suara itu bahwa dia menunggunya datang lama sekali.
"Suara apa itu? Tan, jangan bercanda! kemana sih elu? kebiasaan dah elu mah suka ngilang gitu aja," ucap Rere.
"Apaan sih Re? sabar kenapa Re," ucap Sultan sembari tersenyum.
"Elu mau bilang apa? cepet bilang!".
"Gue tadi lagi jalan sama cewe cantik, tapi bukan untuk pergi bermain sama dia, melainkan gue hanya sekedar mau nolongin dia aja karena dia baru aja ditinggalin sama mantan pacarnya di jalan sepi sendirian," ucap Sultan berkata jujur kepada Rere.
Tutt, tutt ... seketika Rere pun mematikan telepon dari Sultan.
"Kamu ke sini cepat!" ucap Rere kepada Sultan lewat ketikan.
"Alah ... dia mah cuma mau nguji gue aja! dan selepas itu gue disuruh pergi ke sana hanya cuma dia mau nampar gue aja! selepas itu dia nyuruh gue untuk pulang kembali," ucap Sultan dalam hati.
__ADS_1
Selepas itu, Sultan pun lalu bergegas pergi kembali menuju rumah Rere di sana, dan tentunya ia pun tak mau banyak bertanya karena ia sudah mengetahui tujuan Rere itu seperti apa nantinya.
Dan setelah Sultan mengganti bajunya itu, kemudian ia pun lalu kembali menjalankan motor tuanya tersebut dengan segera karena hari sudah mulai semakin sore saja.