
"Gue bukan sosok pria yang bisa dengan mudahnya membaca isi dalam hati seseorang Re, lagian siapa juga yang mau membaca isi hatimu yang penuh akan dendam-dendammu itu kepada gue Re," ucap Sultan terlihat agak sedikit gugup.
Sebenarnya Sultan memang sengaja mengalihkan poko pembicaraan yang sangat membosankan untuk didengarkan itu, tidak lebih supaya Rere dapat mengganti poko pembahasan tersebut ke yang lebih asik untuk didengarkan, misalnya seperti berbincang sambil bercanda dan tertawa dengan lepasnya.
Namun, Rere terdiam dengan tatapan kejam, mata Rere melotot sembari membayangi raut wajah Sultan, yang di mana bila nanti dia bertemu dengannya, Rere sudah siap menerkam dan memangsa Sultan.
"Gue lagi engga mau diajak bercanda Tan! sumpah, mendingan elu cepat ngomongnya," ucap Rere dengan singkatnya, yang tak mau banyak bertanya lagi kepadanya.
Ucapannya yang sangat singkat itu, dengan seketika membuat Sultan terdiam, bagaimana bisa? dikarenakan nada suara Rere terdengar agak sedikit lantang, yang penuh akan rasa kekesalannya itu terhadap Sultan.
Hingga pada akhirnya, Sultan pun lebih memilih untuk mengalah saja kepada Rere. Dia menjelaskan apa ucapan yang ingin Rere dengarkan langsung dari mulut prianya itu.
"Sebenarnya gini Re ... ," Sultan menunda ucapannya dan membuat Rere semakin penasaran saja.
"Lama amat dah elu Tan!" ucap Rere yang memang dia sudah tak mau diajak bercanda lagi.
"Susah ya, kalau udah begini, yaudah iya Re, gue jelasin semuanya sama kamu dah, tapi sebelumnya gue mau minta elu senyum terlebih dahulu ya."
Semakin lama Sultan menyembunyikan rahasia pribadi miliknya itu dari Rere, maka dia pun akan semakin bertambah marah saja kepada dirinya.
Lagian sifat Sultan itu terlalu menyebalkan, alhasil Rere pun mengancamnya bahwa dia akan menutup teleponnya bila Sultan masih saja mengulur waktunya.
Sultan menelan ludah, itu tandanya ia sudah siap menjelaskan semua rahasia yang ingin Rere dengar sebelumnya dari mulut prianya itu.
"Sebenarnya semua orang juga bisa Re, dan semua orang juga mampu membaca isi hati seseorang dengan cara menatap tajam matanya saja," ia menjeda ucapannya sesaat sembari menghela nafas terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kalau kamu menganggap bahwa pria menyebalkan seperti gue ini memiliki kekuatan tersembunyi, maka dari itu kamu salah Re ... tapi, bilamana kamu menganggap bahwa kekuatan itu adalah kekuatan cinta, maka bisa dibilang kamu benar Re."
Itu adalah ucapan dan kata terakhir dari Sultan yang membuat Rere terdiam. Rere sama sekali tak bisa membela dirinya sendiri, dikarenakan dia sudah mengetahui semua penjelasan dari Sultan.
Sultan menjelaskan semua ucapan yang ingin Rere dengar dengan sejelas mungkin, agar dia bisa mempercayai bahwa kekuatan itu hanyalah sebatas kekuatan cinta saja.
Setelah Sultan menjelaskan semua arti dari kekuatan membaca isi hati seseorang yang sebenarnya itu, tak lama kemudian suara alarm peringatan Perusahaan pun telah berbunyi.
Berarti itu tandanya Sultan sudah harus kembali melaksanakan tugas prakerinya di sana. Sebelumnya Rere juga sempat mendengarkan suara alarm dari Perusahaan tersebut.
Dan lantas dia merasa sebagai wanitanya yang paling pengertian terhadap pacarnya itu pun lalu membiarkan Sultan untuk mematikan panggilan telepon suaranya terlebih dahulu.
Namun, Sultan tak sempat mendengar ucapan dari wanitanya itu, dan tentu saja dengan cepatnya ia memasukan ponselnya tersebut ke dalam saku celananya.
"Sebenarnya gue masih marah ya, Tan, sama kamu, tapi berhubung gue itu adalah wanita yang paling pengertian terhadap pacarnya, jadi gue memaafkan elu, dan menyuruh elu untuk mematikan panggilan suara ini lebih dulu," ucap Rere berbicara seorang diri.
"Dih, kok, elu malah diam sih Tan! apa jangan-jangan elu mau marah sama gue ya? masa baru segitu udah marah aja sih Tan," Rere masih belum sadar, bahwa sekarang dia tengah berbicara seorang diri seperti orang gila di sana.
....
Sebelumnya Sultan sempat berpikir, mungkin Rere lah yang akan mematikan panggilan telepon suaranya itu terlebih dahulu, sesudah dia meminta izin untuk pergi melakukan aktivitasnya itu kembali di sana.
Dan jadi, maka dari itu kenapa Sultan mengabaikan semua ucapan dari Rere, dikarenakan dia pun tak menyadari hal itu benar-benar akan terjadi.
Padahal Sultan sempat berbicara kepadanya sebelum dia pergi meninggalkannya, atau jangan-jangan Rere memang sengaja ingin berbincang lebih lama lagi bersama dengan Sultan.
__ADS_1
"Ini anak emang rese ya! gue kira dia masih ada di sana ngedengerin gue ngomong. Awas aja kamu Tan! gue tungguin sampai elu benar-benar sadar, bahwa panggilan suara telepon ini masih belum gue matikan," ucap Rere, yang di mana hari ini dia akan mendengarkan semua perbincangan Sultan bersama dengan para karyawannya di sana.
Sultan bekerja seperti biasa, namun kali ini ia benar-benar diawasi oleh Rere, untung saja Aisyah sedang mengerjakan tugasnya bersama dengan karyawan pendampingnya di sana.
Ada masanya Sultan menceritakan hal ini kepada pacarnya itu nanti, dan yang jelas mungkin bukan sekarang. Agaknya ia akan menjelaskannya langsung di hadapan Rere saja supaya Rere bisa menatap raut wajah keseriusan Sultan.
Bang Boa sempat bertanya kepada Sultan, apakah dia mendengar suara raungan motor di dalam sana, lantas ia pun menjawab sama, tapi mereka masih belum mengetahui letak suara tersebut datangnya dari mana.
"Elu denger suara raungan motor kagak Tan? perasaan dari tadi suara itu malah makin bertambah nyaring dan ramai aja dah," ucap Bang Boa mulai merasakan ada sesuatu hal yang ganjil di dalam Perusahaan tersebut.
"Iya juga ya, Bang, perasaan dari tadi suara itu meraung-raung tanpa henti, atau jangan-jangan itu adalah suara setan yang lagi belajar mengendarai motor ya?" tanya Sultan kepadanya sembari terheran-heran.
Suara itu sebenarnya berasal dari handphone milik dirinya sendiri, yang di mana Sultan belum menyadari bahwa suara panggilan dari Rere masih terhubung tanpa ia melihatnya terlebih dahulu.
"Jangan nakut-nakutin gue lu Tan! kita lagi berdua nih di dalam sini, udah itu si Falah belum juga datang lagi," Bang Boa mulai memperlihatkan sifat penakutnya itu kepada Sultan.
Waktu itu, ruangan Produksi sangat hening, pintunya tertutup dengan rapat, dan mungkin mereka semua sudah selesai ataupun masih ada yang beristirahat di luar sana.
Sultan dan Bang Boa sempat pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan alasan ingin mengecek barang-barang yang akan mereka bawa ke dalam ruangan Produksi nantinya.
Wushh ....
Suara angin berhembusan tepat berada di hadapan wajah mereka sekarang. Suara telepon yang masih berbunyi itu pun dengan seketika memperlihatkan keangkeran tempat tersebut.
Dengan seketika, Bang Boa berlari ke luar ruangan pada saat dia menyuruh Sultan untuk menyimpankan kardus yang berisikan sebuah kabel plexible, yang memang waktu itu mereka berdua tengah menghitung jumlah kabel tersebut di dalam sana.
__ADS_1
"Aih ... ke mana Bang Boa? jangan-jangan ... ," dengan seketika ia pun berlari ke luar dari dalam ruangan gudang tersebut untuk mengejar Bang Boa yang sungguh penakut itu.