
"Cantik banget kayaknya dia ya, Tan, sampai elu masih saja mengingatnya hingga saat ini," ucap Rere terlihat biasa-biasa saja dalam merespon ucapan Sultan itu.
"Engga ada yang bisa mengalahkan cantiknya salah satu dari ke tujuh bidadari surgaku Re, yaitu kamu salah satunya di sini," ucap Sultan yang membuat Rere berhenti dalam memandangi foto nostalagia prianya itu di sana.
"Ibumu engga termasuk apa Tan?".
"Ibu gue adalah malaikat yang Allah kasih untuk gue Re, beliau mungkin dapat mengalahkan kecantikan wanita mana pun di Dunia ini."
Sultan kembali membuat Rere tercengan kagum, Rere merasa ucapan Sultan itu dapat membuat dirinya percaya, bahwa dia mencintainya setulus yang Rere harapkan sebelumnya.
Mengapa Sultan tak lama hadir dihidupnya, mengapa Sultan tak mendekatinya dari dulu, mungkin bila dia mengenal Sultan dari dulu, Rere takan pernah merasakan apa arti dari rasa kekecewaan.
Itulah yang tengah Rere pikirkan sekarang, namun dia tak dapat mengungkapkan ataupun memberitahukan pikirannya itu kepada Sultan, mungkin dia mengira Sultan akan mengetahui pikirannya tersebut, tapi tentunya Sultan sama sekali tak mengetahui apa yang tengah dia pikirkan.
Sultan tuli, kali ini dia hanya bisa merespon kebahagiaan Rere saja, entah kenapa sekarang ia pun terdiam tanpa dapat menebak apa yang tengah Rere pikirkan.
Raut wajah Rere sama sekali tak terlihat seperti orang bingung, senyumannya memudarkan pengetahuan Sultan, pantas saja Sultan tak dapat menebak isi hatinya sekarang, mungkin nanti setelah mereka berpisah, Sultan dapat melihat ataupun menebak isi hatinya itu kembali.
"Elu cantik banget Re, kalau tersenyum kayak begini, coba aja lu setiap hari seperti ini Re, mungkin hati gue bakalan selalu tenang, meskipun jarak sedang memisahkan kita di sini," gombalan Sultan sekarang tak membuat wajah Rere menepi dari wajah Sultan, yang ada sekarang Rere malah ikut memandangi wajah Sultan dan sesekali tersenyum lebar kepadanya.
"Lagi dong Tan, gue pengen lihat apakah sikap manismu ini masih tertanam dalam dirimu," ucap Rere begitu tenangnya sembari menutup album foto nostalagia Sultan.
"Ogah ah! sekarang elu tahan banting dengan gombalan gue ini, jadinya gue males Re!".
__ADS_1
"Jangan mulai!" seru Rere sembari mencubit paha Sultan sekeras yang dia bisa lakukan.
Sultan menahan rasa sakit itu, dan malahan dia berucap bahwa cubitannya terasa lebih manja sekarang, rasa sakitnya pun tidak berasa apa-apa biladibandingkan dengan cubitan kerasnya yang lalu.
Rere tak dapat mencubit keras paha Sultan lagi, dikarenakan itu sudah cubitan terkeras yang dia berikan kepada Sultan.
Sultan meminta izin ke luar ruangan untuk memanggil ibunya yang tengah asik berbincang bersama dengan neneknya.
Namun, itu hanya alasan Sultan saja, yang di mana ia hanya ingin mengusap pahanya yang sempat Rere cubit itu saja.
"Ternyata pura-pura kuat itu engga enak juga ya, lagian itu si Rere nyubitnya kagak kira-kira! udah tahu sakit malah dia ditambah lagi rasa sakitnya," ucap Sultan dalam hati dengan dielus-elus keras pahanya itu di luar ruangan.
Rere menunggu cukup lama, kira-kira ada satu menitan, namun entah kenapa Sultan tak kunjung datang. Tak lama setelah itu, hingga pada akhirnya Sultan pun mulai bisa masuk ke dalam ruangan setelah rasa sakitnya menghilang.
"Ke mana aja sih kamu Tan? lama amat perasaan, lagian rumah ibumu sama nenekmu menyatu juga kan? tapi kenapa kamu lama banget dah sumpah," ucap Rere tak menyadari bahwa Sultan tidak ada niatan untuk memanggil ibunya, melainkan dia hanya ingin mengelus-elus pahanya saja di luar ruangan.
Sultan terduduk dengan paha yang kaku, paha sebelah kanannya seperti mati rasa, bahkan saat Rere menepuk keras pahanya itu pun sudah tak dapat merasakan apa-apalagi.
Sultan tetap terlihat santai, ia hanya takut Rere akan meledeknya bila dia membicarakan hal yang sebenarnya itu apa kepadanya.
"Perasaan elu takut amat dah kalau gue tinggal lama-lama Re, padahal sepuluh detik pun engga ada Re, ternyata sifat manjamu ini masih ada aja ya," ledek Sultan yang membuat Rere mencubit kembali pahanya di dalam sana.
"Bukannya takut, tapi gue kagak enak kalau harus diam di rumah kamu seorang diri, takutnya orang nyangka gue yang aneh-aneh lagi Tan."
__ADS_1
"Ya, elu emang aneh Re."
"Ihh, didiemin kok, malah makin rese ya, kamu Tan!".
Rere menarik pipi Sultan hingga kepalanya terbaring di atas paha Rere. Ia memegang kedua pipinya sembari meminta Rere melepaskan cubitan di pipi kanannya itu sesegera mungkin.
"Aduh, duh, duh sakit Re! lepasin kagak!" ucap Sultan yang nampaknya tak begitu merasakan sakit dipipinya, malahan ia nampak senang bisa kembali merasakan nyamannya terbaring di atas paha Rere.
"Abisnya kamu rese sih Tan! makanya jangan rese coba, udah tahu besok elu berangkat lagi ke Tangerang," ucap Rere mulai melepaskan pipi Sultan.
Sebenarnya itu adalah teka-teki untuk Sultan, yang apakah dia dapat menebak semua teka-tekinya itu dengan lancar.
"Engga ada hubungannya rese sama keberangkatan gue nanti Re, elu mah cuma engga mau melihat sikap yang dapat membuatmu merindukan gue lagi kan?" tanya Sultan dengan dipengangnya pipi sebelah kanannya itu.
Rere terdiam, dia merunduk tanpa mau melihat Sultan sedikit pun di dalam sana. Lantas Sultan pun mengikuti Rere merunduk, namun tundukannya itu dibarengi dengan sandaran di paha Rere, yang di mana ia menaruh keningnya dengan manis di atas paha wanitanya.
Sultan berucap kata kepadanya tanpa sedikit pun ia menatap wajah Rere, dikarenakan ia pun sama dengan Rere yang sama-sama tengah merunduk di dalam sana juga.
"Takan ada waktu yang dapat mengulangi semua pertemuan kita di Dunia ini Re, kalaupun bisa mungkin gue hanya ingin satu, yaitu bertemu dengan dirimu seawal mata gue melihat raut wajah ibu gue untuk pertama kalinya pada saat gue dilahirkan di Dunia ini," ucap Sultan mulai membuat Rere menatap dirinya.
Rere mentap Sultan sembari menundukan wajahnya itu, dikarenakan Sultan pun tengah mengikuti dirinya merunduk juga, namun tundukan Sultan sekarang jauh lebih nyaman untuk dirasakan sebelumnya.
Lagi-lagi Rere dibuat tercengang kembali oleh Sultan, dan sekarang apa yang dia harapkan dari dulu memang beriringan sama dengan Sultan.
__ADS_1
"Tan, apa yang kamu ucapkan itu adalah hal yang aku inginkan juga sejak lama, namun pertemuan tak dapat kita duga sebelumnya, dan yang jelas kali ini aku udah bersama denganmu di sini," ucap Rere mulai membangkitkan tundukan Sultan.
Sultan mengelus hijab Rere sembari sesekali mencubit pelan pipinya. Setelah itu Rere menyandarkan kepalanya di bahu Sultan, kurang lebih dia pun sama ingin meraskan betapa nyamannya terlamun bersama dengan sang kekasih hatinya di bumi ini.