Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 295 : Mengungkit sebuah hal


__ADS_3

"Aihh ... bukan gitu Tan, hanya saja para cowok itu memang lagi malas aja berkelahi dengan pacar-pacarnya sendiri, dan sebenarnya para cowok itu merupakan makhluk yang paling pengertian loh di muka bumi ini, coba elu bayangin aja dah Tan, betapa sabarnya para cowok menahan amarah yang ingin mereka lepaskan, dan bilamana hal itu terjadi elu tahu sendirikan resiko yang akan mereka hadapi seperti apa nantinya."


Penjelasan Alamsyah cukup panjang, namun ucapannya itu sama sekali tak dapat Sultan benarkan, dikarenakan hal yang perlu mereka lalukan terhadap pacarnya sendiri di sana tidak lain hanyalah mengalah dan berbicara jujur apa adanya.


Prinsip Sultan menjadi cowok yang baik itu kurang lebih seperti itu, tapi sangat disayangkan mengapa teman-temannya masih sering melakukan cara tersebut hanya untuk menjauh dari masalah.


"Sebenarnya kalian itu baik, tapi sayang ya, kebaikan itu hanya bersifat sementara saja, dan setelah itu elu semua dengan begitu mudahnya memutar balikan faktanya sehingga pacar kalian dapat mempercayai ucapan-ucapan busuk dari kalian itu."


"Cara yang kalian lakukan bisa diibaratkan dengan perseligkuhan, sebenarnya ini bukan tentang perselingkuhan sih, melainkan lebih mengarah ke arah menduakan."


"Misalkan elu sangat mencintai pacar kalian, namun kalian tanpa sengaja melihat dia sedang bermain dengan pria lain, udah itu mereka pada pegangan tangan lagi, dan sebenarnya yang lebih menyakitkan lagi dia dibuat tersenyum dengan begitu lebarnya oleh pria lain."


"Pacar gue pernah bilang tentang rasa sakit dibohongi oleh pacarnya sendiri seperti apa, dan tentunya hal yang gue ucapkan tadi adalah contoh rasa sakit yang dapat mereka rasakan di sana."


Setelah Sultan memberikan pemahaman kepada mereka, lalu dia pun membakar satu batang rokok yang terakhirnya untuk dia nikmati di depan teras sana. Teman-teman Sultan semuanya terdiam, dia tak mengetahui diam mereka itu dikarenakan mereka merasa malu ataupun dikarenakan hal yang lain lagi.


Tak lama kemudian Dimas pun ikut bergumam, namun gumamannya itu bukan untuk menyamakan pemikiran semua rekan-rekannya di sana, melainkan dia bergumam dikarenakan dia ingin menanyakan mengapa Rere tak terlihat takut bilamana perkelahian Sultan akan terjadi lagi di malam nanti.

__ADS_1


"Udahlah Bre, sebenarnya ucapan Sultan benar, hanya saja elu engga pernah bisa mengertikan perasaan pacar kalian sendiri di sana, lagipula Sultan udah terlanjur berbicara jujur sama pacarnya, dan alhasil elu semua bisa melihatnya sendirikan bahwa Sultan tersenyum-senyum sendiri dikarenakan kejujurannya dapat dipahami oleh wanitanya."


"Dan sebenarnya gue juga lagi bingung ini Tan, kenapa bisa pacar elu itu engga mau memarahi elu, apa mungkin dia hanya sedang menunda waktunya sampai mana waktunya telah tiba," tanya Dimas, di mana kebingungannya itu ternyata masih saja melekat di dalam hatinya.


Sultan menghembuskan perlahan asap rokoknya sembari tersenyum lebar di depan sana. Pertanyaan Dimas membuat sosok Sultan mengingat kenangannya ketika mana dia tengah dipukuli oleh para brandalan di tepian pantai Pelabuhan Ratu.


Bila mengingat masa itu, Sultan berpikir bahwa Rere takan pernah mau memarahinya ketika mana dia melihat pria tangguhnya terluka, apalagi Sultan dibuat terluka oleh orang yang tak Rere kenali, rasanya hal itu dapat membuat hati Rere hancur hingga berkeping-keping.


Dan itu sebabnya kenapa Sultan berani berbicara jujur di hadapan Rere langsung, tidak lain dikarenakan sebab Sultan sudah mengetahui arahnya akan berjalan ke arah mana.


....


"Saat itu kurang lebih setelah gue selesai melaksanakan salat zuhur di dalam mesjid, di mana dengan seketika salah satu dari brandalan yang sempat beradu argumentasi di jalan menuju ke Pelabuhan, tiba-tiba saja mereka datang dan langsung menghajar gue dari arah belakang."


"Seperti yang kalian ketahui, bila keadaan mereka sudah bisa dibilang terdesak, mereka pasti akan selalu memanggil teman-temannya yang lain, dan di sana gue dihajar habis-habisan sampai Rere gue nangis."


Sultan menceritakan pengalaman terburuknya pada saat dia bermain bersama dengan Rere kepada semua rekannya di sana. Sebenarnya mereka semua sudah mengetahui masalah itu, namun Sultan masih ingin mengungkitnya dikarenakan temannya yang bernama Dimas itu begitu penasaran dengan alasan mengapa Rere lebih memilih membiarkan Sultan berkelahi bersama dengan para brandalan itu lagi.

__ADS_1


"Bukannya waktu itu elu pernah bilang ya, Tan, setelah elu pulang dari Pelabuhan Ratu si Rere juga sempat memukul wajah elu juga, padahal gue tahu tuh kondisi elu pastinya tidak sedang baik-baik saja," ucap Alam, di mana dia pun benar-benar membingungkan hal itu.


"Waktu itu guenya aja yang terlalu rese Lam, dia memang sosok wanita yang seperti itu, dia juga memang engga pernah mau melihat gue sebagai pacarnya berpura-pura terlihat kuat di hadapannya ketika mana kondisi gue benar-benar tak bisa dibilang baik-baik saja."


"Dan setelah Rere memukul pipi kanan gue hingga membiru, dia pun lalu memperhatikan gue kembali sambil mengusap pelan pipi kanan gue."


"Kalau misalkan yang jadi pacar elu itu adalah gue Tan, gue engga akan pernah melakukan hal tersebut meskipun elu terlihat rese sekali pun," ucap Azmi membuat Sultan geli.


"Ihh ... siapa juga yang mau jadi pacar elu Mi! bahkan kata dari misalkan itu engga akan pernah gue bayangkan, sebagaimana sikap kasar Rere, gue akan tetap memilihnya hingga gue memilikinya seutuhnya."


"Haha, mampus lu Mi! lagian elu ini kayak engga ada kata yang lain aja dah selain membayangkan hal yang engga akan pernah terjadi itu, engga logis pemikiran elu itu Mi! yang ada geli gue dengerinya," ucap Wildan membuat Sultan tertawa tipis.


"Mulai dari sekarang lebih baik kita menjauh aja dari Azmi, soalnya gue takut bilamana nanti dia akan mencintai sesama teman prianya lagi, ihh ... ngeri ya," ucap Alamsyah, di mana sedikit demi sedikit dia pun menjauhi Azmi.


Sultan pun memikirkan hal yang sama seperti Alamsyah, yang di mana sedikit demi sedikit dia juga menjauhi Azmi, dan lalu setelah itu dia pun membuang rokoknya dikarenakan rokoknya sudah habis hingga kepuntungnya.


Malam ini merupakan malam yang sangat menyesakan bagi sosok Sultan, dikarenakan dia telah membuat wanitanya bersedih di sana.

__ADS_1


Sultan baru sadar, ternyata telepon dari Rere masih belum dia matikan, untung saja Sultan tak membicarakan hal yang aneh-aneh bersama dengan temannya, jadi dia tak perlu mengkhawatirkan hal yang lain selain memikirkan apakah Rere baik-baik saja di sana.


"Ohh, jadi selama ini Azmi mau ngambil Sultan gue ya, pokoknya awas aja lu ya, Mi! bila hal itu terjadi, gue engga akan segan-segan untuk menghabisi sisa umur elu itu di sana," ucapan Rere dengan seketika membuat semua temannya terkejut.


__ADS_2