Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 174 : Senyuman


__ADS_3

"Jalan-jalan lagi yu, Re, sekarang mainnya pake motor tua gue," ajak Sultan yang masih belum puas menghabiskan waktunya bersama dengan Rere.


"Mau main ke mana lagi sih Tan?" tanya Rere penasaran.


"Ada deh, pokonya kamu bakalan suka dah, nanti setelah pulang dari sana, gue mau langsung bawa lu pulang ke rumahmu."


Rere menyetujui ajakan dari Sultan, mereka berdua pun lalu bangkit dari duduknya. Rere mencium tangan ibu Sultan, lantas beliau pun lalu memeluk tubuh Rere untuk yang terakhir kalinya.


Ibu Sultan mengucapkan beberapa patah kata kepada Rere, dan ucapannya itu sungguh membuat Rere merasa sangat senang.


"Mah, Rere mau pamit dulu ya, insyaallah nanti Rere main lagi ke rumah mamah," ucap Rere dengan lembutnya.


"Hati-hati ya, sayang, nanti kalau Sultan engga bener ngendarain motornya Rere bisa pukul dia sekeras yang Rere mau," ucapan beliau sungguh membuat Rere tersenyum lebar, dia sama sekali tak bisa membantah ucapannya itu, dan jadi yang hanya bisa Rere lakukan adalah menuruti apa kemauannya itu.


Sultan tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sultan merasa ucapan ibunya semakin membuat dirinya terancam saja, lagipula Rere pasti akan menuruti kemauan ibunya itu di sana.


Sultan menyalakan motor tuanya kembali, dan setelah itu mereka berdua pun lalu pergi meninggalkan rumah sesudah mereka memberikan salam kepada beliau serta nenek dari Sultan juga.


Disepanjang jalan Rere memeluk tubuh Sultan, sekarang dia mulai berani memeluk tubuh prianya tanpa harus menunggu perintah dari Sultan.


Sultan mengajak Rere kesuatu tempat yang masih berhubungan dengan alam, namun kali ini berbeda, mereka mengunjungi tempat yang pastinya akan ada banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut itu di sana.


Tempat itu benar-benar indah, dan letaknya tak cukup jauh dari sekitaran rumah Sultan. Mungkin Rere akan menyukainya, dikarenakan Rere memang suka berlibur ataupun bermain ke tempat yang memiliki nuansa alam.


Sultan memarkirkan motor tuanya diparkiran yang telah disediakan ditempat wisata alam itu. Setelah Sultan memarkirkan motor tuanya, ia pun lalu membayar tiket masuknya terlebih dahulu.

__ADS_1


Sebenarnya Sultan tak harus membayar tiket masuk itu, namun ia merasa tidak enak hati dengan pengunjung yang melihatnya di sana.


Rere bertanya-tanya kepada Sultan bahwa orang tersebut itu siapa? sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain.


"Tan, tadi itu siapa? kok, dia nyuruh kamu masuk ke dalam sini begitu aja," tanya Rere penasaran.


"Tadi itu teman dari ayah gue Re, makanya dia nyuruh gue untuk masuk begitu saja tanpa harus membayar tiket masuk ke tempat wisata alam ini," ucap Sultan.


"Emang berapa Tan, harga tiket untuk masuk ke dalam wisata alam ini?".


Sultan berpikir bahwa Rere akan membayar tiket masuk itu untuk Sultan, bisa dibilang itu adalah rasa kepedulian yang Rere berikan terhadap Sultan, dikarenakan sekarang prianya benar-benar harus bisa mengirit uang jajannya sendiri, walaupun uang itu adalah hasil yang dia dapat dari menulis.


Sultan mengabaikan pertanyaan dari Rere, dia sama sekali tak mau mengungkit pembahasan ini sekarang, dan terlebih yang hanya ia inginkan itu adalah mengajak Rere bahagia bersama saja, tidak ada yang lain selain dari itu.


"Engga usah dibahas Re!" ucap Sultan singkat sembari membuang wajahnya itu dari hadapan Rere.


"Bukan gitu maksud gue Tan, gue merasa engga enak aja sama kamu, soalnya kalau ke mana-mana pasti elu yang nanggung semua ... ," ucapan Rere terpotong.


Sultan menutup mulut Rere dengan menggunakan jari telunjuknya, ia tak mau mendengarkan alasan Rere yang berbelit-belit itu.


Sultan merangkul bahu Rere sampai tubuh Rere benar-benar dekat sekali dengan tubuh Sultan. Ia mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan manisnya di sana.


"Apaan sih Re, jangan ngomong yang aneh-aneh! mendingan sekarang elu nikmati aja permandangan yang ada di wisata alam ini oke," perintah Sultan, yang di mana ia masih merangkul bahu Rere tanpa mau melepaskannya sedikit pun.


Rere hanya bisa tersenyum sembari menggenggam tangan Sultan. Ia benar-benar membuat Rere terpanah, bahkan permandangan yang berada di tempat itu pun tak dapat membuatnya berpaling menatapi raut wajah Sultan.

__ADS_1


"Jangan diliatin terus muka gue ini Re, gue jadi wafer nih, lagian tatapanmu itu dapat membuat hati gue luluh, sampai-sampai gue melupakan keindahan alam di tempat ini," ucap Sultan sembari memegang kepala Rere dengan menggunakan kedua tangannya.


Dia melakukannya hal itu agar Rere bisa berhenti menatapi raut wajahnya di sana. Entah kenapa Sultan merasa malu pada saat Rere menatapi raut wajahnya sekarang, padahal hal itu sangat dia sukai sebelumnya, apalagi pada saat Sultan tengah merindukan sosok wanitanya itu.


"Baper bolot! bukan wafer," ucap Rere membenarkan ucapan Sultan itu.


"Enakan makan wafer daripada makan baper Re, abisnya percuma kalau gue baper sama lu, yang ada nantinya gue malah dibikin kecewa lagi sama lu," ucap Sultan yang tengah membercandai Rere.


"Elu kali itu mah Tan, lagian gue engga pernah bikin elu kecewa kan? yang ada itu mah kamu Tan, setiap hari malahan."


Rere membalikan candaan Sultan dengan lancar, sehingga ucapannya tersebut membuat Sultan terdiam memikirkan sikap menyebalkannya yang setiap hari sering bertambah pada saat dirinya sedang bersama dengan Rere.


Sultan tersenyum, ia hanya bisa mengalah, lagipula ucapan Rere itu memang benar adanya dan nyata terasa oleh Rere, bukan oleh Sultan sendiri.


Selain hobby menatap indah raut wajahnya, Sultan pun memiliki hobby membuat Rere merasa kesal terhadap sikapnya.


Mereka berdua duduk di atas kursi kayu sebelum Sultan membalas ucapan Rere itu tadi. Sultan menjawab semua pertanyaan Rere tanpa dia merekayasanya.


"Iya Re, gue ngaku kalau gue sering buat lu kecewa, tapi setelah ada rasa kekecewaan itu elu langsung bahagia lagi kan? lagipula gue engga akan bisa mengubah sikap ini, dikarenakan kamu pun menyukainya," ucap Sultan yang membuat Rere berpikir, sebenarnya dia lebih suka melihat sikap manis Sultan saja.


"Engga juga tuh Tan, gue malahan lebih suka melihat sikap manismu ini saja, engga ada yang suka dengan sikap menyebalkanmu itu Tan, bahkan orang-orang pun engga akan suka melihatnya," ucap Rere yang kembali membuat Sultan terdiam.


"Yang penting gue engga pernah meninggalkanmu Re, seharusnya kamu sadar akan hal itu."


"Mungkin nanti elu akan melupakan hal itu Tan, entah itu kapan, tapi gue berharap ucapanmu ini benar-benar akan terjadi."

__ADS_1


Rere hanya ingin melihat, siapakah yang lebih dewasa, mungkin bila soal membahas kedewasaan Rere lah yang akan memenanginya.


Sultan memang bukan pria yang seperti itu, namun dia bisa membuat semua orang tersenyum atas sikapnya ini, mungkin Rere tidak mengetahuinya seberapa suka Sultan menghibur senyuman semua orang.


__ADS_2