
Pada saat Sultan tengah santai-santainya mengendarai motor matic pamannya itu, dengan seketika Rere mengejutkan Sultan sembari berteriak menyuruhnya untuk memberhentikan lajuan motornya, dikarenakan dia melihat semua rombongan teman lamanya sedang berhenti di sebuah indomaret yang sudah dekat dengan tujuan mereka semua, yakni Pelabuhan Ratu.
Untung saja Sultan dapat menyeimbangkan motornya yang hampir terjatuh itu, andaikan ia lengah sedikit saja, dan mungkin mereka berdua bisa terjatuh dari atas motor.
"Berhenti Tan, berhenti! kayaknya rombongan di depan sana itu teman-teman gue semua dah, cepetan ke pinggirin dulu motornya," ucap Rere mengejutkan Sultan, di mana tepukan tangan Rere dibahunya sungguh membuat ia terkejut.
"Nah kan, nah kan, elu bikin gue kaget aja sih Re! makanya motor ini jadi oleng, emangnya engga ada cara lain apa selain berteriak sekeras itu! untung aja kita berdua engga jatuh tadi," ucap Sultan benar-benar terkejut melihat Rere menepuk bahunya berkali-kali sembari berteriak didekat telinga Sultan.
Gara-gara teriakan Rere itu Sultan jadi dimarahi oleh seseorang pengendara yang tak sengaja tengah melajukan motornya tepat di belakang motor Sultan.
"Woii, elu bisa bawa motor engga sih bodoh! berheti di tengah jalan kayak gini, mau mati bukan lu hah!" ucap pengendara tersebut menegur Sultan dengan nada suara tingginya.
"Elu kali yang gila bukan gue! pake ada acara bawa mati-matian segala lagi! emangnya elu engga sadar apa kalau tadi itu elu ngendarain motornya ugal-ugalan," ucap Sultan yang tak mau disalahkan begitu saja karena pengendara tersebut pun sama salahnya.
Dari awal dia memang sengaja melajukan motornya sejajar dengan motor Sultan di belakang sana, dan terlebih pengendara tersebut memang melajukan motornya seperti orang gila saja.
Sultan hampir saja bertengkar dengan pengendara motor tersebut, namun Rere mencoba meredamkan emosi Sultan agar mereka berdua tak berkelahi di jalanan yang sangat ramai itu.
Pengendara tersebut lebih memilih melajukan motornya terlebih dahulu. Dan sebelumnya pada saat Sultan menepikan motornya di sana, si pengendara tersebut sempat memberhentikan lajuan motornya juga, dikarenakan dia mengira kalau Sultan itu mau ngajak dia berkelahi.
__ADS_1
Dan ternyata si pengendara tersebut salah paham, lantas dia pun pergi duluan meninggalkan Sultan sambil memberikan reaksi tatapan tajam dengan mata yang melototi Sultan.
"Awas aja lu ya, bodoh! gue tandain wajah lu, untungnya elu ditemenin sama cewe lu, makanya gue lebih memilih untuk ngalah aja agar cewe lu engga malu punya pacar yang lemah kayak lu," ucap pengendara tersebut memberikan kata-kata terakhirnya kepada Sultan sembari mengacungkan jari tengahnya juga kepada Sultan.
"Ehh, dasar sialan lu! emangnya gue takut gitu sama lu, jangan kan elu berdua, sepuluh orang seperti elu pun gue lawan!" ucap Sultan membuat Rere menampar helm yang tengah dia kenakan itu.
"Udah kenapa sih Tan! jangan mencari-cari masalah mulu dah, gue cape meleraikannya, lagian elu juga yang salah Tan! kenapa sih elu harus marah semarah itu," ucap Rere menyalahkan Sultan, padahal yang membuatnya memberhentikan lajuan motornya di tengah jalan itu karena pinta Rere sendiri.
"Hidup tanpa masalah itu takan pernah terasa lengkap Re, lagian elu juga sih, kenapa menepuk-nepuk bahu gue, jadinya kan gue refleks Re, memberhentikan lajuan motor ini."
....
Rere mulai menunjukan sifat buruknya, di mana ia tak mau disalahkan oleh Sultan, namun kemarahannya itu tak berlangsung lama pada saat Sultan membelikan minuman kesukaannya.
"Dasar cewe! sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit ngediemin pacarnya sendiri! yaudah tunggu dulu di sini, gue mau beli sesuatu dulu," ucap Sultan yang langsung pergi meninggalkan Rere.
"Apaan sih si Sultan, dia engga peka apa ya, sama kemarahan gue ini, udah itu dia ninggalin gue begitu aja lagi," ucap Rere seorang diri tanpa mau melihat sedikit pun raut wajah Sultan.
Tak lama kemudian Sultan pun pergi ke luar dari dalam alfamaret, dikarenakan jaraknya lebih mudah dijangkau saja, dan terlebih Sultan tengah memarkirkan motornya di sana juga.
__ADS_1
"Masih cemberut aja ternyata, nih, minum dulu, abisnya mukamu lepek beut dah kayak jemuran yang belum disetrika sama mamah, nanti udah ini kita langsung temuin teman-temanmu itu di sana," ucap Sultan sembari memberikan minuman kesukaan wanitanya itu.
Senyuman Rere kini mulai terlihat, hingga pada akhirnya dia mau menjawab pertanyaan dari Sultan di sana.
Rere meminta handphonenya yang dia simpan di dalam tas slempang milik Sultan. Rere cuma mau memastikan apakah benar mereka semua adalah teman-temannya.
Dan ternyata memang benar, rombongan tersebut itu adalah teman SMP Rere. Dan sebelumya semua teman Rere sempat dibuat bingung, bukannya handphone Rere itu hilang, tapi kenapa dia dapat menelepon salah satu teman wanitanya di sana.
"Kalian semua lagi istirahat di depan indomaret bukan? ini gue ada di belakang kalian," ucap Rere membuat temannya yang ditelepon itu bingung, kenapa bisa Rere meneleponnya.
"Tunggu bentar deh! ini beneran elu kan Re? kok, bisa sih elu nelepon gue? bukannya handphone elu itu hilang dicuri sama orang ya?" tanya teman wanitanya yang bernama Elsa itu, di mana Elsa pun melihat raut wajah Rere dan meyuruh Rere untuk menghampirinya.
Rere meminta Sultan untuk menghampiri semua teman lamanya di sana. Sultan pun lalu menyalakan motor matic milik pamannya itu untuk menghampiri semua teman Rere yang sekarang tengah ada di hadapanya.
Rasanya Rere nampak senang bisa bertemu dengan teman-teman wanitanya itu kembali. Sultan pun merasakan hal yang sama dengan Rere, di mana ia tak mau mengganggu kesenangannya itu di sana bersama dengan mereka.
Sementara Sultan hanya duduk di atas motornya saja sendirian, namun pada saat ia tengah asik-asiknya melihat kebahagiaan Rere, tiba-tiba ada seorang pria yang masih menjadi teman Rere itu juga menghapirinya.
"Elu pacar Rere bukan hah? kata teman gue elu mengganggu urusan dia aja, padahal dia itu lagi berusaha mendekati Rere, tapi elu malah datang dan menghancurkan semua harapannya," sahut teman pria Rere mencoba menguji kesabaran Sultan seperti apa.
__ADS_1
"Maksudnya teman akang yang tadi sempat mengantarkan Rere pulang kembali ke rumahnya bukan? saya kira teman akang itu hanya menganggap Rere sebagai temannya saja, dan ternyata dia juga suka sama Rere ya," sahut Sultan sembari mengeluarkan tawa tipisnya.
Dugaan Sultan yang sebelumnya memang benar, ternyata dia memang mencintai Rere, bahkan dari awal Sultan bertemu dengannya, ia sudah melihat tatapan matanya menyimpan sebuah harapan, namun harapan itu dengan seketika sirna begitu saja karena kehadiran Sultan di sana.