
Malam telah berganti menjadi pagi, gemuruh suara angin riuh di malam hari itu pun akhirnya telah terlewati, yang di mana pagi itu, Sultan kembali menyapa Rere dengan memberikan seribu kehangatan rasa, dan tentunya rasa itu adalah rasa sayang, yang takan pernah memudar, walaupun ditelan oleh keadaan.
Suara motor tua, yang di mana motor itu kembali ia nyalakan, dan suara itu sungguh sangat terdengar jelas di dalam ruangan rumahnya itu di sana. Orang rumah pun kembali dibuat heran! kenapa ia sangat suka berkeliaran, padahal hari ini masih hari sekolah.
Dan di sana, ia pun nampak sangat rapi sekali, yang di mana seragam putih abunya itu, ia kenakan dengan sangat sopan, dan biasanya ia tak pernah memasukan baju seragamnya itu ke dalam celananya, dan palingan ia hanya menunggu dirinya dimarahi oleh guru terlebih dahulu, dan setelah itu ia pun baru akan menuruti perintah yang telah diberikan oleh gurunya itu.
Tapp, tapp, tapp ... suara langkah kaki ayahnya itu, cukup terdengar jelas ditelinga Sultan, yang di mana ayahnya itu lalu datang sembari menepuk bahu Sultan, dan yang di mana Sultan itu pun tengah menyeruput susu hangatnya sembari duduk di atas jok motornya itu.
"Mau kemana Tan? ini masih jam lima, apakah ada sesuatu tugas yang harus kamu selesaikan di sekolah? apa kamu berulah lagi di sekolah?" ucap ayahnya itu yang mengejutkan Sultan.
"Engga ada Pak, Sultan mau pergi ke rumah Rere karena dia lagi sakit di sana, dan ini Sultan mau bawain dia sarapan dulu, jadi Sultan sengaja berangkat pagi-pagi gini karena Rere pastinya bakalan susah buat disuruh makan sama minum obat kalau bukan Sultan yang nemeninnya di sana," ucap Sultan yang kembali menyeruput susu hangatnya itu.
"Hati-hati Tan, bilangin ke Rere cepet sembuh, maaf bapak engga bisa ngasih dia apa-apa."
"Rere bukan tipe cewe peminta-minta Pak, dan jadi bapak tenang aja! karena Rere engga pernah mengharapkan apa pun dari kita, dan palingan kalau kita mau ngasih sesuatu sama dia, mungkin lebih baik kita engga perlu memberitahuinya dahulu, dikarenakan dia pasti bakalan nolak sesuatu itu."
Percakapan itu, tak begitu berlangsung lama, dan lalu Sultan pun kembali menjalankan motor tuanya itu dengan perlahan, dikarenakan tingkat kedinginan di pagi hari itu, cukup membuat sekujur tubuhnya kaku karena angin pagi itu langsung menusuk ke dalam tubuhnya dengan cepat.
Sultan pun lalu berhenti di sebuah tempat, yang di mana tempat itu adalah tempat penjual bubur langganannya itu sering mangkal dari dulu, dan mungkin dari sejak ia masih sekolah dasar, yang di mana ia sering membeli bubur itu karena bubur khas Sukabumi itu memang sangat enak untuk dinikmati.
"Asalamu'alaikum, abah gimana kabarnya? Sultan mau pesen dua porsi bubur yang spesialnya ya, Bah, yang satu jangan pake kacang, dan yang satu lagi cukup bening aja ya, Bah," ucap Sultan yang tengah berbicara kepada abah penjual bubur itu di tempat sana, yang di mana bisa dibilang, umur beliau tidak lah muda lagi, namun kaki-kakinya masih terlihat tetap tegar, dan raut wajahnya pun menandakan bahwa beliau terlihat begitu sehat sekali.
__ADS_1
"Wa'alaikum Salam ... ehh, Den Sultan, alhamdulilah, kabar abah baik, dan terus kabar aden Sultan gimana? pastinya sehat juga kan?" ucap abah tukang penjual bubur itu sembari memeluk Sultan, dikarenakan sudah lama ia tak mampir membeli buburnya itu.
Senyuman serta raut wajahnya yang terlihat bahagia itu, diberikan oleh abah kepada Sultan, dikarenakan sudah lama ia tidak datang mengunjungi tempat beliau di sana.
Dan abah pun sempat terkejut, ketika abah melihat Sultan sudah bertumbuh menjadi orang dewasa, dan kenapa abah masih mengenal Sultan? karena raut wajah Sultan memang beda dari teman-temannya yang dulu, yang di mana dari dulu ia masih memiliki kulit putih, serta raut wajah anak manja, dan tentunya itu akan semakin mudah untuk abah mengingat wajah Sultan itu kembali.
....
Abah pun lalu menyuruh Sultan untuk duduk, namun tentu saja Sultan menolaknya, dikarenakan ia ingin berdiri di sampingnya sembari merangkul bahu abah yang sudah tua itu dengan erat, dikarenakan rindu akan masa kecilnya itu, selalu teringat bilamana ia sedang bersama dengan abah di sana.
"Duduk dulu Den, biar abah buatin minum dulu ya, engga akan buru-buru ini kan Den?" ucap abah, yang di mana beliau akan mengambilkan air minum untuk diberikan kepada Sultan, namun waktu itu Sultan menyuruh abah untuk tetap berdiri di sampingnya.
"Sutt, sutt, engga usah Bah, mendingan abah buatin pesanan bubur Sultan yang enak aja, dan abah engga perlu ke mana-mana, karena Sultan bisa ngambil sendiri juga kok, Bah," ucap Sultan sembari memegang dan menarik bahu abah itu dengan pelan, supaya abahnya itu bisa tetap berdiri di sampingnya.
"Kalau gitu, Sultan pamit ya, Bah, dan insyaallah Sultan akan kembali lagi ke sini besok, abah jangan lupa jaga kesehatannya ya, Asalamu'alaikum," ucap Sultan sembari mengecup tangan abah tukang bubur itu di sana.
"Wa'alaikum Salam, hati-hati ya, Den," ucap abah sembari melambaikan tangannya ketika motor tua Sultan itu telah dilajukan.
Ia adalah seorang pria yang mudah dekat dengan siapa pun itu orangnya, mau itu dengan orang yang lebih tua umurnya dari dirinya, ataupun itu dengan orang yang lebih muda umurnya dengan dirinya, dan bahkan anak kecil yang tengah naik angkot bersama dengan ibunya itu pun, ia dekati hingga anak itu menangis.
Itu lah sifat asli Sultan, yang di mana komitmennya itu adalah menambah pertemanan hingga menjadi saudara yang bisa ia rangkul seutuhnya.
__ADS_1
Ia bukan tipe orang pedendam, dan ia bukan tipe orang yang bisanya hanya mencari-cari masalah dengan orang lain yang ada di sekitarnya, apalagi hingga seseorang itu bisa menjadi musuhnya, dan itu adalah rasa yang takan pernah tertanam dalam dirinya itu sendiri.
Setelah lamanya kian perjalanan itu datang menghampirinya, hingga pada akhirnya, Sultan pun telah tiba di rumah Rere itu di sana.
Dan alangkah menyebalkannya sikap Sultan itu, yang di mana ia melihat bahwa ibu Rere tengah duduk terdiam di depan teras rumah, dan tentunya Sultan pun dibuat heran olehnya, kenapa beliau duduk di depan teras rumahnya itu seorang diri, dan apa yang sedang beliau tunggu di depan sana.
Sultan pun lalu mengejutkan ibunya itu, namun ia tetap bersikap sopan di hadapannya itu, yang di mana ia mengejutkannya sembari memberikan salam, akan tetapi ia memberikan salam kepada ibunya itu dengan memberikan nada yang agak sedikit tinggi, namun itu tidak setinggi yang tengah kita bayangkan sendiri.
"Asalamu'alaikum," ucap salam Sultan yang membuat ibunya itu terkejut di depan sana.
"Astaghfirullah, sampai kaget mamahmu ini Tan, mamah kira tadi itu siapa, tahu-tahunya Sultan yang datang, Wa'alaikum Salam," ucap beliau sampai terkejut karena ulah calon anaknya itu juga.
"Mamah lagi apa? kok, sendirian aja? kalau begitu ... biar Sultan yang nemenin mamah di sini juga ya, boleh kan? biar mamah engga sendirian lagi," ucap Sultan sembari duduk di samping ibunya itu.
"Jangan ah, Sultan masuk aja ke dalam, mamah cuma lagi nunggu tukang bubur lewat."
"Mau beli bubur buat siapa Mah?".
"Buat Rere sama buat adik bungsumu itu Tan, abisnya Rere susah disuruh makan pagi kalau sarapannya bukan nasi bubur, katanya kalau makan nasi biasa, Rere suka mual-mual sendiri."
"Engga usah beli Mah, ini Sultan udah beli kok, dan yang satu lagi, ini adalah bubur bening untuk adik bungsu Sultan yang imut itu," ucap Sultan sembari mengangkatkan kantong kresek yang berisikan bubur di dalamnya.
__ADS_1
Sultan dan ibunya itu pun lalu masuk ke dalam rumah, dan ibu Rere pun lalu memanggilkan anaknya yang masih berdiam diri menahan rasa sakitnya itu di dalam kamaranya itu di sana.
Dan Rere pun lalu ke luar dari dalam kamarnya, dan tentunya Rere pun tidak merasa heran lagi kepadanya, dikarenakan Sultan pasti akan datang kembali sebelum dia sembuh total.