
Bell istirahat sekolah menyala, dan seperti biasa kelas Sultan selalu kosong bilamana waktu istirahat pun datang. Dan di sana Sultan pun sudah beberapa minggu ini tidak pernah terlihat lagi berdiam diri di kosan sana, setelah mana ia dekat dengan Rere, hingga pada akhirnya, Sultan lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya itu bersama dengan Rere di dalam kelasnya tersebut itu di sana.
Tak silam beberapa menit waktu istirahat berjalan, Rere pun sempat terlihat tengah berdiri sembari menyandarkan punggungnya itu di depan pintu kelas Sultan di sana. Sultan yang tengah menulis tugasnya itu pun sempat terhenti karena adanya Rere yang menatapnya di depan sana.
"Ada apa Re? sini masuk, jangan cuma berdiam diri aja di depan sana, kalau kangen bilang sama gue."
"Hmm, aku ke sini cuma mau nagih cerita kamu Tan, jangan bilang kalau kamu lupa ya!" ucap Rere sembari berjalan menghampiri Sultan di sana.
"Umur gue belum tua-tua amat Re, kalau pun gue lupa! itu tandanya gue selalu mikirin elu di sini, paham?" ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere.
Rere pun lalu duduk kembali di samping Sultan, yang di mana setelah dia duduk di kelas sana, Sultan pun lalu mulai menceritakan kenapa ia bisa bertemu dengan wanita malang tersebut itu kemarin di jalan sepi sana.
Rere pun mendengarkan Sultan bercerita panjang lebar, tanpa sedikit pun ia memotong pembicaraan Sultan itu di dalam kelas sana. Rere menatap Sultan dengan tajam, yang seolah-olah Rere merasa bahwa pacarnya itu memang benar-benar tulus, ingin membantu wanita malang tersebut itu kemarin, yang bertepatan di jalan sepi Bumi Perkemahan sana.
"Itu hanya sebuah kebetulan aja Re, sebenarnya gue juga engga nyangka bisa bertemu dengan dia di sana, dan terlebih waktu itu gue pulangnya lewat sana, niatnya sih cuma ingin melampiaskan rasa lelah kepada alam sekitar."
"Intinya gini ya, gue cuma mau nolongin dia aja, dan bahkan gue sama sekali engga pernah merencanakan hal ini sedikit pun karena yang namanya kebetulan, suatu saat bisa terjadi tanpa kita menduganya Be."
"Seperti hal nya gue kenal sama elu Re, suatu kebetulan dan akhirnya bisa saling sayang, dan kalau udah seperti ini, gue juga bisa apa selain membahagiakanmu sampai seterusnya."
__ADS_1
"Apaan sih Tan! engga jelas amat elu mah," ucap Rere, yang terlihat tengah malu-malu sendiri sembari menjauhkan pandangannya itu dari Sultan.
"Masih malu aja sama pacar sendiri, lihat tuh ... pipimu memerah muda kayak gitu," ucap Sultan sembari mencolek pipi Rere.
Rere pun lalu tersenyum malu di dalam kelas sana, dan terlebih Sultan adalah pria rese! semua bisa ia lakukan demi melihat Rere merindukan dirinya kembali di sana. Bukan hanya soal rindu saja yang bisa mereka bahas, melainkan rasa kasih sayang itu juga selalu menemani pembahasan mereka menjadi lebih bermakna dan mejadi lebih berwarna.
Tatapan itu, adalah tatapan yang Sultan inginkan sejak dulu, dan tatapan itu, adalah tatapan yang di mana ia selalu bisa merasakannya, bahwa Rere takan pernah bisa merasakan kembali arti kata dari rasa kesepian hati.
Rere dan Sultan pun lantas tak ingin membuang waktu istirahatnya ini pergi begitu saja, tanpa adanya perbincangan yang akan mereka bahas menjadi semakin lebih menarik lagi, dan yang di mana perbincangan itu takan pernah berhenti, sampai waktu perpisahan pun kembali hadir menemani mereka lagi di sana.
....
"Nama wanita itu siapa Tan? aku boleh tahu juga engga? soalnya aku penasaran, emang ada ya, wanita yang bisa menilai kamu itu baik, padahalkan Sultan itu orangnya jahat!".
"Indah banget namanya Tan? seindah wajahnya ya," ucap Rere yang masih terlihat cemburu kepadanya.
"Indah itu hanya ada pada dirimu Re, dan indah itu adalah kata yang pernah aku ucapkan kepada Tuhan, bahwa Rere adalah anugrah terindah yang beliau berikan kepadaku untuk saat ini, dan bahkan sampai seterusnya."
Seberapa sering Rere tersenyum karena Sultan? seberapa sering Rere dibuat malu oleh Sultan? dan seberapa sering Rere dibuat nyaman oleh Sultan? itu semua adalah sikap yang selalu Sultan berikan kepada Rere karena sikap itulah yang selalu bisa membuat Rere terus merasakan bahagia, ketika mana ia sedang bersamanya, dan di mana pun itu tempatnya, asalkan mereka berdua bisa menuliskan ceritanya itu kembali di kota ini dan di negri yang indah ini.
__ADS_1
"Sebentar lagi kelas masuk Re, aku anterin kamu masuk dulu ke kelas kamu ya, dan udah itu kamu jangan dulu pulang, soalnya mamah berpesan kepadaku, untuk selalu menemani dan melindungi kemana pun engkau pergi."
"Jangan gini terus dong Tan! gue malu nih bolot! kalau emang elu mau nganterin gue pulang, ya, udah lah, jangan pake acara bersikap manis kayak gini."
"Elu mah aneh ya, Re! gue bersikap manis kayak gini sama elu, seharusnya elu seneng atau apa ke! kok, elu mah malah malu! dasar cewe engga jelas!".
Plakk ... ! tamparan keras diberikan oleh Rere kembali kepada Sultan di sana, dikarenakan Sultan begitu cerewet! bilamana Rere diamkan seperti itu saja.
Setelah Rere menamparnya, Sultan pun lalu menutup mulutnya itu dengan menggunakan kedua tanganya tersebut, yang di mana ia mengantarkan Rere sembari berjalan perlahan di belakangnya karena Sultan merasa takut ia akan ditampar kembali oleh Rere, dan maka dari itu Sultan masih menutup mulutnya tersebut agar mulutnya itu bisa diam.
"Pipi kanan aja masih belum sembuh, dan dia malah menambah tamparannya itu kembali dipipi sebelah kiri lagi! udah itu kan sakitnya malah jadi dobel Re," ucap Sultan dalam hati.
"Dasar Rere bolot! cewe engga jelas! cewe aneh! cewe kasar! sini maju kalau berani! aku banting baru tahu rasa kamu!" ucap Sultan sembari berlari meninggalkan Rere.
"Awas ya, kamu Tan! beraninya dari belakang! sini maju kalau kamu emang berani sama gue!" ucap Rere yang sama-sama meledek Sultan.
Sultan pun lalu berdiri di atas tangga sana sembari memberikan jari tengahnya itu kepada Rere, sebagai tanda ejekan karena sikap Rere begitu kejam terhadapnya kali ini. Dan lantas Rere pun di bawah sana tak mau mengalah dengan Sultan, yang di mana Rere pun sama-sama memberikan jari tengahnya itu kepada Sultan yang sedang berdiri di atas tangga sana.
Tak silam beberapa lama, mereka berdua pun lalu masuk kembali ke dalam kelasnya itu masing-masing di dalam sana, sembari tersenyum-senyum sendiri, akan memikirkan tingkah lakunya tersebut itu, ternyata memang benar-benar beriringan, dengan adanya kebersamaan yang takan pernah membuat hati merasa bosan, akan hadirnya keseruan cinta.
__ADS_1
"Dasar Sultan bolot! kok, bisa-bisanya ya, dia ngeledekin gue kayak gitu tadi? tapi ini emang salah gue sendiri sih, terlalu banyak nampar dia, meskipun Sultan selalu berusaha bersikap sabar sama gue di sini," ucap Rere dalam hati.
"Kadang kala aku senang melihat kamu tersenyum di belakang aku seperti itu Re, namun kadang kala itu juga, aku selalu sulit memastikan bahwa senyumanmu itu kamu berikan kepadaku dengan jangka waktu yang cukup lama, ataupun itu hanya sesaat saja Re," ucap Sultan dalam hati.