Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 28 : Malam kelabu


__ADS_3

Malam itu, sesudah semua siswa melaksanakan kewajibannya tersebut di dalam masjid, mereka pun semua kembali masuk ke dalam kelasnya masing-masing untuk melaksanakan makan malam bersama dengan para pembimbingnya masing-masing.


Dan tidak heran! di dalam sana kelompok Sultan lah yang paling ceria pada saat itu, mereka tertawa kembali dengan lepas sembari membicarakan hal-hal yang tidak begitu jelas, namun itu sungguh mengasikkan bagi mereka di sana.


"Setelah selesai makan, kalian harus langsung tidur! jangan bergadang! soalnya kalian akan dibangunkan kembali oleh panitia OSIS, kurang lebih jam 3 pagi," ucap Sultan kepada mereka penuh dengan perhatian.


"Untuk anak-anak perempuan, kalian akan tidur di kelas yang terpisah dengan anak laki-laki ya," ucap Rere kepada adik kelas perempuannya.


"Yahh, kenapa harus dipisah Teh? hehe," ucap seluruh adik kelasnya itu dengan seksama sembari tertawa kembali dengan lepas.


"Bagaimanapun caranya! kalian harus bisa bangun lebih awal untuk pergi masuk ke dalam Gor kembali, sebelum petugas OSIS yang membangunkan kalian di sini oke," ucap Sultan kembali dengan memberikan semangat baru kepada mereka.


"Oke, Kang, siap," ucap seluruh adik kelasnya itu penuh dengan semangat.


Sultan dan Rere pun lalu pergi keluar meninggalkan mereka dan membiarkan mereka beristirahat di dalam kelas tersebut. Sementara itu, Sultan dan Rere mengantarakan kedua adik kelas perempuannya tersebut masuk ke dalam kelas yang sudah panitia OSIS sediakan sebelumnya.


Setelah itu, Sultan dan Rere pun lalu pergi kembali setelah mengantarkan kedua adik kelasnya tersebut. Sementara itu, ada seorang siswa wanita dari kelompok sebelah yang berbicara kepada kedua siswa adik kelas dari Sultan dengan Rere.


"Kalian enak banget sih! punya pembimbing yang begitu perhatian kayak mereka berdua, dan sementara itu kita di sini, apa-apa harus serba sendiri!" ucap salah satu wanita dari kelompok sebelah.


Kedua wanita itu tersenyum di hadapan mereka semua, dan bila di pikir-pikir lagi! bahwa Sultan dan Rere itu adalah pembimbing yang sangat baik terhadap adik-adik kelasnya tersebut.


Di sebuah lapang parkiran sekolah yang cukup besar itu, Sultan dan Rere berkumpul bersama dengan rekan-rekannya kembali untuk menikmati hangatnya api unggun di malam hari yang dingin itu bersama-sama.


Sultan dan Rere duduk berdua sembari melentangkan kedua tangannya itu, di depan api unggun yang tak begitu besar tersebut dengan damai.

__ADS_1


"Kebersamaan takan pernah membuat hati merasa gundah membelengu, bagaikan burung hantu yang duduk menyorang diri di sebuah batang pohon tinggi.


Bagaikan kisah yang berjalan tiada henti tanpa arah padang, tanpa memandang, tanpa melangkah maju kembali ke depan karena sebabnya kamu sekarang tengah duduk, dan tepat di hadapanku sekarang.


Kini aku tak perlu mencarimu lagi, mencemaskanmu lagi, membuatmu rindu kembali, dan membuatmu merasa takut akan aku pergi jauh dari sisimu nanti.


Usahku takan aku upayakan lagi karena kini kamu sekarang berdiri dan mendampingiku di sini, tanpa sedikit pun kamu memberikan pundakmu ke lain hati selain diriku ini," ucap Sultan di dalam hati kembali, sembari menatapi Rere dengan penuh tatapan tajam! akan cinta yang datang.


Sultan menatap tajam Rere di malam itu, dengan ditemaninya sebuah bara api unggun, yang membuat sekujur tubuh mereka merasakan hangatnya malam kelabu yang penuh makna tersebut.


....


Filsafat alam pikirannya itu hanya tertuju pada Rere seorang diri saja di sana. Seberapa banyak orang melingkarinya, seberapa banyak orang yang melihatnya, dan seberapa banyak orang itu menganggapnya mesra, namun seorang Sultan hanya bisa menyadarinya bahwa Rere adalah wanita yang sangat cantik ketika mana ia pandang lebih dalam lagi.


"Rere Nuraeni, dia adalah sosok wanita yang sangat jelek! namun, aku cuma bercanda kok, Re, jangan marah ya," ucap Sultan sembari menatap Rere dengan tatapan yang sangat menyebalkan.


"Mencintai kamu Re, itu adalah kerjaan aku sekarang."


"Engga usah gombal! mentang-mentang aku baperan orangnya! terus kamu manfaatin aku begitu aja," ucap Rere kembali mencubit Sultan.


"Suatu saat nanti, aku ingin menceritakan kisah ini kepada dunia bahwa seorang Sultan sangat mencintai Rere Nuraeni di negri ini dan di kota indah ini."


"Seberapa sabar seorang Sultan menunggu, dan hingga pada akhirnya seorang Sultan benar-benar bisa menggapai mimpinya untuk memilikinya."


Tatapan seorang Sultan yang hanya bisa membuat Rere menjadi luluh akan rasa cintanya itu. Kedua pasangan itu saling berpadang-pandangan di malam yang begitu cerah akan hadirnya rembulan malam di kota Sukabumi itu.

__ADS_1


Satu-persatu semua temannya itu meninggalkan lapangan parkiran sekolah. Tempat itu kini menjadi sunyi dengan seketika, dan lantas Sultan pun segera mengantarkan Rere pergi ke ruangan UKS karena seluruh panitia persiapan Pembaretan, teruntuk siswa wanita berkumpul di sana semua.


Sultan pun lantas menatapnya dengan sekejap dan lalu ia pun pergi kembali kelapangan parkiran sekolah seorang diri. Di sana Sultan kembali mengeluarkan buku catatan hariannya itu dan menulis sebuah sajak, sembari ditemaninya api unggun yang tak begitu lama lagi akan segera meredup dan padam.


Bermimpi lah tentangku di malam hari ini,


tersenyum lah di hari esok yang akan datang kembali menemanimu lagi.


Ceritakan lah mimpi malammu itu kepadaku,


dan seberapa manisnya sifatku di alam mimpimu tersebut,


maka di sini aku akan berusaha menyamai mimpimu itu di dunia nyata ini.


Bara api unggun itu kini mulai meredup, api itu kini mulai membuat Sultan kehilangan arah pandangannya. Ia pun lalu menutup bukunya kembali, dan lalu Sultan pun segera pergi dari tempat itu karena malam mulai menelan semua pandangannya tersebut di lapang parkiran sana.


Dia kembali duduk di kursi depan sanggar Pramuka, ia hanya berdiam diri seorang saja di sana. Dan sementara itu, semua temannya di sana sudah tertidur pulas.


Sultan kembali menggenggam handphone Rere, ia pun kembali menatap wajah Rere tanpa henti, tanpa sedikit pun ia merasa bosan akan semuanya itu.


Setelah berjam-jam Sultan menatap foto Rere di sana, kemudian ia pun lalu bangkit dari tempat duduknya itu untuk memeriksa ruangan kelas, yang di mana kelompoknya itu sedang tertidur di ruangan kelas tersebut.


"Setelah selesai makan, mereka semua langsung tertidur begitu saja. Kasihan mereka, seharusnya ini tidak boleh terjadi lagi kepada mereka semua di sini!" ucap Sultan waktu itu berbicara seorang diri di depan kelas kelompoknya tersebut.


Kenapa ia berbicara seperti itu? karena ia dulu pernah mengalami hal yang sama seperti mereka di sini, dan bahkan perjalanan Sultan bersama teman-temannya itu lebih menyulitkan bila dibandingkan dengan mereka.

__ADS_1


Jam setengah tiga, waktu yang kini Sultan lihat di jam tangan yang sedang ia kenakan itu. Ia menunggu hingga jam tiga pagi tepat, untuk membangunkan mereka di dalam kelas sana.


__ADS_2