Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 253 : Alasan Sultan


__ADS_3

"Aihh, idih, si bego! elu kali yang gila! tiba-tiba nyubit tangan gue tanpa sebab, sakit tangan gue ini, terus itu tuh bara rokok elu kena tangan yang elu cubit barusan, panaslah bege! maaf ya, akang dan teteh sekalian, dia emang begini orangnya dari dulu, agak sedikit setres karena depresi terlalu banyak mikirin kemauan ayangnya di sana."


Panjang sekali ucapan Sultan itu, di mana Sultan pun tersenyum dan tertawa sembari pergi meninggalkannya, dikarenakan Sultan ingin melihat jelas raut wajah Dimas seperti apa pada saat dia membuatnya malu-malu sendiri di hadapan semua orang di sana.


Orang-orang di sekitarnya hanya bisa menggangguk tipis sambil sesekali melihat raut wajah polos Dimas, dan terlebih ucapan Sultan begitu mudah dipercayai oleh orang-orang yang tengah berada di sekitarnya.


"Kenapa gue bisa lupa kalau dia itu temen gue yang paling rese, jadinyakan gue sendiri yang dibuat malu oleh dia, pokoknya awas aja elu Tan! bila waktunya tepat, gue engga akan segan-segan membalasnya, itu pun kalau gue berani," ucap Dimas dalam hati sambil meninggalkan tempat tersebut bersama dengan Sultan.


Dimas berlari mengejar Sultan, dia pun masih menyimpan rasa dendamnya karena temannya itu telah membuatnya tak dapat berkata-kata lagi di hadapan semua orang seperti tadi.


tanpa sengaja Dimas menepuk tangan Sultan yang sempat terkena bara api dari rokoknya itu sendiri, lantas Sultan pun menepuk tangan Dimas sekeras seperti dia menepuk beberapa nyamuk di dalam ruangan kontrakan.


"Gila lu Tan! bukannya elu sendiri yang salah, tapi kenapa elu malah nuduh gue yang engga-engga, malu beut gue sumpah! awas aja lu Tan! gue balas nanti," ancaman Dimas tak membuat Sultan takut sama sekali.


"Bego! jauhkan tangan lu itu dari tangan gue!" ujar Sultan sambil menepuk keras tangan Dimas hingga tangan dia terpental dan menetap diposisi yang sebelumnya lagi.


Dimas mengelus-elus tangan yang sempat Sultan tepuk itu tadi sembari membunyikan suara kesakitannya juga. Pandangan Sultan sekarang terlihat agak sedikit datar, dan sebenarnya reaksi tersebut adalah sikap yang sering dia berikan kepada Dimas, bahkan setiap hari Sultan selalu tampil seperti itu kepada semua temannya.


Sikap tersebut tidak lain memang sikap asli seorang Sultan, pada saat dia tengah asik bercanda dengan semua temannya, pada saat dia bersedih, dan bahkan pada saat dia tertawa pun reaksi datar dari raut wajahnya itu takan pernah berubah selain dia bertemu dengan Rere.

__ADS_1


Dimas tak merasa heran dengan sikap temannya itu, dikarenakan tak ada lagi masalah yang harus diperbincangkan soal sikap datar Sultan itu.


Dan sementara itu di sana Sultan pun mengajak Dimas untuk pergi melaksanakan ibadah salat magribnya bersama di dalam mesjid. Dimas mengangguk dan menerima ajakannya.


"Ginikan enak, baru pertama kali gue melihat elu salat di dalam masjid sama gue Dim, subhanallah, raut wajah lu dengan seketika bercahaya seperti rembulan malam, semoga elu diterima disisinya ya, amin," canda Sultan membuat temannya itu tertawa.


Tak ada habis-habisnya Sultan membercandai Dimas, untung saja dia bisa sabar dalam menghadapi sikap rese sosok seperti Sultan, bila habis kesabarannya mungkin dia akan membantingkan tubuh Sultan kembali, namun hal itu takan pernah terulang dan terjadi lagi kepada Sultan, dikarenakan waktu itu Sultan hanya sedikit lengah, jadi ia bisa terbanting dengan mudahnya di dalam bengkel praktek jurusan.


....


"Giliran gue mau berbuat baik dan sekarang elu dengan lepasnya malah menghujat gue, terus saja seperti itu Tan, sampai hilang semua batas kesabaran gue, dan sebenarnya hal itu adalah hal yang harus elu takuti nanti," ancaman Dimas takan pernah membuat Sultan takut, malahan di sana dia telah menununjukan sikap berkelahinya kepada Dimas.


Dimas memegang lengan Sultan sekuat mungkin, sepertinya dia benar-benar mau membantingkan tubuhnya lagi, namun seorang Sultan dapat dengan mudahnya menepikan daya cengkraman yang begitu kuat dari tangan Dimas itu sehingga Sultan menotok bagian bahu Dimas sampai Dimas lemas.


"Ampun Tan, ampun! gue udah lemas ini, kali ini gue ngalah sama elu, gue engga akan mengulanginya lagi janji."


Dimas terkapar lemas di depan halaman mesjid, kurang lebih sekitar satu menitan, dan setelah itu Sultan pun segera menolong Dimas agar dia terbangun dari baringannya itu di sana.


Itu adalah candaan mereka, bukan bersifat kekerasan, itu hanyalah respon dari pijatan yang Sultan berikan, berhubung ayah Sultan hebat dalam segi memijat bagian refleksi otot-otot manusia, makanya ia pun memberikan totokan tersebut sebagai salah satu tektik akupuntur tanpa jarum.

__ADS_1


Dimas masuk ke dalam mesjid bersama dengan Sultan, dia pun lalu berwudu kembali, dikarenakan dia takut bajunya yang agak sedikit kotor itu membatalkan ibadahnya nanti.


"Widih, dih ... makin ganteng aja lu Dim, sumpah dah, rajin-rajinlah berwudu seperti ini, agar wajah lu semakin bertambah bersinar lagi, dan jangan lupa setelah wudu laksanakan salatnya juga oke, engga Brodut," ujar Sultan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis di hadapan Dimas.


"Alahh ... intinya mau sampai kapan pun tetap saja sama, apa yang gue lakukan akan selalu salah dimata elu Tan," ucap Dimas yang sudah mengetahui semua isi dalam pikiran buruk Sultan itu seperti apa di sana.


"Elu engga ingat apa Dim, hanya cewe yang engga mau disalahkan, dan hanya cewe yang sering merasa dirinya itu adalah sosok yang paling benar, sebenarnya tugas seorang cowok itu tidak lain hanya bisa mengalah untuk kepentingan pribadi mereka sendiri."


"Engga biasanya elu berbicara benar seperti ini Tan, yaudah Tan, kita salat dulu aja, nanti kita bahas masalah ini lagi di kontrakan."


"Siapa juga yang mau membahas masalah ini sama lu! elu itukan orangnya engga nyambung! gue bilangnya apa, dan elu malah menjawab kenapa, lagian ucapan gue itu adalah sebuah ketidak sungguhan gue dalam melontarkannya."


"Elu yang bego!".


"Daripada elu, mudah termakan dengan omongan seseorang tanpa elu melihat dahulu alasannya itu seperti apa, nanti jangan kayak gitu lagi ya, engga baik tuh, apalagi engga semua cewe seperti itu loh Dim seriusan dah."


Tak lama kemudian Sultan pun pergi meninggalkan Dimas di depan teras mesjid seorang diri, hingga pada akhirnya dia dibuat bingung lagi oleh sikap Sultan, padahal apa susahnya dia mengucapkan beberapa lontaran kata kepadanya bahwa sebenarnya dia akan masuk ke dalam mesjid lebih dulu.


Dengan sangat kejamnya Sultan mengabaikan Dimas tanpa dia mau memberikan sedikit saja lontaran kata serta tak ingin mentap raut wajah Dimas sedikit pun di sana.

__ADS_1


__ADS_2