Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 40 : Memulai kembali perbincangan


__ADS_3

Malam itu, setelah Sultan melaksanakan kewajibannya di sana, ia pun tak mau berlama-lama lagi membuat Rere semakin lama menunggu dirinya di sana. Ia pun lalu mengambil handphonenya tersebut di kamarnya, dan kemudian ia pun lalu menelepon Rere sembari berjalan keluar, untuk duduk di kursi yang berada di depan teras rumahnya itu.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.


"Jeng-jeng, haii, kangen sama gue kagak elu Re?".


"Dih, apaan sih elu Tan! kenapa lu?".


"Gue rindu ni Re, gue pengen banget nyamperin elu ke sana, tapi di luar ujannya gede beut dah, maka dari itu gue engga bisa pergi jauh dari rumah ini Re, untuk sekarang."


"Boleh kok, Tan, sini aja main, tapi jangan lupa bawa martabak hangat buat gue ya, Tan, hehe."


"Iya entar aku beliin ya, tapi engga sekarang, soalnya kalau nanti gue sakit! elu pasti sedih."


"Kepedean amat elu Tan! dasar bolot!" ucap Rere sembari tersenyum melihat sikap Sultan yang seperti itu.


"Kuat bergadang engga elu Re? kalau kuat bergadang temenenin gue nanti ya, soalnya gue harus off dulu buat ngebantuin bapak gue, yang entah dia akan menyuruh gue apa, gue juga engga tahu Re," ucap Sultan berbohong! yang padahal ia ingin meminta tolong kepada ayahnya itu, untuk mengurut kakinya yang terkilir itu.


"Oke, siapa takut! kalau gitu gue mau charger Hp gue dulu ya, supaya nanti bisa dipakai buat bergadang nemenin elu," ucap Rere yang nampak tak mencurigai sikap pacarnya itu.


Tak lama setelah itu, Sultan pun lalu menutup teleponnya, dan ia pun di sana tak banyak berkata-kata lagi, dikarenakan ia takut akan Rere mengetahui keadaan dia yang sekarang di sana separah dan sepatal apa.


Tutt, tutt ... suara telepon dimatikan oleh Sultan.


Sultan pun lalu masuk kembali ke dalam rumahnya sembari berjalan dengan kaki yang terpincang-pincang itu di sana. Ayah dan ibunya sontak melihat, dan lalu mereka berdua pun menanyakan kenapa Sultan berjalan terpincang-pincang seperti itu di sana.


"Kenapa kakimu Tan?" ucap ibunya terlihat khawatir.


"Biasa Mah, udah rebahan di aspal tadi," ucap Sultan terlihat santai karena ia tidak mau melihat kedua orang tuanya itu mengkhawatirkan dirinya.


"Asik, ada yang mau dipatahin nih kakinya," ucap ayah Sultan yang sedang membercandai dirinya.

__ADS_1


Sultan pun tersenyum, ketika ia melihat sikap ayahnya itu begitu menganggap dirinya seperti teman dekatnya sendiri. Sultan pun lalu duduk di samping ayahnya sembari melentangkan kakinya itu dengang perlahan.


"Waduh, parah ini mah ni Tan! harus dipotong satu ini mah kakinya sama gergaji besi! tunggu sebentar, bapak mau ambil gergajinya dulu di dapur."


Sultan pun tak merasa khawatir karena sejak kapan ayahnya itu mengambil gergaji besi miliknya itu di dapur rumah, dan sedangkan beliau selalu menyimpan perkakasnya itu di dalam lemari, yang di mana lemari itu selalu disimpan di luar rumah.


Ibu Sultan hanya bisa tersenyum di sana, dan ia pun menanyakan sesuatu hal kepadanya, apakah Rere mengetahui keadaan dia yang sekarang itu. Namun, di sana Sultan tak membiarkan ibunya itu untuk memberitahukan hal ini kepada Rere karena bilamana Rere tahu, dia pasti akan pergi menemuinya di rumahnya itu.


Sultan takan pernah membiarkan Rere berjalan sendiri untuk menemuinya di sana karena ia takut! bahwa nanti akan terjadi sesuatu hal yang bisa membuat Rere celaka, dan membuat dirinya merasa sangat khawatir dengan keadaannya itu nanti.


....


Tak lama setelah itu, ayah Sultan lalu menghampiri dirinya kembali sambil membawa minyak, yang di mana minyak itu akan dipakai untuk mengurut kaki Sultan di sana. Minyak itu bisa membantu menghilangkan rasa sakit ketika mana ia akan diurut nantinya.


"Aihh ... jangan keras-keras atuh Pak! kejam amat dah sama anak sendiri," ucap Sultan malam itu sembari tertawa menahan rasa sakitnya itu, ketika mana ia sedang diuruti oleh ayahnya tersebut.


"Hah, apa Tan? kurang sakit! oke, kalau begitu bapak tambahin rasa sakitnya ya, Tan."


"Bener-bener ni bapak gue ya! Psikopat kayaknya dia. Udah tahu anaknya lagi sakit! malah dibikin sakit lagi," ucap Sultan dalam hati.


"Lama bener dah pak! udah beres belum?".


"Baru aja satu menit Tan, belum juga ada satu jam."


"Bapak gue bener-bener mau bunuh gue kayaknya!" ucap Sultan dalam hati.


"Udah sana tidur, udah beres."


"Mau kemana tidur Pak? ayam juga masih pada nonton bola di rumah janda sebelah jam segini mah," ucap Sultan sembari masuk ke dalam kamarnya kembali.


Tak lama setelah ia masuk ke dalam kamarnya, Sultan pun lalu pergi ke depan teras rumahnya kembali. Ia pun lalu duduk sembari melihat Whatsapp Rere yang masih aktif itu. Dan lantas Sultan pun menelepon Rere kembali di sana.

__ADS_1


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon video berbunyi.


"Haii, kelamaan kagak Re, gue ngilangnya?".


"Kagak kok, Tan, santai aja."


"Mata elu merah banget Re! kenapa engga tidur aja elu gih."


"Udah lama-lama nungguin! elu malah nyuruh gue buat tidur! aneh elu mah Tan."


"Marah-marah mulu dah elu mah Re! yaudah lah, kalau rindu bilang aja? mumpung gue lagi free Job nih, jadi gue bisa nemenin elu Videocall sampai pagi."


"Orang sibuk emang susah buat diajakin kompromi ya," ucap Rere sembari menjauhkan pandangannya itu dari Sultan.


"Itu semua gue lakuin buat elu-elu juga Re," ucap Sultan yang sama-sama menjauhkan pandangannya itu dari Rere.


Dengan seketika, Rere pun menatap Sultan kembali, namun di sana Sultan tak melihat Rere, bahwa dia sedang menatap dirinya di sana. Dan lantas Sultan pun kembali menatap Rere, namun dengan seketika, Rere kembali menjauhkan pandangannya itu dari Sultan.


"Lahh ... kenapa elu Re? padahal kan kalau elu mau memandangi gue mah boleh-boleh aja kok, dan gue engga akan pernah melarangmu untuk itu," ucap Sultan yang membuat Rere menjadi semakin salah tingkah dibuatnya.


"Apaan sih Tan! gue, engga, emm," ucap Rere gugup.


"Tuh kan elu gagu Re, hehe. Elu engga akan bisa berbohong sama gue Re, soalnya pipimu itu pasti akan memerah, disetiap kali elu berbohong sama gue Re,"


Tutt, tutt ... suara panggilan video dimatikan oleh Rere.


Di sana Rere tiba-tiba mematikan Videocallnya itu, Sultan pun merasa tak heran! bahwa ia pasti akan bersikap seperti itu kepada Sultan, karena Rere adalah tipe wanita yang agak pemalu, dan bahkan sama pacar sendirinya pun ia masih malu-malu sendiri seperti itu.


Tak lama setelah itu, Rere pun meminta izin kepada Sultan untuk pergi tertidur lebih dulu karena ibunya menyuruh Rere untuk tertidur.


"Aku disuruh mamah buat tidur Tan."

__ADS_1


"Mau kamu tertidur pun itu engga akan membuatku melepaskan tanggung jawabku di sini untuk mendoakan kamu Re," ucap Sultan yang membuat Rere merasa bahagia di malam itu.


"Berkelana sejauh mungkin pun takan pernah bisa membuatku pergi jauh dari pelukanmu karena di kota kelahiran ini lah, semua cinta itu hadir, dan sehingga tak ada tempat ternyaman mana pun yang bisa membuatku kembali merindumu di sini," ucap Sultan sembari menatap indahnya rembulan malam dikala hujan sedang melanda seluruh kotanya itu.


__ADS_2