Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 412 : Senja adalah sang pengingat yang baik


__ADS_3

Sebelum Sultan dan kakaknya itu pergi kembali ke perkemahan, Sultan sempat bertanya kepada Teh Mawar, yang di mana ia berbicara kepadanya berapa lama keluarganya itu akan menginap di sini.


Dan tentunya mereka semua takan secepat itu untuk pergi kembali ke Bandung, dikarenakan esok hari mereka akan pergi ke Curug Ciberem.


"Berapa lama teteh akan menginap di sini?" ucap Sultan sembari melirik wajah kakaknya itu kembali lewat kaca spion motor tuanya itu.


"Entah lah Tan, tapi kata bunda kita akan menginap di sini selama satu minggu, dan itu juga belum pasti karena satu minggu itu terlalu lama untuk kita," ucap Teh Mawar, yang di mana dia pun sempat menatap wajah Sultan lewat kaca spion motornya.


"Mungkin besok Sultan bakalan balik ke sini lagi, setelah mengantarkan Rere pergi PKL, dan kalau misalnya kalian mau duluan pergi ke Curug Ciberem, nanti Sultan bakalan nyusul kalian ke sana."


"Jangan wacana! karena teteh engga suka dikasih harapan palsu, apalagi harapan palsu itu diberikan oleh adik teteh sendiri."


Ucapan yang selalu diberikan oleh kakaknya itu, selalu saja membuat Sultan bingung, dan terlebih ketika mana dia berbicara seperti itu kepadanya, ia merasa bahwa semua keluarganya memang benar-benar mengharapkan Sultan untuk datang.


Setelah perbincangan singkat Sultan bersama dengan kakaknya itu, motor tua pun kembali dimatikan. Ia pun lalu pergi menemui Rere, yang di mana kekasihnya itu masih saja berbincang hangat bersama dengan bundanya di sana.


"Oyy, mau pulang kagak? udah mau sore ni," ucap Sultan yang langsung duduk di samping bundanya itu sembari merangkul bahu bundanya dengan manis.


"Bentar lagi Tan, kita nunggu azan salat asar aja dulu ya, soalnya nanggung kalau pulang sekarang," ucap Rere.


"Yaudah iya Re, terserah kamu," ucap Sultan yang memang dia tidak mau banyak berbicara panjang lebar kepadanya untuk saat ini.


"Sultan nitip Rere sebentar ya, bunda, soalnya ada suatu hal yang harus Sultan dengar dari teteh."


"Iya Tan, Rere aman kok, sama bunda, kalau kamu mau ninggalin dia di sini sendiri juga engga apa-apa kok, soalnya bunda pasti bakalan ngerawat dia, dan bahkan bunda bakalan bawa dia pergi ke bandung aja," ucap bunda, yang di mana beliau pun sempat memeluk tubuh Sultan kembali.

__ADS_1


Sultan hanya bisa tersenyum, dan setelah itu ia pun lalu pergi meninggalkan mereka untuk mendekati kembali kakaknya, yang di mana memang kelihatannya dia sedang memikirkan suatu masalah, entah itu masalah apa? Sultan hanya bisa menunggu kakaknya itu bercerita panjang lebar kepadanya.


Ia pun lalu duduk kembali di samping kakaknya itu, dan lantas dengan seketika kakaknya itu tersenyum entah karena apa kepada Sultan, namun Sultan pun hanya bisa membalasnya dengan senyumannya juga.


"Ada apa ni? cerita dong sama Sultan?".


"Engga apa-apa Tan," ucap kakaknya itu sembari menatap Sultan dengan seketika saja, dan lalu setelah itu dia pun kembali menundukan kepalanya itu.


"Yaudah kalau begitu, Sultan tinggal teteh sebentar di sini ya," ucap Sultan sembari pergi meninggalkannya di sana, namun pada waktu ia akan pergi meninggalkannya, kakaknya itu tiba-tiba memanggil namanya, dan lantas ia pun lalu pergi menghampirinya kembali.


Sultan pun lalu duduk di sampingnya kembali, yang di mana kakaknya itu terkejut, dikarenakan dia mengira bahwa Sultan akan memeluknya, namun ternyata Sultan hanya ingin mengambil gitar yang ada di belakang badan kakaknya itu.


....


Dan Sebelum itu, Sultan pun sempat terkejut juga, yang di mana ia mengira bahwa kakaknya itu akan menampar pipinya di sana, namun tentunya mereka berdua pun sama-sama tertawa dengan lepas, dikarenakan reaksi kejut mereka pun sama-sama mereka rasakan dengan seksama.


"Ihh, dikira tadi kamu mau meluk gue," ucap kakaknya itu sembari terkejut melihat reaksi Sultan, yang di mana padahal tadi Sultan hanya ingin mengambil gitar saja.


"Meluk? mau dong dipeluk, lagian tingkat kepedeannya terlalu berlebihan sih! tadi itu Sultan cuma mau ngambil gitar di belakang teteh."


Setelah Sultan mengambil gitarnya itu, dan kemudian kakaknya itu pun lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sultan dengan manisnya sembari bernyanyi bersama dengannya di sana.


Sungguh cepatnya seorang Sultan itu mengambil sikap perhatian kakaknya itu, dan tentunya bilamana Sultan terus berada di sampingnya, dia memang benar-benar bisa merasakan kebahagiaan itu selalu datang menghampirinya dikala dia memang benar-benar sedang merasa terpuruk akan suatu masalah yang bisa membuatnya kembali membelenggu.


Dan di sana, Sultan memang sedang mencari celah, yang di mana ia harus bisa membuatnya tersenyum terlebih dahulu, dan di situ lah waktu itu akan hadir, yang di mana Sultan pun baru akan bisa mendengarkan kembali kakaknya itu berkicau kepadanya.

__ADS_1


Panggilan suara azan pun telah dikumandangkan, dan lalu Sultan pun pergi untuk melaksanakan salat asaranya itu terlebih dahulu, namun waktu itu ia pun takan berlama-lama lagi untuk tetap tinggal di sana, dikarenakan hari itu ia pun akan pergi kembali mengantarkan kekasihnya itu untuk pergi pulang ke dalam rumahnya.


"Besok adikmu ini akan kembali ke sini, dan tentunya esok teteh harus berbicara terus terang kepada Sultan, dikarenakan raut wajahmu takan pernah bisa membohongi hatimu," ucap Sultan kepada kakaknya sembari mencubit pipi kakaknya itu terlebih dahulu sebelum ia akan pergi meninggalkannya di sana.


Kakanya hanya tersenyum, dan itu adalah sebuah jawaban yang dia berikan kepada Sultan, dikarenkan ia pasti akan bisa memahami apa dari senyumannya itu di sana kepadanya.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara motor kembali menyala, dan tentunya Sultan dan Rere pun sama-sama memeluk tubuh bundanya itu kembali.


Motor tua itu kembali di jalankan oleh Sultan, dan Rere pun akhirnya bisa memeluk tubuh Sultan kembali, namun pada saat itu Rere bertanya kepadanya, bahwa jaket yang ia kenakan itu kemanana, dan tentunya Sultan lupa untuk mengambil jaket gunungnya itu kembali, yang di mana waktu itu jaketnya tengah digunakan oleh kakaknya di sana.


"Jaketmu kemana Tan?" ucap Rere.


"Astaghfirullah, gue lupa Re! kalau jaket gue ada sama teteh gue di sana, engga apa-apalah, mungkin besok gue akan kembali lagi ke sini."


"Pengen ikut lagi Tan, pliss."


"Engga boleh Re! besok elu kan harus PKL, dan kalau pun elu maksa untuk tetap ikut, gue engga bakalan ngizinin kamu untuk pergi ke sana."


"Besok itu tanggal merah Be, dan tentunya PKL pun pastinya libur lah dodol!" ucap Rere, yang di mana tentunya besok itu bukanlah hari libur, melainkan dia berbicara seperti itu karena ingin mengecoh Sultan supaya ia bisa mengajak pergi Rere kembali ke tempat itu.


"Engga ada tanggal merah! emangnya gue engga tahu gitu Re! tentunya gue tahu lah Re," ucap Sultan yang memang ia tak bisa Rere bohongi begitu saja.


Perjalanan yang cukup melelahkan, dan hingga pada akhirnya Sultan pun telah tiba di rumah Rere, dan tentunya ia pun tak langsung masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu, dikarenakan senja telah terlihat, dan takan lama lagi malam pun akan segera tiba menemaninya kembali.

__ADS_1


Kecupan itu, kembali Rere berikan, namun tentunya kecupannya itu bukanlah kecupan dipipi, melainkan hanya sebuah kecupan ditangannya saja.


__ADS_2