
"Tan, gimana hubungan elu sama Rere?" ucap Iman kepada Sultan sembari menepuk pundak kawannya itu yang terlihat bahwa dia tengah merasa sangat bahagia di hari itu.
"Baik-baik aja Men. Elu gimana sama dia?" ucap Sultan kepada Iman yang padahal ia sedang meledeknya di waktu itu.
"Dia siapa?".
"Dia yang udah datang, lalu pergi dengan seketika tanpa memberi kabar!".
"Ehh, hmm, hmm, maksudnya apa nih Bro, hehe."
Dan seketika Taufik pun tertawa lepas ketika ia mendengarkan ucapan yang tadi Sultan lontarkan kepada kawan gilanya tersebut.
Iman pun di sana hanya bisa tersenyum pasrah karena apa yang Sultan ucapkan itu memang nyata terlihat sampai sekarang, bahwa dia masih sendiri tanpa seorang kekasih hati.
"Makanya Men, kalau nyari wanita itu yang seumuran, umurnya sama elu! bukannya malah nyari janda! kan beda jauh Bro," ucap Sultan yang terus-terusan meledek kawan gilanya itu.
"Asem-asem, kalau emang udah nasib ya, harus bagaimana lagi Tan, padahal gue itu setia orangnya."
"Setia ucapmu! cowok kayak elu mana bisa dapetin cewe yang elu mau dan sedangkan elu itu orangnya agak aneh, semua cewe elu deketin! kan kagak logis di lihatnya!" ucap Taufik memotong pembicaraan mereka sembari meledek keras Iman.
Tak lama setelah perbincangan itu, mereka bertiga lalu pergi meninggalkan kosan tersebut untuk pergi masuk ke dalam sekolah karena mereka pun masih harus mengikuti rapat, yang sudah anak-anak Pramuka atur semuanya.
Dengan santainya mereka berjalan menuju sekolahnya itu, dan sehingga ketua Pramuka pun menelepon Sultan untuk menyuruhnya mengumpulkan anggota-anggotanya yang masih belum hadir sampai saat itu.
"Tan, elu di mana? jadi kagak ke sekolah! yang lain udah pada kumpul nih, tinggal elu sama anggota elu aja yang belum ada di dalam kelas ruang rapat!," ucap ketua Pramuka waktu itu kepada Sultan dengan tegas.
"Siap Kang, saya sama Iman, sama Taufik segera masuk ke dalam kelas secepat mungkin."
"Oke, buruan Tan! keburu pembina kita datang nanti."
Setelah mendengar ucapan ketua Pramuka, mereka bertiga pun lalu berlari menju ruang kelas yang di mana semua anak Pramuka sedang berkumpul di sana. Sultan sontak melihat ke suatu arah yang di mana pembina Pramuka itu tengah berjalan perlahan menuju ruang kelas.
__ADS_1
Sultan, Iman, dan Taufik tidak mau mengambil resiko! dan lantas lebih baik mereka menghampiri pembina tersebut supaya mereka bisa terlolos dari suatu masalah.
"Asalamu'alaikum Bu," ucap Sultan sembari mengecup tangan ibu pembina Pramuka tersebut.
"Wa'alaikum Salam, kalian baru datang bukan?".
"Iya Bu, maaf kita terlambat," ucap Sultan, yang di mana ia selalu menjadi penengah bagi mereka karena di sana Sultan yang lebih mengerti sikap dari ibu pembinanya tersebut.
"Engga apa-apa, ayo kita masuk ke kelas buat rapat dulu."
Setelah itu mereka merasa lega, Iman dan Taufik pun merasa bahwa ucapan Sultan itu selalu benar, untuk tidak melawan ataupun menjauhi kesalahan yang mereka perbuat itu.
Mereka pun lalu masuk bersama dengan guru pembina Pramuka tersebut dengan damai. Mereka bertiga lalu duduk di kursi yang telah disediakan di ruangan kelas.
Dengan seketika seluruh anggota Pramuka berdiri semua untuk menyambut kedatangan pembina tersebut di dalam ruangan kelas.
"Asalamu'alaikum, silahkan kalian duduk kembali," ucap pembina Pramuka.
Ada dua pembina Pramuka di SMK 4 dan tentunya dia juga tak kalah menyeramkan dari ibu Yeli. Dan dia adalah Pak Agus, sosok pembina Pramuka yang berbadan besar dan tinggi juga.
Anak-anak Pramuka sangat membanggakan guru tersebut karena ia adalah sosok guru yang sangat menyeramkan dan guru yang paling ditakuti oleh semua siswa, dan bahkan kepala sekolah pun takut dengannya karena beliau pernah di marahi oleh guru tersebut.
....
"Kali ini kita rapat dengan singkat saja, langsung masuk ke dalam intinya saja."
"Baik Bu," ucap anak-anak Pramuka dengan serentak.
"Anak-anak Pramuka yang merasa dirinya laki-laki akan ditugaskan untuk membantu anak-anak OSIS yang wanita, dan sedangkan bagi anak Pramuka yang wanita sebaliknya ya, kalian akan membantu anak-anak OSIS pria."
"Di dalam kotak ini ada sebuah kertas kecil yang di mana semua itu akan menentukan kalian untuk berada dan membantu anak-anak OSIS di kelas yang mana."
__ADS_1
"Namun, untuk kamu Sultan, silahkan maju ke depan. Kamu akan menemani Rere di ruangan kelas yang di mana kelas itu terdapat banyak sekali siswa nakal, maka dari itu ibu mempercayakan Rere sama kamu, beri mereka pelajaran yang setimpa bilamana mereka susah diaturnya ya, Tan," ucap ibu Yeli panjang lebar, dan sehingga akhirnya di sana Sultan merasa sangat senang dengan keputusan gurunya tersebut.
Tak lama setelah ibu Yeli berbicara seperti itu, sorak tawa pun di keluarkan oleh seluruh anggota Pramuka yang ada di dalam ruangan kelas itu. Namun di sana Sultan tak merasa terkejut dan masih bersikap profesional di hadapan ibu Yeli dan juga rekan-rekan seperjuangannya itu.
Ibu Yeli pun lalu keluar dan menyuruh seluruh anggota Pramuka untuk melaksanakan upacara bendera hari Senin terlebih dahulu.
"Akang engga bisa ikut kalian ya, Tan, Akang soalnya punya tanggung jawab sendiri di sini," ucap Kang Rizab, salah satu ketua Pramuka di SMK 4 atau bisa dibilang dia adalah Pradana di organisasi Pramuka.
"Siap Kang, serahin tugas ini sama Sultan, Sultan engga akan mengecewakan nama baik Pramuka."
Setelah itu, mereka pun lalu melaksanakan upacara bendera bersama-sama, dan sekaligus kepala sekolah SMK 4 membuka acara Pembaretan itu secara resmi.
Upacara pun tak terlalu lama, semua kembali bubar dan masuk ke dalam kelas kembali untuk melaksanakan pembelajaran bagi siswa yang tidak menjadi panitia persiapan Pembaretan.
Semua anggota Pramuka telah masuk ke dalam kelas yang sudah ditentukan oleh ibu Yeli tadi. Namun, di sana hanya Sultan saja yang belum masuk ke dalam kelas itu karena ibu Yeli menyuruhnya untuk menunggu sekejap.
Terdengar sangat berisik sekali di luar ruangan! sampai Sultan pun merasa kasihan! kenapa bisa Rere berada di dalam kelas itu, dan sedangkan kenapa bukan orang lain saja yang membimbing calon siswa tersebut.
Ibu Yeli lalu masuk ke dalam kelas Rere, dan ketika ibu Yeli masuk pun siswa nakal itu masih tetap bersuara, sehingga Sultan yang mendengarkannya pun merasa sangat geram atas prilaku buruk mereka.
"Kalian bisa engga diam sebentar! apa kalian mau ibu tendang dari sekolah ini! hargai pembimbing kalian! mereka sudah sabar mendidik kalian dengan sabar di sini," ucap ibu Yeli yang membuat suasan kelas menjadi hening seketika.
"Bu, apakah Rere harus menangani mereka sendiri di sini? apakah engga ada yang mau ngebantuin Rere? Rere cape Bu, sama sikap mereka!" ucap Rere begitu lemas.
"Ada kok, tunggu aja sebentar!".
Ibu Yeli pun lalu keluar dari kelas tersebut, dan dengan seketika kelas itu kembali ramai setelah guru tersebut keluar dari kelasnya. Suasana begitu kacau sehingga Rere pun di sana sangat kewalahan mengurus siswa-siswa nakal tersebut.
Dan sementara itu, di depan kelas Sultan hanya menggelengkan kepalanya karena ia merasa bahwa siswa yang ada di dalam kelas itu tak pantas untuk masuk ke dalam sekolah tersebut.
Duarr ... suara pintu kelas di tendang oleh Sultan begitu keras dan sehingga siswa yang berada di dalam pun terkejut lemas ketika mana mereka melihatnya.
__ADS_1
Seketika ruang kelas pun menjadi hening, lantas Sultan pun belum merasa puas dan lalu dia menutup kembali pintu kelas itu dengan sangat keras kembali.