Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 422 : Kisah perjalanan cinta


__ADS_3

Masih di jalan yang sama, yang di mana Sultan di sana mengambil jalan yang jauh supaya ia bisa berdua-duaan kembali bersama dengan Rere di jalan sana.


Rere pun nampak tak merasa heran! karena Sultan memang seperti itu orangnya. Dia akan selalu mengulur-ngulur waktunya itu bilamana ia sedang bersama Rere di sana.


"Kebiasaan elu mah Tan," ucap Rere sembari melirik Sultan lewat kaca spion motornya itu.


"Kebiasaan apa sih Re?".


"Bisa engga sih Tan, kalau ngambil jalan itu yang deket-deket aja? engga usah yang jauh kayak gini?".


"Jalan-jalan dulu kenapa sih Re ... elu udah bosen main sama gue bukan? kalau elu udah bosen main sama gue bilang! biar nanti gue ambil jalan yang paling jauh lagi supaya gue bisa membawa elu ke tempat yang di mana semua orang engga akan tahu kita ada di sana."


"Ke mana emangnya Tan?".


"Ini anak polos amat dah! udah tahu pacarnya ini rese! masih aja dia nanya balik! emang engga ada duanya dah pacar gue yang satu ini," ucap Sultan dalam hati sembari melirik Rere lewat kaca spion motornya itu.


"Kuburan, hehe," ucap Sultan sembari menertawakan Rere di jalan sana.


"Ihh, rese banget sih Tan, jadi orang! kalau tahu jawabannya bakalan kayak gitu, gue lebih baik diem aja tadi," ucap Rere sembari mencubit Sultan dengan keras.


Sultan pun tertawa lepas di jalan sana, dan ia pun lalu melirik Rere kembali lewat kaca spion motornya itu. Rere pun di sana mencoba untuk tidak ikut tertawa bersama dengan pacarnya itu, namun di sana Rere sudah masuk ke dalam suasana nyaman, dan hingga pada akhirnya ia pun tertawa bersama dengan Sultan.


Tak lama setelah itu, Sultan pun lalu pergi ke tempat yang di mana semua guru, panitia OSIS, para anggota TNI, dan para pembimbing sedang berkumpul di sana.


Lapangan bola, yang di mana tempat itu kini sedang mereka singgahi di sana. tempat itu letaknya tak cukup jauh dengan kantor pembudidayaan alam Kota Sukabumi, yang di mana kantor itu sering digunakan oleh anak-anak Pramuka yang mengikuti, (Saka Kelapa Taruh), untuk belajar, bagaimana caranya menjaga alam sekitar dengan baik.


Saka itu adalah satuan karya, yang di mana anak-anak Pramuka bisa mengetahui sedikit tentang cita-cita apa yang akan kita ambil nanti, misalnya menjadi tentara, pilot, dokter, Mentri perhutanan, polisi, PMI, dan lain sebagainya.


Kembali lagi dengan Sultan dan Rere, yang di mana mereka tengah duduk berdua sambil menunggu kelompoknya itu tiba di lapangan sana.


"Kemana mereka ya, Tan? udah jam segini belum sampai juga," ucap Rere waktu itu terlihat begitu gelisah, memikirkan kelompoknya tersebut.


"Khawatir amat sih elu Re! mereka itu anak-anak kuat, jadi udah lah Re, lebih baik elu minum dulu nih," ucap Sultan sembari memberikan minuman kepada Rere.

__ADS_1


"Aku itu khawatir sama anak-anak cewenya Tan! gue takut mereka kenapa-kenapa di jalan."


Tak silam beberapa lama, ketika Rere mengkhawatirkan kelompoknya itu, kemudian kelompoknya itu pun telah tiba di lapangan tersebut sembari memasang wajah yang nampak kelelahan itu.


Rere pun lalu berdiri, namun Sultan memegang tangan Rere untuk tetap berdiam diri bersamanya di sana karena ini belum waktunya untuk para pembimbing menghampiri mereka semuanya di depan sana.


"Ini belum waktunya untuk kita menghampiri mereka Re, biarin mereka beristirahat dulu sejenak, sambil menunggu mereka mendapatkan baret yang akan mereka cari di lapangan ini," ucap Sultan masih memegang tangan Rere.


"Biarin mereka semua yang nyamperin kita di sini Re, lagian mereka terlihat baik-baik aja kan, kamu bisa lihat sendiri kan dari sini? apa perlu gue teriak! supaya mereka bisa dengar semuanya," ucap Sultan kembali kepada Rere.


"Engga usah bolot! udah ah, jangan malu-maluin gue," ucap Rere sembari menutup mulut Sultan dengan menggunakan kedua tangannya yang lembut itu.


....


Setelah perbincangan itu, kemudian kelompok Sultan pun datang menghampiri Rere dan juga Sultan. Dengan gagahnya mereka memakai baret itu di kepalanya sembari memberikan salam hormatnya kepada kedua pembimbingnya itu.


Sultan pun di sana membalas salam hormat mereka dan lalu memeluk mereka semua di sana. Mereka yang terus-terusan memberi hormat itu, sehingga membuat Sultan berpikir bahwa kali ini mereka berdua bisa melepas tanggung jawabnya itu kepada mereka semua di sana.


Dan di sana Rere juga memeluk kedua adik kelas wanitanya itu dengan waktu yang cukup lama, sehingga pada akhirnya ia bisa melepaskan tanggung jawabnya juga kepada kedua wanita itu, untuk selalu mendampingi para teman-teman prianya, agar mereka tidak masuk dan terjerumus kembali ke dalam jalan yang salah.


"Kalian sekarang silahkan istirahat terlebih dahulu, dan udah itu kalian baru boleh kembali lagi masuk dalam sekolah," ucap Rere kepada kelompoknya juga.


"Siap, para pembimbing baik hati," ucap seluruh kelompok Sultan dan Rere dengan serentak.


"Udah ini kalian bisa ganti baju menggunakan pakaian lengkap PDU, yang di mana kalian engga akan menggunakan baju kaos putih oblong beserta celana hitam lagi," ucap Sultan kembali kepada kelompoknya itu.


Dengan seketika, mereka semua pun tertawa karena kali ini mereka semua sudah resmi menjadi bagian keluarga dari sekolah SMK Negri 4 Kota Sukabumi.


Mereka pun semua kembali masuk ke dalam sekolah, namun sebelum mereka masuk dan mengganti pakaiannya itu, mereka semua dikumpulkan terlebih dahulu di dalam Gor.


Di sana lah drama kejutan itu di mulai, yang di mana semua siswa di sana dikumpulkan kembali di dalam Gor, namun waktu itu hanya kelompok Sultan yang tidak diberitahukan bahwa mereka harus bekumpul terlebih dahulu di sana.


Ini semua adalah rencana panitia OSIS dan juga para pebimbingnya masing-masing di sekolah. Setelah itu, Sultan pun lalu masuk ke dalam kelas kelompoknya itu, yang di mana mereka semua terlihat tengah merayakan keberhasilannya tersebut dengan cara berfoto-foto di dalam kelas.

__ADS_1


Sultan pun masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa hanya ingin membuat mereka merasa panik saja.


"Woii, kalian bukannya masuk ke dalam Gor, Akang sama Teh Rere udah nungguin kalian di dalam sana dari tadi! ayo cepat! masuk ke dalam Gor sebelum baret kalian diambil lagi," ucap Sultan waktu itu kepada semua kelompoknya.


"Maaf Boy, Akang engga bermaksud ingin membuat kalian merasa khawatir seperti ini kembali, tapi emang udah caranya begini karena ini adalah kebiasaan sekolah kita dari dulu, merayakannya dengan cara yang lebih tegang sedikit," ucap Sultan dalam hati.


Dengan seketika, kelompok Sultan pun berlarian masuk ke dalam Gor sekolah. Dan seketika itu, suara tepuk tangan pun diberikan kepada mereka sebagai ucapan keterlambatan mereka masuk ke dalam Gor sana.


"Ini yang dinamakan siswa teladan? masa iya siswa teladan masuk terlambat! udah itu lama lagi masuknya!" ucap ketua OSIS waktu itu.


"Huuh ... dasar siswa pemalas! bikin gara-gara aja kalian semua! mendingan kalian pergi aja sekalian dari sekolah ini," ucap kelompok lain, sembari merendahkan kelompok Sultan.


"Diam kalian semua siswa bodoh! mana kita tahu kalau udah acara itu selesai, kita akan dikumpulkan kembali di dalam Gor ini. Dan lagian engga ada informasi yang kita dengar di dalam kelas sana, bahwa seluruh siswa baru akan dikumpulkan kembali di dalam Gor pengap ini," ucap salah satu pemimpin dari kelompok Sultan waktu itu dengan lantang.


"Kita berkumpul di sini ingin saling meminta maaf, setelah itu kita di sini akan merayakan keberhasilan kalian semua, tapi saya akan menarik kembali ucapan saya, beserta saya akan mengambil baret kalian kembali," ucap ketua OSIS kembali.


"Huuh ... semua gara-gara elu pada! dasar siswa pemalas," ucap seluruh kelompok lain yang masih merendahkan kelompok Sultan di dalam Gor sana.


Emosi pun mulai pecah di dalam Gor sana, kelompok Sultan dan kelompok lain mulai tak bisa menahan amarahnya masing-masing, namun di sana Sultan lah yang diperintahkan untuk menjadi penengah terbaiknya waktu itu.


"Diam kalian semua! siswa-siswa payah! kalian pikir emang enak menjadi mereka di sini, kalian pikir sendiri bahwa kita di sini berjuang bersama, bukan untuk berkelahi bersama. Kalian kira mereka akan tahu bahwa kita akan dikumpulkan di sini kembali, dan kalian kira mereka sudah dikasih tahu oleh panitia OSIS sebelumnya! apa kalian tahu hah, siswa bodoh!".


"Kalau saya bisa memilih untuk keluar dari sekolah ini demi mereka! saya siap, dan saya akan mundur demi mempertahankan perjuangan berat mereka di dalam sekolah ini, dan teruntuk kalian yang hanya bisa memandang rendah martabat seseorang, silahkan maju semua! kalian semua! para OSIS, para pembimbing kelompok, para guru, ayo maju semua,"


Dengan seketika, kelompok Sultan berdiri semua, selangkah demi selangkah mereka meninggalkan Gor sekolah, namun di dalam sana ketua OSIS pun segera memberhentikan dramanya itu karena ia merasa sudah cukup puas, menjahili adik kelasnya itu semua di dalam Gor sekolah sana.


Suara tepuk tangan diberikan kepada seluruh siswa baru di dalam Gor sana. Mereka pun terheran-heran! dan bahkan ada beberapa siswa yang menyadari bahwa ini semua hanyalah drama yang dibuat-buat saja.


Seluruh siswa baru, panitia OSIS, dan juga para pembimbing di dalam sana saling bersalaman, namun tidak dengan kelompok Sultan yang lebih memilih memeluk semua rekannya itu di dalam sana.


Dengan seketika, kelompok Sultan pun kembali memeluk pembimbing kejamnya itu kembali. Ucap kata terimakasih pun mereka berikan kepada kedua pembimbingnya itu di dalam sana.


"Mau peluk Teh Rere juga Kang, boleh engga hehe!" ucap seluruh kelompok Sultan waktu itu yang tengah membercandai dirinya.

__ADS_1


"Boleh kok, silahkan, kalau kalian mau masuk rumah sakit satu persatu! ayo silahkan peluk hehe," ucap Sultan yang seketika membuat seluruh kelompoknya kembali tertawa di dalam Gor sana.


__ADS_2