Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 413 : Di kala air mata terjatuh


__ADS_3

Tapp, tapp, tapp ....


Suara langkah kaki dilangkahkan perlahan demi perlahan, dan itu membuat suara napas pun semakin tersengal-sengal seperti layaknya orang yang hampir mati, namun tidak dengan Sultan, yang di mana ia berjalan dengan tegaknya sembari menyeimbangkan anggota tubuhnya itu, supaya ia bisa merasakan kembali, apakah umur bisa menelan rasa semangatnya itu di atas puncak yang tidak terlalu tinggi itu di sana.


Langkah kaki Rere pun sempat terhenti, dan Sultan pun lalu menoleh ke arahnya, yang di mana ia pun lalu menjongkokkan kedua kakinya itu, supaya Rere bisa ia gendong hingga ke atas puncak.


"Cape ya? jangan mau kalah dong, semangat Rere, kamu pasti bisa kok, soalnya pacar gue engga selemah yang gue kira, dikarenakan semangatmu adalah semangatku, dan bilamana aku melihat dirimu seperti ini, maka anggota tubuhku pun ikut melemah," ucap Sultan sembari melepaskan sandal yang tengah Rere pakai itu, dikarenakan ia akan menggendong tubuh Rere yang sepertinya dia sudah tidak kuat lagi melangkahkan kakinya itu di sana.


"Kok, di lepasin Tan, sandal gue? emang ada yang salah sama sandal gue ya?" ucap Rere yang nampak heran, kenapa pacarnya itu melepaskan sandal yang tengah ia kenakan itu di sana.


"Ayo naik Re, biar aku gendong kamu sampai ke puncak, pokonya kamu jangan banyak membantah, dikarenakan sebentar lagi kita akan sampai ke puncak," ucap Sultan yang langsung menggendong, serta memegang kedua sandal Rere itu dengan tangan kanannya.


Rere pun tak bisa menolaknya, dan malahan Rere begitu sangat senang melihat sikap manis yang Sultan berikan kepada dirinya, dan itu semakin membuat Rere merasa bahwa ia adalah pria yang sangat romantis, walaupun sikap romantis itu hanya berjalan sesaat saja, namun akan tetapi Rere masih tetap mencintai dirinya karena rasa kesenangannya itu adalah titik kebahagiaan yang Sultan berikan dengan cara yang ia punya sendiri.


Bahagia itu sederhana, dan tak perlu banyak memikirkan sebuah rencana, dikarenakan rencana itu akan datang dengan sendirinya bilamana kita telah menemuinya, dan itu adalah prinsip seorang Sultan, dan bilamana orang lain tidak memperdulikannya, tentunya ia tidak perduli, yang terpenting untuk dirinya adalah Rere bahagia saat bersamanya.


"Berat engga Tan? kalau berat biar aku jalan sendiri aja, soalnya kakiku udah bisa di jalanin ni," ucap Rere yang masih berada dalam gendongan Sultan, yang di mana Rere pun masih melingkarkan tangannya itu dengan damai kepada Sultan.

__ADS_1


"Berat dan entengnya tubuhmu ini, itu adalah urusanku Re, kamu hanya perlu diam, dan nikmati saja permandangan indah yang ingin kamu pandangi ini," ucap Sultan, yang di mana ia sama sekali tak terlihat begitu kelelahan, dan sementara itu, ke sini makin ke sini jalan pun semakin menanjak saja.


"Aku udah bisa jalan sendiri Tan, dan aku engga mau kalah kuat dari dirimu, dan terlebih aku itu bukan wanita manja," ucap Rere sembari meletakkan kedua tangannya itu di atas kepala Sultan.


"Manjanya sikapmu, hanya aku yang bisa memandanginya, dan aku engga mau melihat kakimu itu lecet, apalagi pacar gue ini baru sembuh," ucap Sultan yang masih tidak mau melepaskan, ataupun menurunkan Rere dari gendongannya itu.


"Tapi Tan ... ," ucap Rere, namun kala itu Sultan memotong pembicaraannya itu dengan seketika cepatnya.


"Sayang, apa susahnya tinggal diam, dan aku akan melepaskanmu dikala tubuhku sudah lemah untuk menggendong dirimu seperti ini," ucapan itu, sungguh membuat hati Rere terdiam, dan tentunya diamnya itu adalah sikap bahagianya.


....


"Ihh ... kok, tinggi banget sih Tan! apa aku bisa sampai ke atas puncak sana?" ucap Rere, yang di mana Sultan pun lalu menurunkan tubuh Rere itu dengan begitu manisnya.


"Kamu engga salah Re! ini engga tinggi loh Re, dan bahkan ini engga cukup tinggi dengan apa yang sedang kamu pikirkan itu," ucap Sultan sembari menatap tajam puncak itu, hingga dia merasa bahwa kali ini ia memang merindukan hal itu kembali lagi hadir menemaninya.


Tapp, tapp, tapp ....

__ADS_1


Suara langkah kaki, kembali dilangkahkan. Sultan bersama dengan Rere pun lalu mulai menanjaki tanjakan tajam itu, ia pun berdiri di barisan paling belakang, dikarenakan ia hanya ingin selalu menatap langkah kaki Rere itu dengan baik.


"Kalau mau nanjak tanjakan tajam, diusahakan tetap menjaga keseimbangan tubuhmu itu Re, dan kamu pun harus tetap bisa menegakkan punggungmu itu, supaya otot-ototmu tidak mudah lelah dan pegal," ucap Sultan sembari menatap Rere di bawah sana, yang di mana ia pun sempat berhenti sejenak, dikarenakan ia hanya ingin melihat seberapa baik Rere menjaga punggungnya itu agar tetap berdiri tegak.


"Emangnya iya gitu Tan? kok, aku baru tahu sih, pantesan kenapa dari tadi punggungku ini mudah pegal-pegal sendiri," ucap Rere sembari menatap Sultan yang tengah berdiri di belakangnya itu di sana.


"Sekarang udah tahu kan? kalau gitu kamu hanya tinggal mengikuti apa kata yang aku ucapkan tadi, pokonya kamu harus bisa, dikarenakan aku selalu mendukungmu di sini," ucap Sultan yang terlihat tengah berpura-pura tak menatap Rere, dan padahal ia sangat ingin menatap wajah malu yang Rere berikan itu kepadanya.


"Kamu adalah pacar terbaikku Tan, dan aku harap, aku bisa mengucapkan kata-kata ini padamu dengan sangat lantang, tanpa aku harus merasa malu, namun aku bukanlah dirimu Tan, dikarenakan bahagiaku itu karenamu, dan kenapa kamu bisa menuduhku kalau kebahagiaanmu itu dibuat olehku, tentu saja kamu berbohong Tan! tapi aku selalu menerima kata-kata itu, dikarenakan yang membuat diriku itu bahagia adalah dirimu Tan, bukan melainkan aku yang membuatmu bahagia," ucap Rere dalam hati, yang di mana Rere pun sempat meneteskan air matanya itu, dikarenakan kata hatinya itu sedang mewakili perasaannya di sana.


"Ternyata dia menangis ya, dasar Rere! kamu belum berubah sama sekali, dan apa pun yang sedang kamu sembunyikan dariku di sini, itu takan pernah membuat hatiku ini buta," ucap Sultan dalam hati sembari menatapi air mata yang jatuh langsung ditangannya itu.


Rere duduk terdiam, dan di sana Sultan pun lalu menyusulnya, dikarenakan tujuan yang akan mereka datangi itu di sana telah mereka injaki.


"Kalau nangis itu bilang-bilang sama aku Re, dan kamu engga perlu menanyakan kenapa aku tahu kalau kamu sedang menangis, dan bilamana kamu membantah, ataupun kamu berbohong, aku tidak akan percaya denganmu, dikarenakan air matamu ini terjatuh tepat ditangan kananku ini," ucap Sultan yang lansung duduk di samping kekasihnya itu sembari merangkul, dan memeluk bahu Rere.


"Aku sayang sama kamu Tan, dan aku harap sampai kapanpun kamu jangan pernah tinggalin aku di sini, walaupun dirimu itu merasa tertekan dengan sikapku ini, aku harap kamu bisa memperbaiki aku Tan," ucap Rere, yang di mana ia memeluk tangan Sultan ketika mana Sultan tengah merangkul bahu kekasihnya itu.

__ADS_1


Air mata Rere terjatuh, dan ia pun sengaja tidak mengusapnya, agar supaya air mata Rere itu bisa menumbuhkan bibit kenangan rasa cinta di tanah indah ini dan di Kota kecil ini.


__ADS_2