Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 97 : Gaya hidup klasik


__ADS_3

Waktu itu, dan hari itu sungguh membuat ketiga sahabatnya terdiam, yang di mana mereka bertiga pun masih terbaring lemas sembari tertawa di sebuah jalan sepi penduduk.


"Gila lu Tan! badan gue pada sakit semua! dan gue berpikir kalau tadi itu bukan elu, kayaknya gue bakalan bernasib lebih buruk dari ini," ucap Robby yang masih terbaring lemas, dikarenakan Sultan sungguh-sungguh memukulnya dengan keras.


"Sakit beut dah badan gue Tan, kenapa elu bisa dengan mudahnya ngebanting badan gue gitu aja?" ucap Danar, yang di mana tadinya dia sungguh sangat percaya diri bisa mengalahkan Sultan seorang diri.


"Elu lebih mending Nar, hanya cuma dibanting aja! lah gue, udah dibanting terus ditendang lagi," ucap Agung yang mulai bisa mengangkat badannya itu dengan perlahan-lahan.


Sultan hanya tersenyum tipis kepada mereka, dan lalu setelah itu Sultan pun pergi meninggalkan mereka bertiga begitu saja tanpa menyapanya terlebih dahulu.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara motor kembali ia nyalakan, dan dengan seketika ia pun meninggalkan sahabatnya itu di sana, yang di mana ia bersikap seperti itu kepada mereka, dikarenakan dirinya tidak mau terdahului oleh Robby.


"Yang tadi itu anggap saja manusia jadi-jadian, dikarenakan yang tadi itu bukan sosok Sultan yang asli, coba kalian pikir dah! dia cuma sendiri, dan sedangkan kita di sini bertiga, kenapa dia bisa dengan mudahnya menumbangkan kita begitu saja," ucap Robby, yang di mana dia pun masih tidak bisa mempercayai hal itu memang benar-benar terjadi kepada dirinya.


Agung, Danar, dan Robby pun masih duduk terdiam, dan mereka pun masih dibuat heran oleh Sultan, namun tentu saja keheranannya itu tak cukup sampai di situ saja, yang di mana mereka bertiga pun kemudian menyusul temannya itu dengan menggunakan motor tuanya masing-masing di jalan sana.


Selera ketiga sahabatnya itu memang benar sama dengannya, yang di mana mereka bertiga lebih memilih untuk hidup dengan gaya klasik, walaupun zamannya ini sudah serba modern, dan yang di mana itu padahal mereka semua bisa mengganti motor jadulnya itu, namun tentunya selera seseorang dalam memilih hal tersebut itu sungguh sangat berbeda-beda, dan tentunya semua orang tak berhak melarangnya, dikarenakan jalan hidup yang sederhana itu adalah mimpi mereka semua.


Dan kemudian itu, ketiga kawannya itu pun dibuat heran kembali oleh Sultan, yang di mana waktu itu Sultan terlihat tengah dihadang oleh seseorang mantan pacar kakaknya itu dulu, dan tentu saja mantan pacar dari kakaknya tersebut itu, sekarang membawa banyak kawannya, namun tentunya hal itu takan membuat Sultan mundur begitu saja.


"Tunggu-tunggu! coba lihat dah kalian semua! itu bukannya Sultan kan? kenapa anak itu sangat suka mencari masalah dengan orang lain ya? gua heran dah sama dia belakangan ini," ucap Robby, yang di mana ketiga kawannya itu langsung berlari ke arah Sultan.


Namun, ketika mana Robby dan Danar akan menghampiri Sultan di sana, yang di mana pikiran jahil dari Agung itu terlintas dengan seketika, dan tentu saja dia pun lalu mengambil kunci motor kedua kawannya itu, dikarenakan mereka berdua lupa untuk mematikan serta mengambil kunci motornya itu terlebih dahulu.


"Main lari aja mereka berdua! gue kerjain lu pada! lagian mereka ninggalin kunci motornya ini begitu aja! emangnya mereka lupa ya, kalau daerah ini rawan pembegalan," ucap Agung sembari menahan tawa gelinya itu, yang di mana dia pun lalu mengambil kunci motor tua kedua sahabatnya itu di sana.


....


Agung pun di sana sempat meneriaki kedua kawannya itu di sana, dan tentunya itu hanyalah permainan yang sedang dia buat-buat saja, agar supaya kedua kawannya itu tak menyadari suatu hal yang telah dia perbuat kepada mereka berdua di sana.


"Woii, tunggu gue!" ucap Agung, yang di mana dia pun sempat tertawa tipis di belakang mereka.

__ADS_1


"Lama amat dah elu Gung! cepat sedikit kenapa! kawan kita lagi butuh bantuan kita ni," ucap Danar, yang di mana dia pun sempat melirik Agung di belakang sana, namun pada saat Danar melihat kembali jalanan di depannya itu, dan dengan seketika itu, Danar pun lalu tersanjung karena dia menginjak tumpukan ranting pohon yang jatuh di jalan sana.


Sultan pun sempat menoleh ke arah Danar, dan yang di mana itu ia pun lalu menepuk keningnya dengan menggunkan tangan kanannya sembari tertawa kepadanya di sana.


"Aduhh, pasti sakit dah itu si bolot! tapi kenapa gue yang malah ngerasain malunya ya? dan sedangkan yang terjatuh itu adalah dia, bukan gue," ucap Robby dalam hati, yang di mana waktu itu dia pun sempat menertawakannya dengan singkat.


"Banyak drama lu bolot! sini maju!" ucap mantan pacar dari kakaknya itu sembari memukul Sultan ketika mana Sultan tengah memperhatikan Danar.


Namun, pukulannya itu tidak mengenai wajah Sultan, dikarenakan ia sempat merespon angin dari pukulannya itu di sana dengan cepat, dan alhasil Sultan pun lalu membalas pukulannya itu dengan tendangan keras diperut musuhnya itu di sana hingga terjatuh.


Ketiga kawannya itu sekarang telah berkumpul, namun alangkah susahnya Agung menahan gelagak tawanya itu kepada Danar, yang di mana ketika mereka berkumpul di sana pun, Agung masih sempat tertawa.


"Berisik elu Gung! diam kagak! atau elu mau gue pukul mulut elu itu supaya elu bisa diam!" ucap Danar sembari mengangkatkan pukulannya itu ke arah wajah Agung.


"Oke, oke," ucap Agung sembari menutup mulutnya itu dengan menggunakan kedua tangannya.


"Majuu ... ," ucap Agung kembali sembari berlari ke arah musuh dengan tawanya itu.


Perkelahian dimulai, 10 orang melawan 4 orang, yang di mana jumlah yang sedikit itu bukanlah suatu masalah bagi anak sekolahan itu, mereka tampil hebat dan penuh akan keparcayaan dirinya itu sendiri.


Bukk ....


Pukulan keras diberikan oleh Agung hingga mana dia berhasil menumbangkan satu orang, dikarenakan Agung berkelahi sembari tertawa dengan sendirinya.


"Hahaha, ada apa dengan gue ini woii! Danar, hati-hati! nanti elu jatuh lagi," ucap Agung sembari menoleh ke arah Danar dengan di iringinya suara tawanya itu.


"Berisik lu bolot! cepat pukul dia," ucap Danar, yang di mana dia menyuruh Agung untuk memukul musuh yang telah dia kunci dari arah belakangnya itu.


Bukk ....


Pukulan pelan itu, diberikan oleh Agung, yang di mana musuhnya sama sekali tidak merasakan kesakitan ketika mana Agung memukul perutnya itu.


"Pelan amat mukulnya Gung!" ucap Danar yang masih memegang musuhnya itu di belakang sana.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu! gue lemes ni Bro," ucap Agung yang terlihat lemas, dikarenakan dia berkelahi sembari tertawa tanpa henti-henti.


Bukk ....


Pukulan yang kedua kalinya itu, sungguh membuat musuhnya itu merasakan kesakitan di dalam perutnya, dan pukulan yang Agung berikan itu, sungguh membuat Danar menampar wajah Agung, dikarenakan karena ulah dia di sana, Danar menjadi terjatuh ke bawah aspal jalan.


Brukk ....


Suara tendangan itulah yang membuat Danar terjatuh, yang di mana musuhya menendang punggungnya dari arah belakangnya dengan sangat keras.


"Woii, beraninya elu nendang teman gue dari arah belakang! sini lu maju semua," ucap Agung di mode seriusnya, yang di mana Agung memukul si penendang itu dengan kerasnya hingga tubuh musuhnya itu berputar.


"Elu engga apa-apa kan Bro, Danar?" ucap Agung kembali kepada Danar, yang di mana Danar pun lalu menampar wajah Agung.


Plakk ....


Suara tamparan Danar, yang seketika membuat Agung terdiam dan mulai berhenti tertawa, dan yang di mana keseriusannya itu mulai terlihat dimata Agung.


"Aww," gumam Agung singkat.


Sultan dan Robby hanya bisa tersenyum, ketika mana mereka berdua melihat tingkah laku lucu Agung bersama dengan Danar di sana.


"Mereka berdua engga pacaran kan Rob?" ucap Sultan yang sempat tersenyum ke arah Robby sembari menumbangkan musuhnya satu-persatu.


"Engga tahu Tan, bisa jadi iya, dan bisa jadi engga, soalnya mereka berdua kalau ke mana-mana sering bersama, apakah ini semua adalah efek mereka berdua kelamaan menjomblo ya?" ucap Robby, sembari tersenyum ke arah Sultan.


Bukk ....


Suara pukulan dari musuh, sungguh mengejutkan Robby, yang di mana Sultan pun lalu memukul musuhnya itu hingga terbolak-balik.


"Engga apa-apa lu Rob?".


"Kagak Tan, gue cuma takut kalau mereka berdua saling mencintai satu sama lain."

__ADS_1


Sultan dan Robby pun di sana sempat menampar pipinya itu sendiri masing-masing, dikarenakan apa yang sedang mereka pikirkan itu di sana semoga saja tidak terjadi dan terwujud.


__ADS_2