
Hari telah berlalu, serta malam pun datang menyapanya, namun malam itu bukan lah malam yang begitu panjang, dan sehingga pagi pun mulai hadir menyambutnya dengan memberikan seribu kehangatan rasa, dan tentunya mentari pagi pun tersenyum dengan lepasnya menyambut kisah mereka berdua kembali di bumi ini.
Seperti biasa, Sultan pun kembali menjemput Rere di dalam rumahnya itu, dan itu semua adalah tugas yang selalu ia lakukan terhadap Rere, dikarenakan dengan cara itu lah Sultan bisa memastikan kalau Rere itu sedang baik-baik saja di sana.
Namun, pada saat itu Sultan dibuat khawatir oleh Rere, dikarenakan dia meminta izin untuk tidak masuk ke dalam sekolah, dan mungkin itu adalah hari pertama kalinya Rere tidak hadir di dalam sekolah, dikarenakan suhu tubuh Rere begitu tidak memungkinkan untuk dia masuk dan mengikuti pelajaran di dalam sekolah.
Tokk, tokk, tokk ... suara ketukan pintu diberikan oleh Sultan untuk menyapa orang-orang yang berada di dalam rumah.
"Asalamu'alaikum," ucap salam Sultan.
"Wa'alaikum Salam," ucap salam dari ibu Rere.
Dengan rendah hatinya ia mengecup tangan ibu Rere di depan rumahnya itu, namun pada saat itu, ibu Rere tiba-tiba menarik tangan Sultan, dan beliau pun langsung membawanya pergi masuk ke dalam kamar Rere.
Dan di sana Sultan pun merasa terkejut! ketika mana ia melihat Rere masih tertidur di kasur kamarnya itu, dan lantas Sultan pun lalu memegang kening Rere, yang di mana waktu itu suhu badan Rere sungguh panas, dan kemungkinan Rere hanya mengalami demam ringan saja.
Sultan pun kembali ke luar dari kamar Rere, dan ia pun lalu menghampiri ibu Rere yang sedang duduk di kursi ruang tamunya itu sembari memangku anak bungsu wanitanya itu di sana.
"Gimana Tan? Rere nya bangun engga? soalnya dari tadi Rere belum makan," ucap ibu Rere.
"Sultan engga tega ngebanguninnya Mah, palingan kalau nanti Rere udah bangun, mamah bisa kabarin Sultan lagi aja ya, biar nanti Sultan aja yang nemenin Rere pergi ke pukesmas," ucap Sultan sembari mengecup kembali tangan ibu Rere.
"Kan Sultan lagi sekolah? kalau nanti Sultan dimarahin sama gurunya gimana? malahan nanti mamah yang engga tega ngelihat kamu dihukum."
"Engga apa-apa Mah, nanti Sultan bisa minta surat dispensasi supaya Sultan bisa di izinin pergi ke luar sama guru mata pelajaran yang pertama."
"Engga usah lah Tan, engga usah repot-repot, biar nanti Rere jadi urusan mamah aja, dan lagian kamu sering nolongin mamah mulu, jadi mamah ngerasa engga enak aja sama kamu."
__ADS_1
"Mamah udah Sultan anggap sebagai ibu kandung Sultan sendiri, dan begitupun Rere Mah, dia adalah tanggung jawab Sultan sekarang, dan yang terpenting mamah jangan lupa jaga kesehatannya juga ya, kalau begitu Sultan mau pamit dulu ya, Mah, Asalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
"Kamu memang beruntung dapetin Sultan Re, dan mamah harap Sultan memang anak baik, jadi mamah engga perlu khawatir sama kamu karena kali ini tugas mamah buat jagain kamu, ada yang ngebantuin juga," ucap ibu Rere dalam hati.
Sultan pun lalu pergi berangkat masuk ke dalam sekolah, dan seperti biasa Sultan pun menyimpan motornya itu di dalam kosan, dikarenakan bilamana ia meyimpan motornya itu di dalam sekolah, maka ia tidak akan bisa pergi ke luar dari sekolahannya itu di sana.
....
Sultan pun tak langsung menemani teman-temannya itu di dalam kosan sana, dikarenkan ia akan segera pergi untuk meminta izin kepada guru bengkel karena pelajaran pertamanya itu adalah praktek mengelas.
Sultan pun tak tangsung mengikuti upacara, dikarenakan ia harus mengambil praktek jurusan yang paling pertama, bilamana ia ingin meminta izin kepada guru bengkel yang sangat tegas itu.
"Pak, saya mau minta izin untuk mengantarkan adik saya yang sedang sakit, dan nanti saya bakalan kembali lagi masuk ke dalam sekolah," ucap Sultan.
"Orang tua saya pada kerja Pak, dan palingan di rumah hanya ada nenek saya, dan bilamana saya menyusahkan dia yang sudah tua, saya takutnya yang sakit bukan hanya adik saya sendiri, tetapi yang saya takutkan nanti, nenek saya juga akan jatuh sakit," ucap Sultan, yang di mana itu adalah alasan yang hanya dia buat-buat sendiri.
"Oke, tapi kamu harus mengambil praktek lebih dulu dibengkel ini sendirian," ucap Pak, Rudi, yang di mana beliau pun langsung meninggalkan Sultan.
Sultan pun lalu mengganti semua pakaiannya itu, dan ia pun di sana langsung memulai praktek mengelas karena praktek mengelas itu sungguh sangat berpengaruh terhadap nilai ujiannya itu, dan bilamana ia bolos satu hari saja, mungkin ia takan bisa naik kelas.
Ia terus-menerus mengelas tanpa henti, dan hingga pada akhirnya ia pun telah selesai, yang di mana upacara bendera hari Senin pun telah usai dilaksanakan.
Semua teman-temannya yang masuk ke dalam bengkel praktek mengelas itu pun terheran-heran melihat Sultan, kenapa ia bisa lebih dulu masuk ke dalam bengkel tersebut itu di sana, dan tentu saja setelah Pak, Rudi masuk ke dalam bengkel, Sultan pun baru boleh di izinkan untuk pergi ke luar dari sekolah.
"Mau kemana lu Bro?" ucap Iman.
__ADS_1
"Ada urusan sebentar Men, ini adalah urusan penting, jadi gue mengambil praktek lebih dulu, elu mau ikut kagak sama gue Men? kita bolos," ucap Sultan sembari tertawa di hadapan Iman.
"Widih, enak banget luh bisa ngambil praktek ngelas lebih dulu? kalau tahu gitu gue juga bakalan ikutan sama elu Tan, tadi di sini, tega lu Bro, kenapa elu engga ngabarin gue lebih awal tadi?".
"Urusan hati, mana bisa dibagi-bagi."
Ia pun lalu meninggalkan Iman sembari tersenyum tipis di hadapannya langsung, dan Iman pun sudah mengiranya bahwa dia pasti akan pergi menghampiri Rere.
Namun, sebelum itu Sultan sempat masuk ke dalam kelas Rere, dan ia pun langsung memberitahukan kepada guru mata pelajar pertama di kelas Rere, bahwa hari ini Rere tidak akan masuk ke dalam sekolah, dikarenakan dia sedang sakit.
Dan alangkah beruntungnya Sultan bertemu dengan Pak, Guntur, yang di mana Pak, Guntur itu adalah guru mata perlajaran pertama yang akan mengajar di kelas Rere, dan tentu saja Pak, Guntur itu juga adalah wali kelas Rere di sana.
"Jodoh emang engga akan kemana ya, Pak," ucap Sultan yang mengagetkan gurunya itu tadi.
"Ehh, kenapa kamu ada di sini Tan? mau ketemu sama Rere bukan hah? ini belum waktunya Tan!" ucap Pak, Guntur sembari mencubit badan Sultan.
"Aduh, duh, duh ... sakit Pak! kebiasaan dah bapak ini! belum apa-apa udah nyubit gitu aja! saya ke sini bukan mau bertemu sama Rere, melainkan saya mau memberitahukan bahwa Rere tidak akan masuk sekolah karena dia sedang sakit."
Sultan pun lalu memberikan surat sakit kepada Pak, Guntur, dan itu adalah surat yang ia tulis dengan tangannya sendiri, dikarenakan ibu Rere lupa membuatakan surat izin untuk tidak masuk ke dalam sekolah buat Rere.
Dan setelah itu, Sultan pun lalu pergi ke luar sekolah, dan tentunya Sultan di sana tidak membawa tas gendongnya itu, dikarenakan bilamana ia membawa tasnya itu, guru di depan gerbang sekolah takan mengizinkannya untuk pergi ke luar sekolah.
Namun, pada saat itu Pak, Rudi lah yang bertugas sebagai guru piket, yang di mana hari itu Pak, Rudi sedang mengambil absensi untuk mencatat siapa saja siswa yang tidak masuk sekolah.
Dan tentunya Sultan pun lalu di izinkan begitu saja, dikarenakan dari awal dia sudah meminta izin lebih dulu kepada guru tersebut.
"Pak, Sultan pamit dulu, nanti Sultan balik lagi ke sekolah, dan tolong itu absensi Sultan ditulis hadir juga ya, Pak," ucap Sultan sembari tertawa ke arah Pak, Rudi.
__ADS_1
"Sultan bolos satu minggu," ucap Pak, Rudi, yang di mana beliau pun ikut tertawa juga.