
Entah itu foto kapan, namun yang jelas foto tersebut diambil pada saat mereka sedang melaksanakan upacara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari lahirnya Bangsa Indonesia di Lapang Merdeka.
Waktu itu bisa dibilang Sultan masih menjadi seorang siswa yang begitu polos sekali, dan memang waktu itu dia masih duduk di bangku kelas sepuluh.
Maka tak heran, raut wajah Sultan waktu itu masih terlihat sama seperti dia dulu duduk di bangku SMP, hanya saja yang membedakannya ada pada rambutnya saja, yang di mana dulu ketika Sultan masih duduk di bangku SMP rambutnya masih terihat gondorong dengan ciri khas belah tengah.
Namun, setelah SMK penampilannya berubah agak terlihat sedikit rapi, dan rambut gondrongnya pun telah hilang serta berubah menjadi botak.
Foto tersebut tentunya diambil ketika mana upacara bendera telah dilaksanakan, dan di sana seluruh Siswa-Siswi dari sekolah SMKN 4 pun disuruh berkumpul di satu titik untuk melakukan sesi foto bersama.
Di sana anggota OSIS dan anggota Pramuka memang selalu dijadikan pusat kepercayaan oleh pihak sekolah, dikarenakan kedua organisasi tersebut merupakan organisasi yang paling aktif di sekolah.
Saking polosnya seorang Sultan dulu, sampai sekarang dia baru menyadarinya bahwa ternyata waktu itu masih di tempat yang sama, di mana setelah selesai melaksanakan upacara bendera, Rere pun sempat menyapanya.
Dan di sana Sultan terlihat tengah asik duduk seorang diri sambil sesekali dia menatap betapa indahnya melihat bendera kebanggaannya itu berkibar dengan begitu tingginya.
"Woii, lagi ngapain lu di sini? udah itu duduk sendirian lagi, emangnya elu engga ikut berkumpul sama rekan-rekan elu semua di sana, jangan bilang elu lagi nungguin jodoh yang turun dari langit," ucap Rizki waktu itu, di mana dulu dia adalah teman satu perjuangan di SMP dan dia juga sama-sama mengikuti organisasi Pramuka di sekolah SMP.
"Jauh diambang ketinggian langit malam Ki, jadi begini ya, daripada mikirin pacaran, lebih baik sekarang gue mikirin bagaimana caranya mempertahankan bendera yang ada di hadapan gue itu tetap berkibar setinggi ini, lagipula suatu saat nanti dan takan lama lagi terjadi pacar cantik elu itu akan menjadi milik teman elu ini," ujar Sultan membuat temannya tercengang.
__ADS_1
Rizki sempat heran, sosok Sultan dimatanya merupakan sosok pendiam yang tak mau banyak bertanya. Malahan dia tak sadar mengapa saat ini Sultan terlihat berbeda sekali.
"Gue baru lihat sikap asli elu ini Tan, dulu elu merupakan teman gue yang paling pendiam dan pemalu, bahkan gue sempat melihat sikao seorang Sultan yang begitu kaku dalam merespon ucapan dari teman-teman elu, apalagi disaat elu lagi dekat dengan teman-teman cewe elu di SMP, bisa jadi elu engga akan berani berbicara selantang ini sekarang."
"Gue memang pemalu, hanya saja elu adalah teman seperjuangan gue dulu Ki, makanya gue dapat dengan begitu mudahnya berbicara lantang di hadapan elu sekarang, dikarenakan ucapan elu merupakan sebuah candaan yang dapat gue putar balikan seiring berjalannya waktu di tempo dulu."
"Andai saja dulu elu seaktif seperti sekarang ini Tan, gue rasa elu bisa tuh melampaui semua teman-teman elu dalam segi mempelajari dan memahami materi kepramukaan, hadeuh ... yaudah Tan, gue nitip Rere dulu sebentar ya, soalnya gue mau beli minuman yang dingin-dingin buat dia," ucap Rizki sembari menepuk bahu Sultan, dan lalu setelah itu dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
....
Ketika Sultan mendengar perintah dari Rizki, Sultan pun hanya bisa mengangguk dan terdiam sambil memperlihatkan reaksi terkejutnya.
Waktu itu Sultan merasa menyesal karena dia tanpa sengaja telah melontarkan kata yang dapat membuat perasaannya tak karuan.
Sultan kembali menatap tajam bendera yang berkibar itu, sementara Rere di sana sangat ingin sekali menanyakan beberapa hal yang ada kaitannya dengan sikap Rizki, namun ternyata itu sulit baginya, apalagi Rere pun merupakan wanita yang sama polosnya dan yang sama-sama memiliki sikap pemalu seperti Sultan.
Tapi itu dulu, dan sekarang setelah Rere mengenal dekat sosok Sultan seperti apa, semua sikap tersebut hilang beriringan dengan waktu yang telah berlalu.
"Nama kamu Sultan kan? kenalin nama saya Rere dari kelas sepuluh SM lima. Ohh, iya jadi begini ngomong-ngomong udah berapa lama kamu mengenal Rizki, menurut kamu sikap dia dulunya seperti apa, kalau saya boleh tahu apakah dulunya dia juga seaktif seperti sekarang ini," tanya Rere waktu itu, yang di mana Rere pun tak langsung menatap raut wajah Sultan di sana, dan malahan padangan Rere saat itu sama seperti Sultan yang sama-sama menatap tingginya bendera itu berkibar.
__ADS_1
"Sebenarnya saya engga terlalu dekat sama dia, tidak lain hanya sebatas teman disatu organisasi saja di Pramuka. Seperti yang kamu bilang, dia memang pria aktif dari segala bidang di sekolah mau pun itu dibidang pengetahuan dan juga dibidang keorganisasian."
"Bukan hanya pintar, melainkan dia juga memiliki sifat yang bisa dibilang cukup lucu, dan tanpa semua itu dia juga engga akan pernah bisa menjadi terkenal di sekolahnya."
"Sebenarnya bukan terkenal sih, melainkan sosok Rizki hanya bisa mengambil simpati dari guru-guru di sekolah dikarenakan keaktifannya itu."
Waktu itu Rere tak sempat membalas ucapan dari Sultan disebabkan di sana Rizki kembali menghampiri mereka berdua. Rizki pun lalu membawa pergi Rere setelah dia berpamitan kepada Sultan.
Itu merupakan waktu yang telah Sultan lupakan, namun di sana Sultan memang tak sempat melihat raut wajah Rere seperti apa.
Dikarenakan sikap polosnya itu, dia pun tak dapat melihat raut wajah Rere untuk yang pertama kalinya. Dan di awal cerita memang sudah benar adanya, di mana Sultan baru bisa melihat raut wajah Rere pada saat dia datang ke rumahnya untuk menjemputnya pergi bermain.
Waktu itu di depan teras Sultan tersenyum lebar, ternyata foto tersebut masih ada di dalam galeri handphoenya. Di sana Sultan berpikir Rere pun pasti melupakan hal tersebut yang telah berlalu itu.
Jika memang Rere masih mengingat kejadian itu, dia pasti akan membahasnya di hari-hari yang telah berlalu hingga sampai sejauh ini.
Namun, hanya Sultan lah yang dapat mengingat kejadian yang tak terduga itu. Mungkin saja bila nanti Sultan menceritakannya, Rere pun pasti akan mengingatkanya.
Semua memang disebabkan oleh waktu, apalagi Rere tipe wanita yang tak mau diajak untuk mengingat masalalunya yang begitu kelam itu, dan yang hanya Rere inginkan untuk saat ini, yaitu bagaimana caranya agar dia bisa menjaga perasaannya itu tetap utuh.
__ADS_1