Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 388 : Aku selalu mendoakan mu


__ADS_3

Hanya ada sebagian orang yang lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kosan, dan ada sebagian orang yang ikut pergi bersama dengan Pak Mukhsin.


Entah mau ke mana beliau akan membawanya pergi? yang jelas mereka hanya bisa menikmati perjalanannya itu saja dengan damai.


Kebetulan Sultan ikut bersama dengan beliau, dan beliau membawa mereka kesuatu tempat, yang di mana tempat itu merupakan sebuah tempat singgah anak-anak asuhannya yang berbeda mengambil Perusahaannya untuk melaksanakan ujian prakerinnya tersebut.


Tempat itu sudah disedikan oleh pihak Perusahaan sebelumnya, dan jadi mereka tak perlu repot-repot memikirkan seberapa besar biaya sewa di sana.


Berbeda hal nya dengan teman-teman Sultan, mereka semua harus patungan untuk membayar biaya sewa sebesar 600 ribu rupiah, sebagai bayaran perbulannya itu di sana.


Ternyata Farid, teman satu anggota di Pramuka, dia juga ada di tempat itu. Sultan pun berbincang dengannya sembari menikmati beberapa batang rokok dan susu hangat yang dia buatkan untuk Sultan.


Dia memang sengaja membuatkan Sultan minuman tersebut, dikarenakan dia sudah mengetahuinya bahwa Sultan bukan pria yang menyukai aroma dan rasa dari kopi.


Minuman itu memang nikmat ketika semua orang yang menyukainya meminumnya, dan dulu Sultan pun pernah meminum minuman tersebut, namun sekarang kenapa ia lebih memilih untuk berhenti meminum minuman yang bernama kopi itu? dikarenakan tak ada alasan yang begitu kuat, dan mungkin itu memang hal yang tak harus diceritakan.


"Ini Tan, susu buat lu minum, kalau nanti lu mau minta apa-apa bilang aja sama gue oke," Farid berjalan menghampiri Sultan sambil menaruh susu hangat itu di hadapannya langsung.


"Idihh ... manis beut lu, udah kayak dia aja dah lu Rid. Gue baru tahu kalau elu itu PKL di sini, gimana prakerinnya Rid? lancarkan?" tanya Sultan sembari menyeruput susu hangat itu di sore hari yang sudah mulai meredup karena termakan gelapnya malam.


"Ninggalin dia di sana sendirian! hebat juga lu Tan, emangnya elu bisa hidup dengan rindu Tan?" tanya Farid yang tengah mengejeknya, namun kata-kata itu takan membuat semangatnya meredup begitu saja.

__ADS_1


"Selama doa masih bernada, dan rindu itu tak payah untuk bersuara. Selagi harapan itu masih ada, biarkanlah cerita ini menjadi kisah cinta," ucapannya membuat Farid terkagum-kagum, dan bahkan temannya itu dibuat tersenyum olehnya, entah kenapa Sultan bisa membuat kata-kata secepat kilat tanpa ia memikirkannya terlebih dahulu.


Suara tepukan tangan Farid diberikan kepada Sultan, dan itu terlalu melebih-lebihkan, hingga pada akhirnya Sultan pun mengusap seluruh wajah Farid sambil tersenyum juga kepadanya.


Sesudah mereka melaksanakan tugas prakerinnya itu masing-masing, kontak hubungan pun mulai terlupakan, namun karena Sultan, Farid jadi bisa menatap wajah teman gilanya, siapa lagi kalau bukan Iman, dan Maulana.


Iman dan Maulana sekarang tengah melaksanakan tugas prakerinnya di Bandung, dan dulu Sultan pun sempat ingin mengikutinya pergi ke Bandung juga, tapi bilamana Sultan kembali bersatu dengan mereka berdua, maka sampai kapan pun ia takan bisa tertidur dengan lelap karena sifat jahil mereka semua.


Sultan bisa membayangkannya, yang di mana dulu Iman pernah menjahili Maulana ketika mereka semua sedang menginap di kosan Akbar, dan kala itu wajah Maulana habis dibuat hitam oleh arang bekas pembakaran, dan yang paling parahnya lagi mereka sempat memindahkan Tubuh Maulana hingga ke depan parkiran motor yang berada di dalam kosan.


Waktu itu Maulana hanya diberikan satu selimut tebal saja supaya dia tidak kedinginan. Itulah yang membuat Sultan merasa minder bila dirinya melaksanakan tugas prakerinnya bersama dengan mereka berdua.


Suara telepon Sultan menyala karena sebelumnya handphone Iman tidak aktiv tadi, dan jadi kenapa dia menelepon Sultan, maka itulah jawabannya.


"Widih ... wajah lu makin item aja Men! untungnya cuma makin item aja ya, bukan makin pendek lagi," ucap Sultan yang sedang berbicara dengan Iman lewat panggilan video.


Farid mulai tertawa, dan Iman pun baru sadar bahwa dia seperti mendengar suara Farid. Dia mengira kalau Sultan tengah melaksanakan tugas prakerinnya bersama dengan Farid, namun ketika Sultan menjelaskannya Iman pun baru paham bahwa dia hanya mengunjungi Farid saja, dikarenakan dia sama-sama ada di Kota Tangerang.


"Asem lu Tan! gue kira selama gue tinggal di sini wajah gue makin putih dan ganteng aja, tapi dengan seketika elu menumbangkan rasa percaya diri gue begitu saja," Iman tertawa, ditambah lagi dengan Farid yang mungkin dia tertawa lebih lepas.


Sultan memanggil Pak Mukhsin, dan tentu saja beliau sepemikiran dengannya, yang di mana beliau sama-sama meledek Iman dengan candaan Sultan tadi.

__ADS_1


Namun, Iman tak bisa membalas jawabannya itu seperti yang dia ucapkan tadi kepada Sultan, dikarenakan Iman takut bahwa nanti beliau akan melemparkannya kejurang.


Perbincangan mereka tak berlangsung lama karena waktu salat magrib telah tiba. Yang jelasnya perbincangan mereka itu hanya sebatas pertemanan saja, dan tentunya mereka pun sama-sama menyemangati, bukan melainkan menumbangi.


Setelah itu Pak Mukhsin kembali mengantarkan Sultan bersama dengan semua teman yang memang tadi mereka juga sempat mengikuti beliau.


Beliau tak langsung masuk ke dalam kosan Sultan, dan dia lebih memilih untuk pergi kembali bersinggah di tempat Farid, dikarenakan kosan yang Sultan singgahi sekarang ruangannya tak begitu besar, dan jadi beliau tidak mau mengganggu waktu istirahat mereka semua.


Seperti biasa sebagai anak laki-laki mereka harus bersikap lebih mandiri lagi, bukan hanya mereka semua sedang jauh dari orang tuanya, dan memang itu sungguh terasa asing bagi mereka semua.


Sebagian orang ada yang mempersiapkan makanan seperti hal nya memasak nasi, memasak apa yang akan mereka makan untuk sekarang ini. Dan bagi yang tidak bertugas dalam urusan itu, sebagian orang disuruh untuk membersihkan dan mengemas semua barangnya dengan rapi.


Keseruan itu hanya akan datang sekali saja, walaupun tiga Bulan ini adalah waktu yang tak cukup lama, akan tetapi mereka memang harus benar-benar mempersiapkannya lebih awal, dikarenakan dunia persekolahan berbeda dengan di lapangan pekerjaan.


Waktu itu kurang lebih jam setengah 10 malam, Sultan pergi dari luar ruangan sempit tersebut hanya untuk menyapa Rere, dan mungkin malam ini mereka berdua akan melampiaskan waktunya itu hingga pagi datang.


Esok adalah hari Minggu, dan jadi mereka bisa bersantai-santai terlebih dahulu, hingga mana Pak Mukhsin akan datang kembali untuk mengantarkan mereka pergi melihat-lihat sekeliling Perusahaan.


Pada saat itu Sultan sempat mengabari kedua orang tuanya di sana sebelum ia menelepon Rere. Kedua orang tuanya sangat senang melihat Sultan telah tiba dan baik-baik saja di sana.


Bukan hanya mereka berdua yang sangat senang melihatnya sudah berada di tempat tujuannya itu, melainkan Rere dan ibunya juga merasakan hal yang sama seperti kedua orang tua Sultan.

__ADS_1


__ADS_2