Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 418 : Kecemasan yang sering melanda hati


__ADS_3

"Cinta itu bukan pilihan, melainkan takdir hidup yang harus kita tentukan, dan bila engkau adalah titipan yang Tuhan berikan kepadaku sekarang, maka dari itu aku akan memilih hidup berdua bersama dengan dirimu, Rere Nuraeni ku," ucap Sultan dalam hati sembari menatap senja di sore hari itu bersama dengan Rere di jalan sana.


Di ujung batas jalan perpisahan, mereka berdua lebih memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu di depan sebuah gang, yang tepatnya di dalam gang sana itu ada rumah Rere.


Mereka duduk berhadap-hadapan di tempat itu, yang di mana Rere duduk di sebuah kursi, yang memajang di depan teras rumah neneknya itu, dan sedangkan Sultan duduk dimotor dengan posisi yang memiring, supaya ia bisa menatap Rere langsung di hadapannya.


"Mau masuk dulu ke rumah engga Be?" ucap Rere yang masih duduk di kursi depan teras rumah neneknya itu.


"Udah sore, dan bukannya jembatan yang ada di depan pintu masuk ke perumahan ini itu angker ya?" ucap Sultan sembari melirik jembatan, yang di mana itu adalah salah satu tempat tujuan alternatip yang paling dekat untuk kita lewati bilamana ingin pergi masuk ke dalam rumah Rere.


"Emang angker! terus kenapa? kamu takut!".


"Gue lebih takut melihat elu marah Re, kalau soal ketemu hantu! elu tahu kan kalau gue itu pemburu hantu! hantu apa aja gue kejar kok, engga ada takut-takutnya," ucap Sultan berusaha bersikap lebih tenang di hadapan Rere.


"Awas nempel entar hantunya Tan," ucap Rere sembari tertawa di hadapan Sultan.


"Dih, jangan gitu dong Re! emang elu rela apa pacar elu yang ngangenin ini dijadiin calon istri kunti-kunti yang ada di jembatan sana?".


"Halah ... bilang aja takut! engga usah sok-soan berani deh Tan! kita berdua di sini sama-sama penakut juga kok."


Sultan pun sontak menutup mulutnya itu dengan menggunakan kedua tangannya tersebut karena ia sedang berusaha untuk tidak menertawakannya di sana. Namun, itu sulit baginya dan sehingga Sultan pun tertawa dengan masih menutup mulutnya tersebut.


Rere pun merasa geli melihatnya, dan lantas ia juga ikut tertawa berdua bersama Sultan di depan gang rumahnya itu. Sore itu adalah pertama kalinya Sultan melihat Rere begitu lepas tertawa hingga ia tak menyadari, bahwa hari itu adalah terakhir kalinya Rere melihat Sultan lagi di sana.

__ADS_1


"Yaudah, kamu pulangnya hati-hati ya, Tan. Dan ini jaketmu mau kamu ambil, atau mau aku cuci dulu?".


"Kamu tahu engga? kenapa tadi waktu di jalan aku menyuruhmu untuk memeluk gue lebih erat," sahut Sultan sembari membisiki Rere.


"Kenapa emang?".


"Gue kedinginan Re, hehe, soalnya dari semalam elu betah amat pakai jaket gue! dan maka dari itu, gue lebih memilih kedinginan sendiri, dari pada harus melihat elu kedinginan di sekolah sana," ucap Sultan yang seketika membuat Rere tertawa kembali padanya.


"Ihh, kenapa engga bilang dari awal Tan, hehe, aku kan engga tahu kalau elu kedinginan! dan terlebih gue juga engga sadar! bahwa gue ini lagi pakai jaket elu lagi, maaf ya, Be," ucap Rere sembari mengelus-elus rambut Sultan di depan gang rumahnya itu di sana.


"Engga kok, Re, gue bercanda. Yaudah, aku pamit pulang dulu ya, Re, kamu hati-hati di jalan."


"Elu yang harus hati-hati di jalan mah Tan! bukan gue. Yaudah, jangan kebut-kebutan bawa motornya ya, Tan, pakai jaketnya biar kamu engga masuk angin."


"Udah ah, sana pulang," ucap Rere sembari mengecup tangan Sultan dengan manis di sana.


....


Setelah itu, Sultan pun lalu pergi meninggalkan Rere kembali di sana sendirian. Dan sebelum itu, Sultan sempat mengelus-elus hijab yang melekat dikepala Rere itu dengan manis juga, seperti hal nya Rere mengecup tangan Sultan tadi.


Rere pun menatap Sultan tanpa henti, setelah mana prianya itu pergi meninggalkan dirinya di depan gang rumahnya itu sendirian. Sultan melihat ke arah kaca spion motornya bahwa Rere masih menunggu Sultan di sana sembari memegang kedua tangannya itu.


Sultan pun sontak memberikan lambaian tangan untuk terakhir kalinya Rere membalas lambaian tangannya itu kepadanya di belakang sana.

__ADS_1


"Jangan merunduk, karena aku akan hadir kembali. Jangan meratap tangis, karena aku takan pergi jauh meninggalkanmu di kota kelahiranku ini. Percayalah, esok nanti aku akan datang, walaupun hanya bertemu lewat mimpi saja malam ini," ucap Sultan dalam hati sembari menatap Rere sekejap lewat kaca spion motornya itu.


"Mengingat tak dapat melupakan, bertemu tak mau dipisahkan, dan mencintai tak dapat diduakan karena kamu lebih dari segala yang kubayangkan di dunia ini," ucap Sultan kembali berbicara dalam hati sembari menatap indahnya langit sore di atas langit sana.


Duduk menyendiri di sebuah jok motor tua, yang di mana kini sekarang sedang Sultan rasakan di jalan sana, dengan ditatapnya langit-langit sore yang mulai terlihat akan segera menghilang, takan begitu lama lagi.


Ia mengendarai motor tuanya itu dengan perlahan, sembari menghirup udara segara di luar sana dengan damainya ia mengingat kembali kebersamaannya, ketika mana mereka tertawa bersama di dalam sekolahnya pada waktu itu.


Tikk, tikk, tikk ... suara hujan yang berjatuhan mulai terdengar ditelinga Sultan, dan lantas ia pun menambah laju kecepatan motornya tersebut di jalan sana.


Rere pun di sana sungguh sangat mengkhawatirkan Sultan, ketika mana dia mendengar begitu derasnya suara hujan di luar rumahnya itu.


"Di luar sana hujan deras banget! Sultan juga belum ngabarin lagi dari tadi sampai sekarang," ucap Rere berbicara sendiri sembari menatap hujan dari jendela kamarnya itu.


Ibu Rere pun lantas masuk ke dalam kamarnya, ia pun lalu mengelus-elus rambut Rere di sana sembari menawarinya makan terlebih dahulu.


"Kamu kenapa Re? dari tadi mamah lihat, kayaknya kamu lagi gelisah ya? mikirin apaan sih," ucap ibu Rere waktu itu.


"Sultan Mah, dari tadi dia belum ngabarin Rere, Rere khawatir sama dia Mah, takutnya terjadi apa-apa sama dia di jalan," ucap Rere yang masih mengkhawatirkan Sultan di sana.


"Sultan itu anak yang kuat Re, mana mungkin dia kenapa-kenapa di jalan sana. Mamah lihat dia begitu mahir menjaga dirimu di sini Re, dan mamah kira dia juga pandai menjaga dirinya sendiri di sana."


"Makan dulu Re, Sultan engga akan bisa membiarkanmu itu jatuh sakit," ucap ibu Rere berkali-kali, yang di mana beliau juga tengah menenangkan anaknya itu di dalam kamarnya tersebut.

__ADS_1


Rere pun lalu ke luar dari kamarnya untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh ibunya itu. Namun, di sana Rere pun masuk kembali setelah mana ia mengambil makanannya itu di atas meja makan.


__ADS_2