
"Sebenarnya elu nyesel engga sih Tan, pacaran sama gue? rasanya engga enak juga ya, Tan, menjadi sosok wanita yang bisanya cuma nuysahin pacarnya sendiri, emang dasar ya, gue engga berguna banget sumpah!".
Ucapan dari seorang Rere terdengar begitu jelas sekali, bahkan sampai sekarang ucapan itu masih saja bergumam ditelinga Sultan.
Menghina dirinya sendiri sampai menganggap dirinya itu tak berguna, hal tersebut sudah dapat Sultan tebak bahwa wanitanya tanpa sengaja telah menghilangkan sosok yang sudah membuatnya berubah hingga sampai sejauh ini.
Sosok tersebut merupakan sebuah sikap, yang di mana sikap percaya diri itu tanpa sengaja telah Rere lupakan, bahkan sampai tundukannya sudah mencerminkan bahwa Rere benar-benar sudah tak mengingat sosok yang telah Sultan ajarkan dulu.
"Selagi mata gue ini masih bisa melihatmu, hal itu masih patut gue syukuri Be, engga ada yang harus gue sesali sejauh ini, dikarenakan apa yang gue inginkan sekarang telah gue dapatkan."
Ucapan Sultan berhasil membuat Rere membangkitkan tundukannya itu kembali, rasanya apa yang telah Sultan lalui untuk sekarang ini begitu mudah dia gapai, tapi tetap saja bahwa targetnya itu masih berada dititik awalan, belum sampai ketitik puncak, namun yang jelas selama wanitanya masih bisa tersenyum, hal itu dapat membantu seorang Sultan agar dia cepat bisa menggapai titik puncak yang dia inginkan dalam memiliki Rere seutuhnya.
"Bila dipikir-pikir orang yang lebih tidak berguna itu adalah gue Be, namun gue sadar bahwa apa yang gue lakukan selama ini ternyata tak selamanya berada dititik terendah, dikarenakan gue lebih suka memilih untuk tetap berusaha daripada gue harus mengeluh dengan keadaan gue ini."
"Gue engga mau dikalahkan oleh kebutuhan, namun gue ingin mengalahkan kebutuhan itu hingga apa yang selama ini gue gapai, akan lebih gue gapai lagi sampai gue melihat harapan itu ternyata masih ada dan belum pergi."
"Kamu tahukan harapan yang gue maksud itu apa Be?".
Sultan benar-benar tak membiarkan Rere berbicara sedikit pun, bahkan sampai pertanyaan darinya itu dia jawab sendiri tanpa dia mau membiarkan Rere menebaknya terlebih dahulu.
Hari ini Sultan tak mau membiarkan Rere pusing, makanya dia terus-terusan berbicara tanpa henti, dikarenakan dia sadar apa yang harus dia lakukan agar Rere tersenyum lepas seperti waktu itu.
__ADS_1
"Kamu benar Re, harapan itu adalah kamu, mana mungkin gue bisa melupakan harapan yang sudah gue bangun sampai sejauh ini begitu saja, gue engga bisa melihat harapan tersebut menunduk, apalagi sampai gue membuat harapan yang gue maksud itu menangis, asalkan kamu tahu Be, kalau sekarang gue lagi menghibur harapan itu agar dia bisa tersenyum lebar kembali seperti waktu-waktu yang telah terlewati."
Bawelnya Sultan adalah hal yang Rere rindukan, tanpa semua itu mana bisa Sultan membuat Rere tertawa lepas, dan tanpa semua itu mana bisa Sultan memiliki Rere sekarang.
Rere dulu pernah berbicara kepada Sultan, kurang lebih pada saat Sultan dan Rere berpacaran di hari pertama, yang di mana Rere begitu senang ketika melihat Sultan ternyata adalah sosok pria bawel.
Rere berharap Sultan masih mengingat hal itu, dan Rere berharap Sultan akan tetap melakukan semua hal itu, dikarenakan bilamana Sultan bersikap seperti apa yang dia harapkan saat ini, Rere dapat melihat seberapa pengertiannya sosok Sultan.
....
"Dasar bawel! seharusnya elu membiarkan gue ngomong dulu Be, masa iya elu aja yang ngomong, sementara gue di sini hanya bisa mendengarkan semua kebawelan elu itu aja, padahal gue juga bisa bersikap bawel seperti elu Tan, bahkan tingkat kebawelan elu akan kalah bila dibandingkan dengan tingkat kebawelan yang gue miliki ini Tan."
Mungkin sekarang kesadaran Rere sudah kembali, namun sebagaimana Sultan, dia adalah orang yang harus menjaga senyuman itu agar tak layu.
"Kamu harus ingat ucapan gue ini Re, bahwa kamu bukan bunga yang tumbuh dan gugur disetiap musimnya, tapi disuatu sisi kamu juga harus bisa menjadi perawatnya agar pacar gue ini melihatnya sendiri bahwa indahnya bunga yang mekar itu sudah sama indahnya seperti gue melihat senyuman manismu itu di sana."
"Makasih Tan, seharusnya gue sadar dari tadi bahwa apa yang elu inginkan itu adalah ... ," ucapan Rere terpotong begitu saja, dikarenakan Sultan tak mau mendengar penjelasan apa-apalagi darinya.
"Sutt, sutt, sutt, udahlah Re, jangan membicarakan hal yang dapat membuat sifat rese gue ini kembali lagi, sebenarnya gue udan tahu kalau elu lagi rindu sama gue, padahal elu bilang jujur aja Re, gue engga akan menolak rindumu itu kok, seriusan."
"Elu kali Tan, yang rindu sama gue!".
__ADS_1
"Yang benar aja kalau ngomong Re, seorang Sultan mana mungkin merindukan sosok seperti elu yang kerjaannya cuma bisa mengeluh aja, hal itu engga akan pernah terjadi sebelum elu bisa berubah menjadi manusia setengah hewan purba."
"Bodo amat! gue engga dengar ucapanmu itu Tan."
Tutt, tutt ....
Panggilan telepon suara dimatikan oleh Rere begitu saja, padahal Sultan masih ingin membercandainya, namun wanitanya itu tak mau mendengarkan ucapan yang akan dia berikan kepadanya terlebih dahulu.
Ucapan yang akan Sultan berikan berupa kata-kata sayang, hanya saja Rere beranggapan kalau Sultan akan membercandainya lebih dari itu, makanya dia lebih memilih untuk menutup panggilan teleponnya saja.9
"Baru aja gue mau ngomong kalau gue sayang sama elu, tapi elu malah matiin panggilan telepon dari gue ini dengan begitu cepatnya, gue yakin elu akan menyesalinya nanti Re," ucap Sultan sambil tertawa tipis melihat wanitanya masih sering melakukan hal di luar dugaan seperti itu kepadanya.
Tak lama setelah panggilan telepon suara dimatikan oleh dia, ternyata Rere sempat menulis beberapa patah kata pesan singkat di Whatsapp Sultan, dan kata tersebut terlihat seperti sebuah alasan saja dimata Sultan.
"Awas aja lu ya! gue engga akan biarin elu bersikap rese seperti ini lagi, pokoknya malam nanti gue engga akan telepon-telepon elu lagi Tan," kata Rere dalam ketikan pesan Whastsapp.
Sultan tak mau kalah dari Rere, lantas Sultan pun berinisiatif untuk melakukan hal yang sama, di mana hal tersebut adalah cara agar Sultan bisa membuat sosok wanitanya merasa semakin jengkel saja terhadap sikap yang sekarang tengah dia berikan kepada Rere.
"Terserah elu aja Re, gue engga perduli! yang jelas sekarang gue udah bisa mendengar suaramu, rasanya itu udah cukup bagi gue Re, sampai besok ya, semoga ucapanmu takan pernah membuat rindumu itu kembali terbelenggu."
Kata-kata tersebut adalah ketikan terakhir Sultan, dan setelah itu Rere hanya membacanya saja tanpa sedikit pun dia mau membalas pesan Whatsapp dari Sultan itu.
__ADS_1