
Sultan ke luar dari dalam ruangan gudang, setelah itu dilanjutkan lagi dengan Bang Falah yang baru saja masuk ke dalam sana, namun dia dibuat bingung oleh suasana gudang yang nampak sepi tak berpenghuni itu.
Hal itu tentunya merupakan suatu hal yang tak biasa pada saat dia pandangi, dan biasanya dia pasti akan melihat Sultan sedang bekerja bersama dengan abang angkatnya di sana, yaitu Boa.
Tapi, entah kenapa hari ini mereka sama sekali tak berada di tempat itu. Lantas dia pun melihat ke sekeliling ruangan, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan mereka.
"Ini dua pemuda pada ke mana ya? engga biasanya ruangan sepi kayak begini, apa jangan-jangan mereka lagi ngambil barang di luar sana ya," Falah terlamun keheranan melihat ruangan sepi seperti tempat persemayaman bagi para hantu.
1 menit waktu telah berjalan, Falah masih saja belum bisa menemukan Sultan dan juga Boa. dia mencoba mengelilingi seluruh rak barang, hingga pada akhirnya dia pun menemukan mereka sedang duduk di rak barang paling ujung bersama dengan Bang Udin.
"Woii, lagi ngapain kalian bertiga? gue cariin ke mana-mana, tahu-tahunya pada ada di sini kalian semua, parah dah elu Bo! ngajarin Sultan yang engga bener," ucap Falah yang membuat Bang Udin menyalurkan suaranya.
"Gue ngeri Lah, di dalam sana katanya ada setan, makanya kita ngumpet di sini semua," ucap Bang Udin berbicara dengan nada suara khasnya itu, yakni nada suara lucu.
"Mana ada setan siang bolong kayak gini Bang, ada-ada aja dah kalian semua. Ayo Tan, kita harus ngirim barang ke Produksi," ajak Bang Falah kepada siapa lagi kalau bukan Sultan.
Pada saat mereka semua akan pergi meninggalkan tempat tersebut itu, dengan seketika suara bunyi yang bersumber langsung dari handphone milik Sultan itu pun kembali berbunyi.
Bang Falah sempat mendengarkan suara tersebut, tapi dia masih tetap teguh dan percaya diri, namun sifat percaya dirinya itu tak lama hilang dengan seketika, pada saat suara tersebut makin sini makin nyaring saja didengarnya.
Sultan dan Boa sempat berpikir, kenapa suara itu mengikuti ke mana pun mereka pergi, apa hantu di sana memiliki dendam pribadi kepada Bang Boa.
__ADS_1
Kenapa Sultan menuduh Boa? ya, karena dia anak baru di sini, sementara abang angkatnya itu adalah karyawan yang sudah lama bekerja di sana, mana mungkin hantu itu mengenali Sultan, itu sama sekali tak logis dan tak masuk akal.
"Kayaknya hantu ini benci sama elu dah Bang, buktinya ke mana pun kita pergi, suara itu masih saja mengikuti gue," ucap Sultan sembari melirik ke segala arah, dan tentunya tak ada apa-apa di sana selain barang mirik Perusahaan lah yang ada di sana.
"Kok, elu malah nuduh gue Tan? gue kagak tahu apa-apa sumpah dah," ucap Boa yang sama tengah melihat sekitaran ruangan tersebut di sana.
"Terus siapa lagi kalau bukan elu Bang? gue kan anak baru di sini, bahkan gue pun belum semuanya paham, dan mengenal lebih dalam lagi sejarah tentang Perusahaan ini."
"Ohh, iya Tan, bukannya elu bisa lihat hantu ya? coba sekarang lu lihat di sekeliling ruangan ini ada apa aja?" tanya Boa berliku-liku, yang membuat Sultan terheran-heran, sejak kapan dia mengetahui bahwa dirinya memiliki kemampuan seperti itu.
....
Sultan menggaruk-garuk kepalanya, ternyata ucapan seseorang yang sedang ketakutan itu sungguh sangat aneh ketika ia mendengarkannya.
"Ya, bukan gitu maksud gue Tan, jadi gimana ya, gue bingung ngejelasinnya dah kalau elu nya engga paham apa maksud gue Tan," Boa tertawa tipis, sekiranya ada lima detikan disaat dia berucap kata seperti itu kepadanya.
Ucapannya itu sebenarnya tidak salah, bahkan abang angkatnya itulah yang salah dalam mengucapkan kata tersebut itu.
Grungg, grungg, grungg ....
Suara raungan motor menyaring. Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua berlari dan masuk ke dalam ruangan gudang yang sangat sepi itu kembali.
__ADS_1
"Sekarang elu percayakan Lah?" tanya Boa.
"Lu punya masalah apa sama hantu di sini Bo? jangan sampai dia ngikutin gue dah, pokoknya kalau dia ngikutin gue sampai ke rumah, elu yang akan gue salahin lebih dulu Bo," ucap Falah kepada Boa, yang di mana sekarang dia sudah mulai merasakan hal yang sama dengannya.
Tapi, setelah Sultan pikir-pikir kembali, kayaknya ia mendengarkan bahwa ada suara Rere di sana, apa jangan-jangan Rere masih belum mematikan panggilan telepon suaranya itu.
Sultan tidak berani melihat, ataupun memainkan handphonenya itu di dalam ruangan gudang, dikarenakan di dalam sana ada beberapa CCTV aktif yang memang sengaja dipasang untuk mengawasi seberapa rajin dan seberapa malas para karyawan melakukan pekerjaannya tersebut di sana.
Makin ke sini, mereka semua makin bisa menerimakan gangguan suara yang entah itu datangnya dari mana, mereka semua pun tidak mengehatuhinya.
Rere mungkin terdiam tanpa menyapa Sultan sedikit pun di sana, dikarenakan dia takut bila Sultan akan mendapatkan masalah nantinya.
Rere hanya tertawa dalam hatinya, dan sebenarnya dia juga ingin tertawa lepas mendengarkan pembicaraan Sultan bersama dengan para karyawan, yang bisa dibilang mereka sudah bisa sedekat dirinya mengenal Sultan.
"Gue kira elu engga sepenakut ini dah Tan, apa jangan-jangan elu hanya sanggup menahan rasa takut itu ketika berada di dekat gue aja ya?" Rere bertanya kepada hatinya sendiri, apa mungkin dia seperti itu, dan yang jelas itu sangat tidak adil baginya.
Kata tidak adil itu adalah suatu ucapan yang ingin dia rasakan sendiri, yang di mana ada waktunya bagi Sultan untuk tetap terlihat kuat, dan ada waktunya bagi Sultan untuk tetap terlihat lemah.
Namun, Rere sering kali melihat Sultan berpura-pura kuat di hadapannya, padahal kala itu Sultan tengah terluka karena dia baru saja jatuh dari atas motornya hingga terguling-guling.
Tapi, kenapa disaat dia sendiri yang jatuh sakit, dia sama sekali tak bisa bersikap sama seperti prianya itu di sana, yakni dia sama sekali tak bisa dan tak sanggup tampil kuat di hadapan Sultan.
__ADS_1
Tentunya Sultan takan pernah berharap Rere sekuat dirinya, walaupun pada dasarnya ia sangat ingin melihat Rere menjadi wanita yang bisa tampil lebih percaya diri lagi, namun mungkin Rere pun harus banyak belajar dari Sultan tentang apa arti dari rasa kuat itu.
Sultan hanya kuat mencintai Rere, namun hatinya akan lemah dengan sendirinya bilamana dia melihat wanitanya itu jatuh sakit.