Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 79 : Antara Rere dan sahabat


__ADS_3

Hari itu masih ada dan hari itu pun juga masih belum usai, yang di mana hari itu akan terasa sama panjangnya dengan hari, ketika Sultan mengajak sang kekasihnya itu untuk datang menghampiri ibunya yang kian sedang menunggunya.


Dan hari itu, tentunya Sultan tidak akan melupakannya, yang di mana ia masih menjalankan motornya itu sembari melihat ke sekeliling jalan, dan kenapa ia tak fokus ke satu titik saja? ya, dikarenakan ia sedang melihat-lihat apakah di sisi jalan itu masih ada seorang pedagang yang menjual buburnya untuk ia beli.


Dan tentunya itu ada, namun kala itu ia menemukan pedagang bubur tersebut itu di suatu jalan yang letaknya tak cukup jauh dari sekolahannya itu berada.


Dan lantas, Sultan pun lalu menjalankan motor tuanya itu kembali setelah mana ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan itu di sana sebelumnya.


Dan tentunya Itu adalah suatu sikap, yang di mana sikap perhatian itu selalu ia berikan kepada Rere, dan semestinya Rere pun harus paham, seberapa mencintainya Sultan di sana, dan seberapa sayang Sultan terhadap dirinya itu di sana.


Namun, pada saat itu, yang di mana waktu itu Sultan akan pergi kembali menghampiri Rere di sana, dan dengan seketika Teh, Fitri pun memanggil namanya, dan di sana Sultan pun sempat terkejut, dikarenakan Teh, Fitri itu memanggil namanya sembari menepuk bahunya itu di sana.


"Hayoo ... kamu lagi apa di sini? kamu lagi bolos ya? kalau kamu emang beneran lagi bolos sekolah! pokonya teteh engga akan izinin kamu buat deketin Rere," ucapnya, yang di mana dia tengah salah paham terhadap Sultan.


"Aihh, kirain siapa? ternyata cuma teteh. Engga kok, Teh, Sultan engga lagi bolos, dan ini Sultan mau nganterin bubur buat Rere karena Rere sedang sakit di sana, dan ini juga Sultan baru aja nganterin Rere berobat ke pukesmas," ucap Sultan sembari mengecup tangan Teh, Fitri itu di sana.


Ia memang terlalu fokus memikirkan kesehatan Rere di sana, dan sehingga ia melupakan rumah calon kakak perempuannya itu, yang di mana rumah Teh, Fitri jaraknya memang berdekatan dengan sekolahnya itu.


"Udah izin belum kamu Tan? kalau misalnya belum izin, sebaiknya kamu izin dulu sana, dan udah itu anterin teteh pergi ke rumah Rere juga karena teteh mau lihat seberapa parah keadaan Rere di sana."


"Pastinya Sultan udah izin lah Teh, dan Sultan pun boleh bolos seharian ini karena Sultan udah ngedapetin surat dispensasi dari pihak sekolah."


"Soswit banget deh calon adik teteh ini, dan kalau begitu sekarang kita barengan aja ke sananya ya, Tan, teteh boleh ikut sama kamu kan?".

__ADS_1


"Engga boleh Teh! nanti pacarnya yang ada di Jepang cemburu lagi sama Sultan, dan terus nanti Sultan engga di izinin untuk mendekati adiknya itu lagi," ucap Sultan yang tengah membercandai tetehnya itu di sana sembari tertawa lepas bersamanya juga.


"Justru kalau Sultan engga mau nganterin teteh, kakak laki-lakimu yang ada di Jepang itu akan marah sama kamu Tan, karena adiknya ini udah tega ninggalin calon kakak perempuannya itu di sini sendirian."


"Kalu gitu boleh deh Teh, teteh langsung naik aja, tapi Sultan engga bawa helm dua gimana dong, atau teteh mau pakai helm Sultan aja?".


"Engga apa-apa Tan, teteh juga ada helm di rumah, tapi cuma ke rumah Rere doang mah deket kali Tan, engga apa-apa kan kalau teteh engga pakai helm?".


"Engga apa-apa Teh, kalau gitu kita langsung berangkat aja ya, soalnya Sultan kasihan sama Rere."


....


Dengan singkatnya perjalanan itu menemani Sultan yang tengah khawatir berketerusan melihat Rere sedang sakit di sana. Dan tak perlu membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Sultan kembali masuk ke dalam rumah Rere bersama dengan calon kakak wanitanya itu.


"Makan yang banyak, pokonya harus dihabisin, kalau engga habis makannya, kapan kamu mau cepet sembuh! emang kamu engga iri sama mereka yang sedang jalan-jalan di hari libur nanti?" ucap Sultan sembari menyuapi Rere makan dengan perlahan.


Uhuk, uhuk ... suara batuk yang Rere ke luarkan itu, cukup membuat Sultan peka terhadap dirinya, bahwa dia begitu sangat ingin diperhatikan lebih olehnya seperti ini kembali, dan tentunya Rere ingin melihat Sultan terus- menerus bersikap seperti itu karena sikap manis Sultan, selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia.


"Mau kemana kamu Re? segitu buru-burunya kamu makannya? pelan-pelan kenapa sih Re! lagian kan aku engga akan buru-buru pergi dari sini juga," ucap Sultan sembari memberikan minum kepada Rere dengan sangat-sangat manis.


Ibu dan kakak perempuannya itu pun tersenyum di ruangan lain ketika mana mereka melihat Sultan begitu memperhatikan Rere di sana. Dan tentunya itu membuat ibu dan kakaknya itu merasa bahwa Rere akan aman bilamana Sultan menjaganya sedekat itu.


Waktu terus berjalan, dan akhirnya perpisahan itu kembali menghampiri Sultan, yang di mana ia pun harus segera pergi dan berangkat kembali untuk memasuki sekolahnya kembali.

__ADS_1


Salam pamit pun kembali Sultan berikan, dan setelah itu ia pun lalu pergi meninggalkannya di sana tanpa didampingi terlebih dahulu oleh Rere. Dan tentunya Sultan tak mengharapkan itu, dan justru Sultan lebih memilih Rere untuk tetap diam di rumah sesampai dia sehat terlebih dahulu.


Sultan pun kembali memulai pembelajarannya itu, dan seketika itu suara sorak yang di keluarkan dari pita suara teman-temannya itu bergemuruh kencang, yang di mana ini adalah hari keberuntungan yang Sultan miliki, dikarenakan guru mata pelajaran ketiga tidak masuk, dan itu adalah pelajaran terakhir yang harus Sultan kerjakan.


Namun, pada dasarnya jodoh itu memang tidak akan jauh pergi dari sisinya dan tentunya jodoh itu pun takan pernah pergi kemana-mana.


Dan tentu saja Sultan pun berbicang terlebih dahulu dengan teman-temannya di dalam kosan, namun pada saat ia akan pergi kembali mengunjungi rumah Rere itu di sana, seketika Rizal meneleponnya.


Suara yang di ke luarkan oleh Rizal agak berbeda, dikarenakan yang meneleponya itu adalah pacar dari Rizal, yang di mana sepertinya Rizal tengah membutuhkan pertolongannya itu.


"Akhirnya nyambung juga, Kang, bisa tolongin Rizal sama saya engga? ini soalnya kita lagi dicariin sama anak sekolah lain di sini," ucap pacar Rizal yang nampak sedang was-was bersama dengan Rizalnya juga.


"Di mana itu?" ucap Sultan, yang di mana ia pun terlihat panik juga, dikarenakan sahabatnya itu tengah dalam masalah besar.


"Di jalan Bumi Perkemahan Kang, kita lagi ngumpet disemak-semak, dan mereka berjumlah lima orang, dan tepatnya mereka tengah mencari kita."


"Tunggu! jangan kemana-mana sebelum saya datang! kalian diam dulu di sana, saya engga akan lama."


Seketika itu, motor tuanya pun berbunyi keras, dan dengan kencangnya ia pun melesatkan motor tuanya yang berjiwa muda itu untuk menolong sahabatnya yang tengah membutuhkan bantuannya itu di sana.


Waktu itu, sebelum Rizal menelepon Sultan, dan pastinya Rizal akan menelepon sahabatnya yang lain, namun kala itu teman-teman Sultan semua tak terlalu fokus menatap handphonenya itu, dikarenakan Maulana sedang ada masalah dengan pacarnya, dan Akbar pun sama seperti Maulana, dan Yogi pun sedang berteleponan dengan pacarnya, sementara Iman, serta Taufik sedang berbincang berdua sembari merokok tak habis-habis tanpa lelah, tanpa pengap.


Itu adalah suatu pilihan yang Sultan harus lakukan, dan Sultan harus tentukan, yang di mana ia harus mendahulukan Rere, ataupun sahabatnya? dan ya, dia pasti akan mementingkan keselamatan sahabtnya terlebih dahulu, dikarenakan di sana Rere sedang baik-baik saja karena sebelum itu, Sultan sempat mevideocall Rere terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2