
Dimas kembali menghubungi Wildan hanya untuk memberitahukan kabar yang baru saja semua temannya itu buat agar mereka tak menunggunya sambil berdiam diri di terminal, melainkan mereka semua akan menunggunya sambil melajukan motornya perlahan-lahan.
"Wil, kita semua udah mau berangkat nih, kayaknya kita semua engga akan berhenti sebelum sampai di Bogor, maka dari itu elu harus melajukan motor elu secepat yang elu bisa, tapi tenang aja, kita semua engga akan ninggalin elu, hanya saja kita akan mengendarai motornya perlahan demi perlahan, dan elu pastinya bisa nyusul kita," ujar Dimas sambil menyalakan mesin motornya.
"Oke, engga apa-apa Dim, bilangin sama mereka, sebentar lagi motor gue selesai, dan setelah gue mencoba motor gue berkeliling sejenak di sekitaran bengkel, pokoknya gue langsung bergerak dari tempat ini," ucap Wildan terlihat santai sekali dalam merespon ucapan temannya itu.
Panggilan telepon suara telah dimatikan, dan sekarang di sekitaran rumah Alamsyah terdengar bising sekali suara raungan motor yang hendak pergi meninggalkan rumah.
Mereka sengaja tak ingin berhenti di awal perjalannya, dikarenakan mereka sadar, bahwa semakin lama mereka berdiam diri, maka mereka akan melupalan waktu singkatnya, apalagi ketika Wildan sampai di terminal nanti, dia juga pastinya akan ikut beristirahat seperti semua temannya juga.
Setelah mereka mengecup tangan ayah dan ibu Alamsyah, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, mereka pun pergi seraya mengucapkan doa di dalam hatinya masing-masing.
Masih berada di sekitaran Kabupaten Sukabumi, di mana dugaan mereka itu memang benar, ternyata jalanan di hari sekarang cukup ramai dengan keberadaan orang-orang yang ingin menghabiskan waktu liburnya bersama para ayang.
Mereka tak bisa menunggu macet dengan cara berkompoi berbaris rapi di belakang saja, kini mereka berjajar sama rapi seperti cara menulis di buku tulis.
Demi menghibur diri sendiri berada di dalam kemacetan, tak disangka ternyata berbincang dapat menghilangkan sedikit rasa kejenuhan.
"Gue bilang juga apa, jalanan di hari Minggu ini bakalan ramai seperti hari-hari kemarin, rasanya sumpek juga bila harus nunggu macet kayak begini ya! sebenarnya kalau selap-selip juga bisa sih Dim, tapi kesian sama orang-orang yang lagi buncin, nanti ayangnya marah-marah sendiri," canda Sultan mulai melepaskan tawanya bersama Dimas, lantaran sekarang dia tepat berada di sampingnya.
__ADS_1
"Bener Tan, gue pernah mengalami hal itu, dan memang sosok cewe adalah sosok yang paling merasa engga nyaman dengan situasi seperti ini, apalagi bila panas, pasti cewe bakalan selalu ngoceh karena make up nya luntur terkena sinar matahari," canda Dimas sambil tertawa tipis.
"Bukan gue yang ngomong ya, lagian engga semua cewe seperti itu Dim, contohnya cewe gue, dia engga pernah tuh terlihat cantik karena make up, dikarenakan dia cantiknya alami dari dalam hatinya."
Tak sengaja tiba-tiba ada dua wanita yang menyaut di samping kiri motor Sultan, sepertinya mereka juga tengah tercegat oleh kemacetan.
"Benar tuh apa kata akang ganteng ini, apa yang akang ucapkan tadi sebenarnya salah! kita sebagai cewe engga pernah mengoceh karena kepanasan, ataupun make up kita luntur terkena sinar matahari," ucap salah satu dari pengendara motor wanita itu di sana.
Teman wanita yang lagi dibonceng itu pun ikut begumam, dan dia setuju dengan ucapan Sultan, lagi-lagi Sultan dapat mengambil hati seseorang dengan seketika tanpa bisa diduga-duga oleh Dimas.
....
"Gue bilang juga apa! engga semua wanita seperti itu, sekarang elu malu-malu sendirikan karena tanpa elu sadari bawa ternyata ucapan elu itu dapat membuat hati wanita tergores," ucap Sultan, di mana hari ini ia merasa menang dari Dimas, untung saja dia sempat menatap pengendara wanita di sampingnya itu, andai saja bila ia tak memastikan terlebih dahulu pengendara tersebut, maka ia pasti akan beranggapan hal yang sama seperti Dimas.
Berhubung kemacetan belum juga terlerai-leraikan di jalan sana, Sultan pun mengajak kedua wanita itu untuk berbicang denganya dan bersama dengan temannya itu juga.
Mereka berdua setuju, lagipula entah sampai kapan kemacetan itu akan segera usai, jadi mereka memanfaatkan obrolannya bersama Sultan untuk mengurangi rasa kejenuhannya di sana.
"Ngomong-ngomong kalian berdua mau ke mana nih? emangnya kalian berdua engga cape apa nunggin macet yang begitu panjang seperti ini," tanya Sultan begitu percaya diri sambil sesekali menatap kaca spion motor wanita itu.
__ADS_1
"Sebenarnya kita engga berdua, teman-teman kita semua ada di belakang sana, entah tertinggal atau mereka sengaja mampir ke suatu tempat terlebih dahulu, tapi tujuan kita sama-sama ada di Puncak Bogor," ucap wanita yang mengemudikan motor.
"Teman-teman kita semuanya cewe loh Kang, dan sebenaranya di belakang sana ada empat motor lagi yang tertinggal, pokonya disatu motor itu ada dua orang, samalah seperti kita, satu pengendara, dan satu lagi yana diboncengin," ucap wanita yang dibonceng itu.
Mereka berdua terlihat asik, bahkan pertemuan ini sudah sama seperti sebuah perencanaan, namun sayangnya pertemuan ini hanya sebatas angin lalu, tak lama, tapi cukup untuk berkenalan nama.
"Saya Sultan, dan ini teman saya Dimas, kita juga engga berdua, dan yang di belakang kalian itu semuanya adalah teman-teman kita, kalau saja waktunya tepat, mungkin saya akan ikut pergi ke Puncak Bogor," ucap Sultan dengan lembutnya berbicara kepada kedua wanita itu.
"Saya Salma, dan yang di belakang ini adalah sahabat saya dari kecil, namanya Amelia, kalau boleh tahu akang-akang ini mau pergi ke mana?" tanya Salma, si pengendara motor.
"Kita mau pergi merantau ke Tangerang, sebagaimana seorang siswa SMK, setelah kelas dua nanti kita akan diberikan sebuah tugas, sebenarnya tugas ini adalah ujian sekolah kita, anak-anak SMK sering menyebutnya dengan istilah PKL."
Di sana hanya Sultan yang merespon ucapan mereka, dan temannya hanya bisa melihat bagaimana cara kerja hati seorang Sultan.
Dimas mengangguk, ternyata hanya dengan berbicara lantang saja, Sultan dapat begitu mudahnya mengambil hati mereka berdua.
Mengambil bukan berarti dia cinta, berbicara lantang bukan berarti dia membentak, melainkan mengambil karena mudah mengenal seseorang, dan berbicara lantang adalah sikap percaya dirinya.
Yang dimaksud oleh Dimas adalah itu, dia memang selalu suka melihat Sultan mudah dekat dengan orang baru, sedangkan dia hanya bisa dekat dengan cara dikenalkan, bukan mengenalkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Beda hal nya dengan Azmi dan Alamsyah, mereka sama seperti Sultan, namun gaya yang mereka gunakan itu berbeda dengan cara halus Sultan, di mana Sultan takan pernah berani mengenalkan dirinya tanpa sebab, tapi kedua temannya itu menggunakan cara dengan niat ingin mengenal dekat hingga orang itu jatuh hati, itu adalah cara yang mereka gunakan untuk mengenal seorang wanita.
Cara tersebut terlihat terlalu memperlihatkan niat aslinya yang tak hanya ingin berkenalan saja, seperti hal nya terlalu ngarep, itu bahasa gaul yang sering digunakan oleh anak-anak di zaman sekarang.