Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 179 : Rendah hati


__ADS_3

Perkelahian tak berlangsung lama, sampai mana semua musuh dibariskan di dalam sana. Seluruh warga mulai berdatangan untuk menyaksikan dan memastikan apakah orang-orang di dalam kosan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Sultan masih menatap tajam sambil memegang dagu dari preman tersebut, ia memang mengenal dia, tapi entah di mana.


Sampai akhirnya ia sadar bahwa preman itu adalah orang yang sempat membegal motor milik Sultan, namun alangkah menyedihkannya dia, yang di mana malam itu Sultan pergi bersama dengan ayahnya, jadi alhasil preman tersebut dihajar oleh Sultan dan ayahnya sampai babak-belur.


Untung saja ayah Sultan mau meloloskannya asalkan dia mau berhenti melakukan hal sekeji itu. Dia mau menuruti apa perkataan dari ayah Sultan, namun ternyata dia hanya mengganti profesinya saja menjadi tukang pukul selain dari membegal.


"Kalian salah pilih preman nih, dia itu sebenarnya preman yang sempat dipatahin tangannya sama bokap gue karena dia mau membegal motor gue," ucap Sultan sembari memberikan tepuk tangannya dengan lantunan suara tawa yang sungguh histeris.


"Bukan hanya itu dah Tan, mereka juga salah pilih lawan yang sebanding dengan tenaga yang kita miliki ini di sini Tan," ucap Bang Azis sangat puas sekali menertawakan mereka semua di sana.


"Katanya lu bilang sama gue mau tobat Bro, kalau gue tahu lu mau berulah lagi seperti sekarang ini malam yang lalu mungkin gue akan menyuruh bokap gue untuk meremukan semua tulang tubuhmu itu," ucap Sultan yang terakhir kalinya membuat preman tersebut takut kepadanya.


Semua teman-teman Sultan mengikat mereka seperti mengikat seekor kambing kurban. Dengan ikatan tali tambang dileher mereka, apa mungkin mereka bisa melawan ataupun melarikan diri.


Warga mulai meninggalkan kosan di sana, dikarenakan mereka percaya dengan mereka semua. Sebenarnya orang-orang kosan sering membantu warga setempat seperti hal nya menolong menangkapkan ular yang masuk ke dalam rumah, menolong seekor kucing yang tidak bisa turun dari atas pohon.


Maka dari itu, seluruh warga yang berada di sekitaran sana memberikan rasa kepercayaan yang baik kepada orang-orang kosan, itu semua mereka berikan sebagai tanda terima kasih atas jasa yang pernah mereka berikan kepada warga setempat hingga sampai saat ini.


"Gue serahin semuanya sama lu aja Men, soalnya elu yang membawa mereka semua ke sini," ucap Sultan sembari menepuk pundak Iman dan lalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Gue mau telepon polisi aja Tan, biar mereka merasakan betapa dinginnya berdiam diri di dalam jeruji besi," ucap Iman membuat semua musuh meminta satu permohonan agar mereka semua dapat diloloskan dari masalah ini.


Sultan datang menghampiri Iman kembali. Ia pun menyalurkan suaranya untuk mereka dengarkan dengan sebaik mungkin.


"Mendingan lu semua cabut dah dari sini, soalnya teman-teman gue pada haus darah, apalagi kedua satpam yang tengah merokok itu di sana," sahut Sultan dengan sikap rendah hatinya ingin meloloskan mereka semua.


Sultan benar-benar meloloskan mereka semua, tapi tidak dengan satu orang yang sempat membuang wajahnya dari Sultan.


Itu memang benar, ternyata dia adalah saudaranya sendiri. Dia memang anak nakal, tapi Sultan masih tetap menganggap dia sebagai saudaranya.


"Gue udah tahu dari awal bahwa itu adalah elu! saudara gue sendiri. Berapa kali gue bilangin sama lu, stop membuat kedua orang tua elu khawatir," ucap Sultan dengan tegasnya meminta saudaranya itu untuk meninggalkan masa kenakalannya ini mulai dari sekarang.


....


Ini adalah pertama kalinya ia membentak saudaranya sendiri dengan nada tingginya di sana. Bahkan sebelumnya ia juga sempat akan menampar wajah saudaranya, namun ia tak mau termakan oleh egonya sendiri.


Hingga pada akhirnya ia pun menepuk bahu dari saudaranya dan lalu menyuruh dia untuk bergabung saja bersama dengan anak-anak tongkrongannya yang sehat ini di sana.


Teman-teman Sultan saling bahu-membahu untuk merangkul pundak dari saudara Sultan itu. Betapa asiknya memiliki teman seperti ini, sampai saudara Sultan dibuat tercengang melihat sikap asli mereka di sana.


"Kenalin dia saudara gue, namanya Rangga. Masalah yang tadi jangan terlalu dianggap serius oke, dia cuma diajak sama mereka aja," ucap Sultan membela saudaranya.

__ADS_1


"Oke, Tan, lupain aja, mendingan lu ikut duduk di sini aja sama kita, kalau lu belum makan nasi ada di sini, tapi kalau masalah lauk-pauknya engga ada maaf," ucap Bang Azis, dia merupakan salah satu penghuni pertama yang menyinggahi kosan di sana setelah kakak kelasnya lulus dari sekolah.


Rangga hanya bisa mengangguk saja sembari tersenyum menyambut salam sapa dari mereka semua. Dia pun duduk bersama Sultan dan berbincang hangat dengan ditemaninya beberapa batang rokok serta hangatnya rasa kebersamaan.


"Lu sekarang nginep di rumah gue oke, dan besok lu udah boleh pulang dari rumah gue. Ohh ... iya Ga, ini uang buat ongkos lu pulang, gunakan dengan baik jangan sampai dibeliin minuman haram," sahut Sultan dengan nada suara rendah hatinya.


"Iya Bang, makasih, tapi abang jangan bilang sama Uwa ya, soalnya saya takut dengan apa yang tadi abang ucapin sama Rangga," ucap Rangga dengan nada suara gelisahnya.


Uwa itu adalah nama panggilan kakak dari ayah ataupun ibu dari Rangga. Ibu rangga memiliki kakak, yakni adalah ayah dari Sultan, maka dari itu kenapa dia sering memanggil nama tersebut, dikarenakan itu adalah panggilan khas dari adat Sunda.


"Elu itu teman main gue dari kecil, mana mungkin gue membiarkan elu sengsara olehnya Ga, itu engga akan mungkin pernah terjadi," ucap Sultan mulai bisa bersahabat dengan keadaannya yang sekarang.


Setelah itu Sultan sempat melihat story Whatsapp dari Rere, sepertinya dia tengah membeli suatu makanan di depan gerbang pintu masuk untuk pergi ke rumah Rere.


Sultan meminta izin untuk pergi ke luar sebentar, ia pun meminta mereka untuk menjaga saudaranya juga. Semua teman Sultan menyetujui ucapannya, dan ia pun mulai meninggalkan kosan itu.


Sultan melihat Rere tengah membeli martabak, anehnya sejak kapan dia berani ke luar malam-malam tanpa Sultan temani.


Tak lama kemudian, Sultan pun menyimpan motor tuanya di depan parkiran alfamart setelah Rere pergi meninggalkan tempat tersebut.


Rere mulai berjalan seorang diri di atas jembatan irigasi. Rere sempat melihat kesegala arah dengan tatapan rasa takut, tapi Sultan berniat untuk menakut-nakutinya di sana.

__ADS_1


"Oyy, Re, lagi ngapain lu di sini, udah itu jalan-jalan sendiri lagi, emangnya elu engga takut diculik sama sosok menyeramkan gitu?" tanya Sultan membuat Rere terkejut sampai Rere melukai pacarnya sendiri dengan semprotan air cabe yang dia buat.


Bila Rere berjalan seorang diri, dia pasti akan selalu membawa semprotan air cabe sebagai alat untuk melindungi dirinya sendiri dari bahaya gelapnya alam di malam hari.


__ADS_2