Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 184 : Kekonyolan Sultan


__ADS_3

Sultan menyuruh Rere untuk menceritakan mimpinya yang semalam, namun tiba-tiba dia malah menoyor pelan helm dikepala Sultan. Bukan hanya itu saja, Rere pun malah tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Sultan.


"Idihh ... engga jelas kamu Re! gue kan mintanya jawaban, bukan malah toyoran elu itu," ucap Sultan sembari melirik raut wajah Rere sesaat saja.


"Engga ada yang perlu diceritain Tan, lagian itu kan cuma mimpi aja," ucap Rere tak mau banyak memberikan jawaban kepada Sultan, lantaran nanti prianya yang menyebalkan itu pasti akan meledeknya.


Sultan tersenyum tipis, ia lebih memilih untuk tetap fokus mengendarai motor tuanya saja, dan terlebih jalanan di hari Minggu begitu ramai, sampai-sampai dirinya bingung akan menyimpan motornya di mana.


"Minggu sekarang lebih ramai ya, Tan, biasanya engga seramai ini dah," ucap Rere sembari menatap permandangan yang tak asing di sana.


"Mungkin mereka semua tahu Re, kalau sekarang gue mau ninggalin Kota kelahiran gue ini," ucap Sultan dengan disandarkan kedua tangannya di atas kemudi stang motor tuanya.


Mereka berdua terlihat masih duduk-duduk santai di atas jok motor tua, dikarenakan semua parkiran sudah penuh, bilamana Sultan menyimpan motornya di area parkiran belakang, yang ia takutkan motornya akan menghilang dicuri orang.


Sultan pun menatap kesegala arah, sampai-sampai ia melihat petugas kebersihan membuka gerbang dari Gedung Pusat Kajian Islam yang berada di Kota Sukabumi.


Untung saja beliau sempat melihat Sultan, dan lantas petugas kebersihan itu menyuruh Sultan untuk menyimpan motornya di dalam sana saja.


Tempat tersebut memang bersampingan dengan Lapang Merdeka Kota Sukabumi, jadi ia memutuskan untuk menyimpan motornya di sana agar lebih aman.


Petugas kebersihan itu sangat ramah kepada Sultan dan juga kepada Rere, beliau menyambut Sultan seperti tamunya sendiri, tapi tetap aja yang Sultan sukai dari sikapnya itu adalah murah senyumnya.


Walaupun umur beliau sudah dibilang cukup tua, namun semangat dalam mencari nafkahnya masih tetap sama seperti anak muda sekarang.


"Makasih ya, Bah, sebelumnya saya juga sempat mau menyimpan motor saya di sini, tapi saya engga enak juga kalau saya engga izin dulu sama petugasnya," ucap Sultan dengan rendah hatinya sembari memberikan senyuman manisnya sebagai tanda ucapan terima kasih karena beliau telah mengizinkan dirinya untuk menyimpan motornya di sana.


"Padahal tinggal masuk aja Kang, engga apa-apa kok, lagian tempat ini dibuka secara umum, bagi siapa pun yang masuk engga ada masalah, asalkan mereka bisa menjaga kebersihannya saja," ucap beliau begitu rendah hatinya, sampai-sampai Sultan mengecup tangan beliau sebelum Sultan pergi meninggalkannya di sana.

__ADS_1


Setelah itu Sultan bersama Rere pun mulai melangkahkan kakinya untuk pergi masuk ke dalam area Lapang Merdeka.


Rere tertawa ketika dia melihat begitu banyak ibu-ibu yang sedang bersenam di sana. Lantas Rere pun menyuruh Sultan untuk mengikuti gerakan mereka, namun Sultan menolak perintah Rere sembari mencubit pipi kanan Rere.


"Kenapa kamu ketawa Re? ada yang salah kah dengan wajah imut gue ini," tanya Sultan dengan ditatapnya raut wajah Rere.


"Gue lagi ngebayangin elu lagi senam sama mereka Tan, kayaknya lucu deh Tan, kalau lu ikutan senam sama mereka di sana," ucap Rere yang membuat Sultan mencubit pipinya kembali.


"Jangan aneh-aneh dah Re! gue engga mau berdiri di samping mereka."


....


Saking asiknya Rere tertawa, sampai-sampai dia tak menyadari bahwa ikatan tali sepatunya terlepas. Akhirnya Rere terjatuh, untung saja pandangan semua orang di sana sedang buruk, jadi sebagian dari mereka tak ada yang menyadari bahwa Rere terjatuh.


Sebelumnya Rere sempat disenggol oleh seorang pria yang tengah berlari, Sultan pun sempat memanggil orang tersebut, tapi sayangnya orang itu tengah menggunakan earphone, jadi suara Sultan dia abaikan mentah-mentah.


Sultan membiarkan Rere tanpa membantunya, malahan ia membalikan badannya dan pergi meninggalkan Rere.


Bukannya dia tidak perduli terhadap Rere, hanya saja ia sedang merencanakan sesuatu agar Rere tak merasakan malu semalu yang tengah dia rasakan.


"Aduhh ... ," gumam Sultan yang mengikuti Rere terjatuh di sana.


"Kamu ngapain sih Tan! bukannya nolongin gue malah ikut-ikutan jatuh kayak gue," ucap Rere sembari tertawa melihat kekonyolan Sultan di sana.


"Sakit juga ternyata ya, engga apa-apa deh Re, asalkan rasa malu lu teredamkan karena sikap aneh gue ini."


Sultan terjatuh di hadapan Rere, dan sekarang Rere sadar bahwa Sultan akan melakukan hal apa pun untuk dirinya, bahkan sampai berpura-pura terjatuh di hadapan semua orang pun ia lakukan untuknya.

__ADS_1


Jatuhnya Sultan membuat pandangan semua orang tetuju kepada dirinya, entah kenapa mereka semua menatap Sultan dengan tatapan yang seperti itu.


Sultan pun sadar, bahwa wanita di sampingnya memberikan tepuk tangan sebagai tanda perhatian Sultan menjaga Rere.


"Emangnya kamu engga malu apa Tan?" ucap Rere sembari menatap tajam raut wajah Sultan.


"Buat apa malu Re? lagian inikan musibah, gue engga akan membiarkan mereka semua menertawakanmu sendirian, maka dari itu gue ingin merasakan seberapa malunya kamu terjatuh dimuka umum seperti ini," ucap Sultan sembari mengikatkan tali sepatu yang sempat terlepas dari sepatu Rere.


Rere tak dapat menepikan pandangannya dari Sultan, bahkan sampai sekarang pun dia masih memandanginya dengan manis.


Lagi-lagi Sultan menghapus ingatan Rere yang semalam, ia memang tak dapat menebak mimipi Rere seburuk apa, namun dia adalah seorang Sultan, semua bisa dia lakukan apalagi bila sudah menyangkut pautkan masalah hati Rere, dia adalah ahlinya.


"Elu sekolah berapa Tahun sih Re?" tanya Sultan membuat Rere bingung.


"Kenapa elu nanya kayak begitu Tan?" ucap Rere penasaran.


"Abisnya lu ngikat tali sepatu aja masih longgar, apa perlu gue ngajarin elu dari awal lagi bagaimana caranya mengikat tapi sepatu yang benar itu."


"Apaan sih bolot! udah deh," ucap Rere sembari mencubit keras kedua pipi Sultan.


"Udah engga malu kan sekarang Re? kalau gitu kita duduk aja di kursi sana," ajak Sultan sembari memberikan juluran tangannya untuk Rere genggam.


"Bisa jadi engga, bisa jadi iya."


"Kalau gitu minggir Re, biar gue pura-pura jatuh lagi supaya rasa malumu itu hilang sepenuhnya."


"Gue tahu kalau lu lagi kesakitan kan Tan? abisnya lu jatuhnya beneran sih bukan boongan."

__ADS_1


"Asalkan rasa sakit itu engga sampai tertular sama kamu Re, soalnya gue engga tega melihatmu sakit-sakitan seperti waktu itu."


__ADS_2