Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 260 : Tantangan Aisyah


__ADS_3

Prakk, prakk, prakk ....


Suara tepuk tangan dari Aisyah dengan seketika membuat semua teman Sultan tercengang, mengapa Aisyah ada di sana, apakah mungkin Sultan meminta bantuan dari seorang wanita polos seperti dia, hal itu sekarang menjadi sebuah tanda tanya besar bagi mereka semua.


Ini adalah pengalaman Sultan yang pertama kalinya, dan dia tak pernah merasa sepercaya diri seperti ini, bahkan raut wajahnya tak terlihat takut bila Aisyah ikut berkelahi bersama dengan dirinya di sana.


Sebenarnya Sultan sudah mengetahui jelas apa yang tengah teman-temannya itu pikirkan untuk saat ini, mungkin bisa jadi para brandalan itu pun akan beraggapan hal yang sama juga, di mana mereka semua pastinya akan berpikir bahwa Sultan sudah gila.


Namun, hal tersebut itu tidaklah benar, Sultan terlihat sehat seperti biasanya, dan nyatanya Aisyah begitu percaya diri menantang para brandalan itu untuk berkelahi satu lawan satu di atas ring bersama dengannya.


"Ternyata ini yang kalian sebut-sebut sebagai tarung jalanan! udah itu engga ada wasitnya lagi, masa iya sih beraninya main keroyokan, kalau emang kalian pria sejati, coba lawan gue satu-persatu di atas ring, kalau kalian terbukti bisa mengalahkan gue, dengan sangat terpaksa gue akan menerima si pemenang menjadi pacar gue."


Tantangan Aisyah membuat semua lawannya tertawa lepas, tapi tidak dengan teman-teman Sultan yang lebih memilih untuk tetap diam saja, dikarenakan mereka takut Aisyah terluka karena ucapan itu.


Lawan di sana memang cukup tangguh, teman-teman Sultan pun tak bisa mengalahkan mereka sesingkat seperti apa yang sedang Aisyah pikirkan.


"Adek manis, jangan ganggu kita ya, mendingan kamu pulang saja sana, nanti mamahmu nyariin loh, emangnya adek bisa mengalahkan kita semua, jangan sampai menyesal ya, bilamana nanti akulah yang akan memenangkan pertarungan satu lawan satu denganmu itu."


Ucapan dia tak terdengar seperti suruhan, melainkan salah satu dari para brandalan yang berbicara itu sepertinya tengah meremehkan seorang Aisyah.


"Brader, coba lihat pria penakut itu, masa dia minta bantuan dari seorang wanita polos seperti adek manis ini, pantas saja tadi dia pergi, ternyata dia lagi ngadu sama seorang cewe, malu-maluin aja lu Bro, haha."


Ternyata mulut dari salah satu brandalan itu sudah sama cerewetnya seperti seorang wanita, padahal dia adalah salah satu anggota brandalan yang baru saja datang, bahkan dia juga belum sempat melihat kehebatan Sultan dalam segi berkelahinya itu seperti apa.

__ADS_1


Sultan menantang si peremeh itu untuk maju dan memukul bagian anggota luar tubuhnya yang mana saja sekeras yang dia bisa lakukan.


"Woii, banci jadi-jadian! buktiin kalau elu itu memang pria tangguh, cukup sampai di sini basa-basimu Dek! jangan bisanya cuma mencaci maki lawan elu ini saja, gue kasih elu tiga kesempatan untuk memukul keras bagian tubuh gue ini, pilih salah satu anggota tubuh yang akan elu pukul."


Tantangan Sultan malah semakin membuat salah satu dari brandalan gila itu tertawa lepas. Sebenarnya Sultan hanya ingin mengingatkan dia saja agar dia cepat mundur sebelum pukulan Sultan menghantam wajah tampannya.


"Bro, lu salah server, tempat lawak bukan di sini, seharusnya elu tetap menyerah saja sebelum gue menerima tantangan dari seorang pengecut seperti elu," ucap salah satu brandalan yang meremehkan Sultan.


....


Sultan meregangkan semua anggota tubunya dengan begitu lepasnya di sana, sekarang bukan waktu yang tepat bagi dirinya beradu argumentasi, melainkan sekarang waktunya untuk berkelahi bersama dengan harga diri.


"Ohh, iya Syah, gue juga mau daftar sebagai peserta bolehkan? siapa tahu gue bisa mengalahkan elu dengan cara yang gue miliki ini, bukan karena gue ingin memiliki elu, hanya saja gue ingin melihat seberapa hebat seorang wanita pedek ini."


"Udah siap gue kalahin belum Bro?" tanya dari salah satu brandalan yang menantang Sultan.


"Bukan gue, tapi elu bego!" ujar Sultan singkat, di mana dengan senang hati dia membiarkan lawan memukul wajahnya terlebih dahulu sebelum brandalan songong itu tak sempat melihat matahari terbit di esok hari.


Bukk ....


Satu pukulan yang tak berarti apa-apa itu mendarat diwajah Sultan, ternyata benar apa kata Sultan yang sebelumnya itu tadi, dia hanya pandai dalam berbicara, bukan pandai dalam memukul seseorang.


"Aduhh ... jangan keras-keraslah bego! sakit wajah gue, tolongin gue Bro, gue engga sanggup lagi," ucap Sultan sambil berpura-pura terjatuh lemas, padahal hatinya tengah tertawa lepas di sana.

__ADS_1


"Pukulan pelan seperti itu juga udah sanggup menjatuhkan tubuh elu ini, jangan bermimpi untuk mengalahkan gue," ujar brandalan songong itu sambil menertawakan Sultan tanpa henti.


Sultan bangun dan membalas tawa dia itu dengan suara tawanya juga, hanya saja tawa Sultan lebih lepas bila dibandingkan dengan tawa brandalan itu tadi.


"Ciee ... udah terlanjur senang lu ya? tapi sangat disayangkan pukulan elu itu sama sekali engga bisa gue rasakan sakitnya, bahkan bila dibandingkan dengan gigitan semut merah, lebih terasa sakit gigitan semut itu, ayok, cepat pukul lagi wajah imut gue ini, bila perlu sampai pingsan dah, serius," ledek Sultan sembari memukul-mukul bagian pipinya sendiri.


Pukulan kedua masih sama rasanya, dan pukulan ketiga terasa lebih lembut lagi, bahkan bila dia membandingkannya dengan pukulan Rere, masih tetap terasa sakit pukulan wanitanya, apalagi tamparannya itu, mungkin Sultan takan pernah membiarkan dirinya melakukan hal yang sama seperti dia menyuruh brandalan itu untuk memukul wajahnya.


Pada saat brandalan bawel itu akan memukul wajah Sultan yang keempat kalinya, tiba-tiba Sultan menepisnya dan lalu dia pun membalikan pukulan dia tepat mengenai hidungnya hingga berdarah.


Sultan masih belum puas karena pukulannya itu terlalu pelan, lantas dia pun memukul pipinya hingga brandalan itu terjatuh lemas, bisa dibilang pingsan.


Suara sorak dari teman-temannya itu bergemuruh, dan akhirnya semangat mereka mulai bangkit lagi, namun pada saat Sultan lengah salah satu dari brandalan yang lain tiba-tiba menghantam kepalanya menggunakan batu, tapi untung saja ada Aisyah di sana, jadi batu tersebut malah terpental tepat mengenai wajah dari salah satu brandalan pemilik batu tersebut itu.


"Eitss, engga semudah itu kamu memukul wajah lawan pada saat dia lagi engga sadar, rasaintuh! gue balikin lagi batunya," ucap Aisyah, di mana tepisannya itu dapat Sultan rasakan juga, sampai anginya pun terlintas dileher bagian belakangnya itu.


"Anginnya sampai terasa dipundak gue Syah, namun dengan sangat terpaksa gue harus menunda beberapa ucapan terima kasih ini karena situasinya mulai memanas."


"Gue engga berharap elu mengucapkan kata itu kok, dasar engga tahu diri! udah diselamatin juga, tapi masih tetap saja menyebalkan."


"Woii, gue denger loh! makasih Syah."


Ucap Sultan membuat Aisyah tak habis pikir, kenapa dia selalu saja seperti itu, padahal apa susahnya bilang langsung tanpa harus membuat seseorang itu marah terlebih dahulu.

__ADS_1


Itu adalah sifat Sultan, bahkan Rere pun sering merasakan tingkah laku itu lebih banyak dari Aisyah, apa yang sekarang tengah Aisyah rasakan sebenarnya itu adalah bagian terkecil, tentunya kesabaran Rere lebih banyak diuji oleh Sultan.


__ADS_2