Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 436 : Kemanisan sikap seorang Rere


__ADS_3

Sultan masih duduk terdiam sembari menyuapi Rere makan pagi dengan bubur yang ia beli tadi itu, dan di dalam sana Rere pun menyantap makanannya dengan lahap, yang di mana itu Sultan pun nampak sangat senang bilamana setiap hari ia bisa menyuapinya makan pagi seperti ini.


Takan pernah ada kata takut, dan takan pernah ada kata bimbang, bilamana Sultan hadir dan diam menemaninya di dalam sana.


Dan tentu saja waktu itu, kening Sultan yang terluka kemarin, ia tutupi dengan menggunakan sebuah perban yang sudah jadi, dan jadi ia tak perlu repot-repot lagi untuk membuat perban itu terlihat rapi karena pada dasarnya, perban itu telah dibuat memang untuk langsung dipakai, tanpa harus ia mengubah konsepnya terlebih dahulu.


"Satu suap lagi Re," ucap Sultan sembari menatap Rere sambil menyuapinya makan dengan manis.


"Lukamu masih terasa sakit engga Tan? seharusnya kamu jangan sekolah dulu, aku cuma takut kalau kamu kenapa-kenapa nantinya, dan apalagi kamu juga engga harus datang ke sini kembali karena aku baik-baik saja di sini kok, Tan," ucap Rere yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Sultan, dan yang di mana padahal dia juga sedang sakit, bahkan rasa sakitnya itu lebih parah daripada Sultan di sana.


"Apaan sih kamu Re! engga usah lebay ah! lagian aku engga apa-apa kok, dan kamu bisa melihatnya sendiri juga kan? bahwa aku baik-baik saja."


"Tapi Tan ... ," ucap Rere, yang di mana Sultan pun lalu menutup mulutnya itu dengan menggunakan jari telunjuknya itu, dikarenakan Rere begitu bawel, dan jadi lebih baik ia melakukan hal tersebut agar Rere bisa diam tanpa harus berbicara panjang lebar kepadanya.


"Sutt! jangan bawel! walaupun aku suka dirimu yang seperti ini, namun akan tetapi, pacarmu ini lebih suka dan akan memilih untuk tetap menyuruhmu menatapku saja, dikarenakan aku mau mengoleskan salep diwajahmu, serta ditanganmu ini Re, supaya lukamu bisa cepat mengering," ucap Sultan sembari mengoleskan salep, yang di mana salep itu adalah obat untuk mengeringkan luka cacar air yang tengah dialami oleh Rere itu di sana.

__ADS_1


Beberapa tetes salep pun, lalu ia oleskan kepada luka yang terdapat luka bintik merah saja diwajah, serta ditangan Rere itu, dan tentunya dibagian lain pun juga pasti ada, namun yang hanya Sultan bisa oleskan itu hanya berada diwajah, serta ditangannya saja, dikarenakan ia tak berani menyentuh bagian yang memang ia tidak harus menyentuhnya sebelum ia memiliki Rere seutuhnya.


Setelah Sultan selesai mengoleskan salep itu diwajah, serta ditangannya itu, ia pun lalu kembali menyuruh Rere untuk meminum obatnya terlebih dahulu sebelum dia pergi untuk tertidur kembali.


Dokter memang sengaja memberikan obat yang ada efek samping yang bisa membuat Rere tertidur, dikarenakan efek itu bisa membuat keadaan Rere jauh lebih baik karena bilamana dia tidak tertidur kembali, maka Rere akan menggaruk luka itu hingga bisa membuat luka itu semakin bertambah banyak saja.


"Makan udah, pakai salep pun udah, dan minum obat juga udah, palingan tinggal hanya mengoleskan salep dikakimu, serta dianggota badanmu saja, dan itu biar mamah kamu aja yang mengoleskannya ya, karena aku memang engga bisa melakukan hal itu terhadapmu, dan setelah ini pokonya kamu harus banyak istirahat, supaya lukamu bisa cepat pulih," ucap Sultan sembari mengelus hijab yang melekat dikepala Rere itu kembali dengan sangat manis.


....


Waktu telah berjalan disetiap detiknya, hingga mana kali ini tinggal Sultan meninggalkannya pergi kembali, dikarenakan ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat yang Rere miliki itu lebih lama lagi.


"Sebelum kamu pergi, aku mau nanya sesuatu sama kamu terlebih dahulu, boleh kan Tan?".


"Pastinya boleh lah Re, emangnya kamu mau tanya apa sama aku? kalau begitu silahkan Re, aku bakalan dengerin hingga kamu merasa sangat puas," ucap Sultan, yang di mana kala itu ia tengah menggunakan jaket gunung berwarna merah miliknya, dikarenakan ia juga akan segera berangkat pergi untuk memasuki sekolahannya itu di sana.

__ADS_1


"Emang kamu engga geli melihat aku seperti ini Tan? dan apalagi ketika kamu mengoleskan salep diwajah, serta ditanganku ini, emangnya kamu engga merasakan sesuatu hal yang dapat membuatmu merasa bosan terhadapku ini Tan?" ucap Rere sembari menatap wajah Sultan dengan tajamnya, tanpa sedikit pun ia mau menjauhkan pandangannya itu dari Sultan.


"Menatapmu, bagaikan aku sedang menatap indahnya senja di langit sore Re, dan itu engga akan pernah membuatku merasa bosan, bahkan mataku ini tidak pernah menyuruhku untuk memalingkannya, dan hal itu takan pernah membuatku merasa geli, karena seberapa buruk wajahmu itu, takan pernah membuatku gentar untuk tetap mencintaimu di sini."


"Mata ini seolah-olah diciptakan hanya untuk menatapmu saja Re, dan bilamana mata ini sudah memandangimu, maka hati pun akan ikut berseru bahagia bersamaku di dunia nyata ini, dan itu adalah suatu keadilan yang Tuhan berikan kepadaku, bahkan Tuhan pasti akan merasa bosan dengan kata-kataku ini Re, yang di mana kata-kata ini adalah kata pujian untuk beliau karena beliau telah memberikan kebahagiaan ini dengan sangat berlebih," ucap Sultan kembali, yang di mana ia pun kembali mengelus hijab yang melekat dikepala Rere itu sambil sesekali mengecup keningnya.


"Mamah lagi di luar rumah kan? kalau begitu nanti salamin sama mamah ya, bahwa aku engga bisa pamitan dulu dengannya, Asalamu'alaikum."


Sultan pun lalu memberikan tangannya itu untuk dia kecup terlebih dahulu, namun alangkah menyebalkannya sikap Rere itu, yang di mana dia malah mengecup pipi Sultan yang kedua kalinya, dan itu sungguh membuat dirinya berpikir kembali, apakah ia bisa meninggalkannya di sana? sementara itu Rere selalu membuat Sultan merasa terjebak dalam situasi yang begitu sempit seperti ini.


Dengan seketika, Sultan pun menyentil kening Rere dengan jari telunjuknya itu, yang di mana ia hanya ingin mengingatkan Rere saja, bahwa bilamana dia ingin bersikap manis terhadap dirinya kembali, maka dia jangan menyuruhnya untuk pergi ke sekolahnya.


Namun, ia sudah terlanjur menginjakan kakinya itu di luar ruangan rumahnya, dan jadi keputusan yang harus ia pilih memang lah harus pergi untuk berangkat masuk ke dalam sekolah terlebih dahulu.


Pertemuan serta perpisahan itu, hanya akan bersifat sementara saja, dan bilamana ia ingin terus berada di sisinya selamanya, maka ia harus benar-benar menepati doanya tersebut itu, yang di mana doanya itu adalah memiliki Rere seutuhnya.

__ADS_1


Motor kembali dimatikan, dan motor itu kembali diparkirkan, dan tepatnya ia menyimpan motornya itu kembali sebuah kosan, yang di mana saudaranya semua pun tengah duduk di sana sembari merokok hangat.


Sultan pun lantas menemui mereka dan lebih memilih masuk ke dalam sekolah bersama dengan mereka saja, dikarenakan ketua kelasnya pun juga ada di sana, yang di mana panutannya itu pun memang sama nakalnya dengan mereka semua.


__ADS_2