
"Sebenarnya banyak mobil Bogoran yang berhenti di depan saya, tapi entah kenapa saya enggan untuk masuk ke dalam mobil itu," ucap wanita itu yang sepertinya memiliki trauma tersendiri dihidupnya.
"Ngilangin rasa trauma kayaknya emang sulit ya," ucap Sultan hanya sekedar menebak isi dalam pikiran wanita itu.
Wanita itu sempat menoleh ke arah Sultan, namun itu hanya sesaat saja, dikarenakan mungkin dia takut bila nanti Sultan akan memanfaatkan kesendiriannya di dalam mobil itu.
Sultan pun sempat saling pandang, tapi itu hanya sekedar reaksi sederhananya, yang di mana ia hanya ingin melihat apakah dia benar-benar memiliki traumanya tersendiri.
"Pertama ada mobil Bogoran yang berhenti di depan saya, tapi saya takut masuk ke dalam sana, dikarenakan mobil Bogoran itu kosong, udah itu sopirnya agak sedikit memaksa saya untuk masuk ke dalam mobilnya," ucap wanita itu yang tak menjawab langsung pertanyaan dari Sultan.
Sultan mengangguk memahami apa ketakutan yang tengah melanda hatinya. Mungkin bila ia ada diposisi wanita itu, dia pun akan merasakan ketakutan yang sama sepertinya.
Wanita itu melanjutkan ucapannya, dikarenakan dia telah melihat reaksi Sultan bahwa Sultan cukup untuk memahami apa ucapannya itu.
"Dan terus mobil kedua pun sama, sopirnya menyuruh saya menaiki mobilnya dengan nada suara yang engga mau saya dengarkan sebelumnya, udah itu di dalam mobilnya ada banyak sekali pria, entah mereka pria baik-baik, ataupun sebaliknya," wanita itu menceritakan semua pengalamannya di malam hari ini kepada Sultan.
Tapi, anehnya kenapa dia mau memasuki mobil yang tengah Sultan naiki itu, apa mungkin dia merasa aman bila bertemu dengan Sultan? berhubung wajah Sultan pun memang terlihat agak sedikit polos.
Jadi, semua orang menganggap Sultan seperti anak baik-baik, namun tentunya dia pun sama seperti pria yang lainnya.
"Emang teteh engga takut sama kita?" tanya Sultan dengan gaya tersenyum tipisnya.
Wanita itu menepikan tubuhnya, dia berusaha menjauh dan mungkin dia sangat ingin meloncat dari mobil tersebut, namun mobil yang tengah dia naiki sedang melaju kencang.
Sultan bersama dengan sopir mobil Bogoran tertawa lepas, mereka berdua memiliki pemikiran yang sama, yakni sama-sama ingin membercandai wanita itu agar dia terhibur dengan apa malam yang telah melanda ketakutannya sekarang.
Wanita itu menatap Sultan dan mulai mengerti bahwa mereka hanya sedang membercandainya saja, lantas dia tak perlu mengkhawatirkan apa pun sekarang.
"Engga usah takut Teh, saya bukan pria yang sedang teteh pikirkan, lagian amang sopir pun sangat baik, mana mungkin dia bisa memanfaatkan kesendirian teteh di dalam sini," ucap Sultan mulai menenangkan perasaan wanita itu.
__ADS_1
"Amang udah punya istri, lagian amang hanya sayang sama istri amang saja di sana, terlebih amang punya dua anak, jadi amang engga mau melihat hati mereka sampai terluka karena prilaku buruk amang selama narik angkutan umum Bogoran ini," ucap beliau menjelaskan semua penjelasan yang ingin wanita itu dengarkan.
Wanita itu menoleh ke arah kursi belakang mobil, dia hanya menatap beberapa detik saja untuk melihat semua pria yang sedang tertidur di kursi belakang mobil tersebut.
"Mereka teman-teman saya, jadi teteh engga perlu takut sama mereka semua," ucap Sultan melihat semua temannya di belakang juga, dan lalu dia pun menatap wanita itu kembali sembari tersenyum.
"Panggil aja Siti," ucap Siti mulai merasa aman bila dirinya menaiki mobil Bogoran yang kini tengah Sultan naiki.
....
"Haii, Siti ... ," ucap semua teman Sultan di belakang sana dengan serentak.
Siti mulai terbawa suasana, dia menjawab sapaan dari semua teman Sultan sembari tertawa dengan lepasnya.
"Haii, ganteng," ucap Siti mulai memperlihatkan sikap aslinya kepada mereka semua.
Siti memang wanita cantik, dan sepertinya dia pun sama polosnya seperti Sultan. Namun, sebenarnya dia pernah terjerumus masuk ke dalam kenalakan di masa remajanya dulu.
"Tan, elu duduk di tengah lagi, gantian lah, gue juga mau duduk di depan sama amang sopir," alasan Alamsyah kepada Sultan.
"Gue udah nyaman duduk di depan Lam, tapi kalau elu memaksa silahkan aja, biar nanti gue duduk di tengah sama Siti," ucap Sultan berbasa-basi terlebih dahulu, mungkin nanti ia akan membuat Alam malu dan menjelaskan apa alasan dia ingin duduk di kursi depan.
"Iya Kang, biar nanti saya duduk di kursi tengah aja sama akang Sultan," ucap Siti sembari menoleh ke arah Alamsyah.
Alamsyah mengangguk rendah, sepertinya Siti sama sekali tidak mengetahui alasan yang sebenarnya, dan sepertinya dia buta akan kemauan Alam itu.
Alam terdiam dan lebih memilih duduk di kursi tengah saja, lagipula apa yang dia harapkan saat itu hanyalah angin lalu saja.
Perbincangan itu membuat semua orang yang ada di dalam mobil Bogoran tersebut tertidur kembali, tapi tidak dengan Sultan dan sopirnya.
__ADS_1
Siti tertidur dengan wajah kelelahan, dia sempat berbicara kepada Sultan bahwa dia sudah lama berdiam diri di tempat yang sebelumnya, pada saat semua mobil Bogoran berhenti di depan wajahnya.
Satu jam kurang Siti berdiri menunggu mobil Bogoran yang tulus mengantarkannya pergi untuk pulang ke rumahnya, tapi kebanyakan sopir serta penumpangnya mengharapkan lebih dari nafsunya.
Hingga pada akhirnya kediamannya itu membawakan hasil yang dia inginkan sebelumnya, sampai-sampai dia bertemu dengan Sultan dan sopir yang baik serta tulus mengantarkannya hingga ke tempat tujuannya.
Kembali kepada Rere yang masih tertidur dengan pulasnya, sementara Sultan menunggu Rere tersadar semabari berbincang bersama sopir itu.
"Saya belum sempat menanyakan nama amang, nama amang siapa?" tanya Sultan.
"Panggil aja saya amang Asep," ucap beliau masih berbicara menggunakan nada rendah hatinya.
"Saya Sultan, panggil aja Tan."
"Akang dari mana, mau ke mana?".
"Saya dari Tangerang Mang, dan saya mau pulang ke Kota Sukabumi, tepatnya berhenti di terminal Tipe A yang ada di jalan Jalur Lingkar Selatan."
Mang Asep mengangguk, beliau berbicara bahwa beliau akan mengantarkan mereka semua hingga pulang ke rumahnya masing-masing.
Dan yang paling Sultan suka dari sifatnya, yaitu beliau tidak mengharapkan lebih uang ongkos dari mereka, dan bahkan beliau menurunkan harga ongkosnya.
Bukan karena beliau melihat mereka adalah siswa sekolahan, namun akan tetapi beliau memang sengaja menurunkan harga ongkosnya, dikarenakan beliau pun tinggal di tempat yang tidak jauh dekatnya dengan rumah Sultan.
Sultan tetap akan membayar dengan harga sesuai tarif yang beliau berikan, bahkan Sultan akan menambah tarif tersebut untuk membalas kebaikannya.
Sultan sekarang telah sampai di Kota Sukabumi. Sementara itu beliau tetap ingin mengantarkan mereka semua hingga ke rumahnya, tapi berhubung malam itu sudah sangat gelap, terlebih rumah Alamsyah cukup jauh, jadi beliau hanya mengantarkan Siti dan Sultan saja.
Azmi, Dimas, Alamsyah, dan juga dengan semua temannya yang lain telah dijemput oleh pihak keluarganya masing-masing, tapi Sultan memang sengaja ingin merahasiakan ke pulangannya ini kepada semua keluarganya, jadi di sana tak satu pun anggota keluarga dari Sultan yang menjemputnya.
__ADS_1