Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 135 : Rasa takut


__ADS_3

Esok adalah hari yang pastinya akan terpenuhi dan yang pastinya akan terjadi. Mungkin mulai dari sekarang Sultan memang benar-benar harus siap menahan rasa rindunya itu kepada Rere nanti.


Pak Mukhsin datang membawa kabar baik kepada mereka semua, bahwa mereka hanya perlu melaksanakan tugas prakerinnya selama 3 Bulan saja tidak lebih.


Sebelumnya HRD dari Perusahaan itu meminta mereka semua untuk melaksanakan tugas prakerinnya selama 4 Bulan, namun HRD memaklumi kurikulum yang telah dibuat oleh pihak sekolahnya.


Hari Senin esok mereka semua sudah bisa memulai tugas prakerinnya di sana. Tetunya mereka akan di didik oleh pihak Perusahaan hingga mana ia dan teman-temanya bisa mengetahui seberapa sulitnya mencari uang tanpa adanya sebuah perencanaan.


"Meski mata jauh memandangmu di sana, namun rasa sayang ini akan selalu hadir menemanimu tanpa ada kata habis untuk tetap mencintaimu," ucap Sultan dalam hati sembari menatapi foto-foto kenangannya bersama dengan Rere di Kota kecilnya itu.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kosan kembali. Dan seperti biasa Pak Mukhsin pun pergi meninggalkan mereka semua, dikarenakan beliau lebih memilih beristirahat di tempat singgah Farid.


Alasan beliau lebih memilih bersinggah di tempat Farid itu cukup logis, yang di mana tempat singgah Farid dan tempat singgah Sultan memang jauh berbeda luasnya. Tentu saja apa yang beliau ucapkan itu memanglah benar, dan mereka semua pun bisa memaklumi ucapan beliau itu.


"Astagfirullah, seratus panggilan tak terjawab dari Rere. Kesian beut dah dia, maafin gue ya, bolot," ucapnya sambil tertawa tipis.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara panggilan telepon dari Sultan menyala di handphone milik Rere. Kala itu dia memang sedang menunggunya di dalam kamarnya, namun Sultan tak kunjung meneleponnya hingga pada akhirnya dia pun tertidur dengan sendirinya.


Rere menyadari bahwa handphone miliknya itu berdering serta bersuara dengan kerasnya. Dia memang sengaja membesarkan volume suaranya agar supaya dia bisa mendengar jelas bilamana Sultan meneleponya nanti.


Dia terbangun dengan seketika, dan dia pun lalu menjawab panggilan suara dari Sultan dengan mengeluarkan nada yang agak sedikit terhentak, dikarenakan mungkin itu adalah suatu jawaban yang akan diberikan oleh semua orang ketika mana mereka baru terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Hmm, ada apa?" tanya Rere singkat.


"Singat amat dah Re! padahal kalau elu emang lagi rindu sama gue tinggal bilang aja, engga usah tuh elu belaga sok engga perduli gitu sama gue bolot!" ucapnya kepada Rere dengan mengeluarkan nada yang agak sedikit menyebalkan.


"Dari mana aja sih kamu Tan? gue nunggu lu dari tadi pagi juga dih, sampai-sampai gue ketiduran kan jadinya di sini bego!" Rere berucap dengan kerasnya membantah perkataan Sultan yang sering menghilang tanpa kabar.


Sultan tersenyum karena dia bisa kembali mendengarkan suara wanita manjanya itu di sana. Ia tak banyak membantah, dan bahkan sekarang ia hanya bisa mengalah kepadanya saja.


Mungkin Sultan akan beranggapan bahwa sifat Rere itu takan pernah bisa diubah olehnya, selain dialah yang mengubahnya sendiri. Sultan terlalu banyak mengalah, sehingga dia tidak bisa mengajarkan lebih bahwa Rere pantasnya harus bersikap seperti apa kepadanya.


Bukannya ia tidak bisa untuk melakuknnya, tapi sifat kepribadiannya itu pun sudah bisa dibilang bahwa Sultan adalah pria yang sangat menyebalkan. Maka tak heran kenapa Rere pun bisa bersikap lebih menyebalkan dari dirinya, dikarenakan dia sendirilah yang mengajarkan sifat menyebalkan itu kepada Rere.


....


"Tahu aja dah kalau gue mau nuduh lu itu," singkat, padat, dan jelas. Kata itu adalah ucapan yang dia ucapkan kepadanya karena mungkin Sultan telah memahami apa isi yang ada dalam pikirannya tersebut.


"Percaya sedikit aja sama gue bisa kan Re? perasaan pandanganmu itu selalu buruk saja kalau sudah berurusan dengan sifat gue ini," ia merasa heran! kenapa Rere selalu saja menuduhnya yang tidak-tidak, padahal ia sudah berusaha memberikan pandangannya hanya untuk menatapi raut wajah cantik wanitanya itu saja.


"Mau percaya gimana! orang elu juga jarang ngabarin gue Tan," Rere mulai memainkan permainannya untuk membuat Sultan semakin lelah terhadap sikapnya.


Sultan menyandarkan punggungnya di belakang tembok pembatas antara kosan warga lain. Ia semakin dibuat bingung olehnya, entah sampai kapan sifat cemburuannya itu akan terus mendampingi Rere.


Tapp, tapp, tapp ....

__ADS_1


Suara langkah kaki Dimas terdengar jelas ditelinga Sultan. Dia pun duduk di samping Sultan sembari membawakan minuman dingin untuk dia juga.


Dimas pun sama sedang berbincang bersama dengan pacarnya di sana. Nampaknya bukan hanya Sultan yang sedang bertengkar bersama dengan Rere, ternyata dia pun sama seperti Sultan.


Hanya karena rindu! mereka bisa bertengkar seperti itu. Etah itu terlalu kekanak-kanakan, tapi sesungguhnya hal itu bisa mencerminkan bahwa memang perasaan sayang takanan pernah bisa untuk dicumbukan.


"Haduhh ... pusing gue Tan! pacar di sana ngekang nyuruh gue pulang mulu," Dimas menjeda suara telepon di Whatsappnya agar supaya pacarnya tak bisa mendengarkan pembicaraan dia bersama dengan Sultan.


"Sama Dim, gue juga sedemikian. Tapi, lu harus tahu! pacar lu berisikeras nyuruh elu pulang seperti itu, dikarenakan dia takut kalau elu di sini mencari gandengan yang lain selain dia," Sultan berusaha menjelaskannya supaya Dimas tahu, bahwa pacarnya menyuruhnya pulang karena dia takut Dimas akan mencari pacar baru di sana.


"Jadi gue harus gimana Tan?" tanya Dimas.


"Sebenarnya singkat sih Dim, elu hanya perlu membuat dia percaya, bahwa lu di sini benar-benar menjaga hatinya dengan sebaik mungkin."


Sultan tidak menjeda percakapannya bersama dengan Rere supaya dia bisa mendengarkannya juga, bahwa dia benar-benar menjaga perasaan Rere di sana.


"Jadi begini ya, Dim, sekurang-kurangnya dia, dia takan pernah bisa menjadi manusia yang lebih sempurna lagi, karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna, dan elu harus tahu kenapa dia bersikap seperti itu sama lu, tidak lebih ya, karena dia sayang sama elu Dim."


Sekarang Dimas baru memahaminya setelah Sultan menjelaskan semua alasan kenapa pacarnya bisa menyuruhnya pulang ke Sukabumi ya, karena dia merasa takut Dimas akan menduakannya.


Sultan sengaja membiarkan suara teleponnya masih terhubung tanpa menjedanya sedikit pun, dikarenakan dia ingin menjelasnkannya kepada Rere bahwa rasa sayangnya takan pernah terduakan.


"Dengerin tuh ucapan temenmu," ucap pacar Dimas yang membuatnya terkjut, yang di mana padahal dia sudah menjeda suara teleponnya itu, tapi kenapa pacarnya masih bisa mendengarkan suara mereka berdua di sana.

__ADS_1


__ADS_2