Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 379 : Dia adalah bidadariku


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa henti, tanpa lelah. Sampai pada akhirnya malam yang kelam semakin bertambah gelap saja. Sunyi dan sepinya sudah mulai terasa, dinginya pun sudah mulai berbeda.


Sultan masih berdiam diri di luar ruangan kosan sambil menikmati susu jahe yang kedua kalinya. Tak luput dari dirinya yang sedang meratapi raut wajah Rere yang tengah tertidur dengan manisnya.


Hisapan dan hembusan rokok ia ke luarkan dengan perlahan-perlahan, sambil sesekali menatap asapnya yang begitu tebal ia hembuskan, dan terlebih dinginnya udara di luar ruangan memang terasa menusuk hingga ke dalam jiwanya.


Maka tak heran, kenapa asap rokok itu bisa begitu tebalnya pada saat ia hembuskan ke luar perlahan, dan tentunya udara dingin itu pun melengkapi kediamannya yang sekarang.


"Mata tertutup dan mata terbuka hanya untuk menatap raut wajah cantikmu, bidadariku. Hidup satu arah, dan mencintai tanpa diarahkan, hanya hati yang sanggup merasakannya, seberapa bisa aku terjatuh karena cinta, dan seberapa bisa aku bangkit karena cinta yang kamu berikan kepadaku, sang rembulan malam, sang mentari pagi, dan sang senja di sore hari, yaitu wanitaku," ucapnya dalam hati.


Sultan pun lalu masuk ke dalam ruangan, dikarenakan udara di luar semakin malam semakin terasa dingin saja. Namun, entah kenapa disaat ia sudah berada di dalam ruangan kosan rasanya sungguh berbeda, yang di mana pengap bisa Sultan rasakan saat itu.


Tak heran, kenapa udara di luar lebih nikmat Sultan rasakan bila dibandingkan dengan udara hasil buatan dari satu kipas angin yang jadi rebutan.


Dan terlebih ruangan di dalam kosan tidak seluas yang mereka kira sebelumnya. Di dalam sana ada 10 jiwa, walaupun mereka tertidur tanpa bersempit-sempitan, namun akan tetapi udara di dalam sana masih tetap sama terasa pengapnya.


Sultan melihat Dimas belum tertidur, ia pun lalu menghampirinya dan menemaninya di sana. Dimas pun sama seperti Sultan, yang di mana dia tengah berteleponan bersama dengan pacarnya.


"Hmm, pantas saja susah dibuka! ternyata ada sosok gajah yang lagi bersandar di balik pintu ini! gue kira elu udah tidur Dim," ucapnya yang sempat terkejut ketika dia melihat pintu kosan tersebut sulit terbuka.


Sultan tertawa karena dia mengira bahwa pintu kosan telah dikunci oleh temannya-temannya, namun ternyata dibalik pintu itu ada seorang Dimas yang sedang menghalangi Sultan masuk ke dalam ruangan tersebut di dalam sana.


"Ehh, maaf Tan, gue kira lu mau tidur di luar," ucap Dimas sembari tertawa kepada Sultan.

__ADS_1


"Elu aja sana tidur di luar! tapi bila gue bandingkan sebenarnya lebih enak diam di luar dah, soalnya di dalam ruangan pengap," ucapnya yang langsung menemani Dimas di sebuah ruangan tempat semua teman-temannya itu menyimpan tasnya.


"Emang benar sih Tan, kita satu pemikiran juga."


Dimas pun merasakan hal yang sama dengannya, dan pastinya hal itu dapat mereka semua rasakan juga, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerimakannya, hingga mana mereka semua bisa beradabtasi dengan lingkungan di sana.


Setelah mereka berbincang, Sultan pun tertidur dengan panggilan video yang masih belum ia matikan. Mungkin sampai pagi menyapanya, Sultan baru akan mematikannya, dikarenakan konsepnya itu iyalah pergi meninggalkannya dengan memberikan salam kepadanya terlebih dahulu.


Rere sudah tertidur dengan pulasnya sampai Sultan sama sekali tak bisa memberikan salam kepada Rere, dan bahkan mengucapkan selamat malam kepadanya pun ia tak bisa, walaupun Sultan bisa mengucapkannya dalam hati, namun itu takan pernah seindah bila didengar langsung oleh telinga mereka berdua sendiri.


....


Sinar mentari mulai terlihat dan mata mulai terbuka dari pejamannya. Rere terbangun lebih dulu, namun dia sama sekali tak mau membangunkan Sultan, padahal dia harus membangunkannya agar dia bisa melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam mesjid dengan para warga baru.


Rere sempat tersenyum dan sempat berbicara sendiri di sana. Dia mengira Sultan tertidur pulas karena mungkin perjalanannya itu cukup memakan waktu yang lumayan lama. Namun, Sultan sadar bahwa Rere pasti akan terbangun lebih dulu daripada dirinya.


"Dipikir-pikir muka dia lucu ya, tapi sayangnya dia engga bisa mendengarkan ucapan gue ini," ucapnya dengan lembut.


"Gue emang lucu Re, dan lagian gue udah bangun kok, jadi elu engga perlu mengulangi kata itu lagi karena pada dasarnya gue udah mendengarnya," ucap Sultan dengan mata yang masih tertup itu.


Rere sontak terkejut dan merasa malu telah mengucapkan kata-kata itu kepada Sultan. Dia membuang wajahnya, sementara Sultan menatap tajam raut wajah wanitanya itu.


"Ihh, kirain belum bangun lu bolot! salat sana ke mesjid, pahalanya lebih besar bila cowok salatnya berjamaah di dalam mesjid," Rere menyuruhnya pergi, padahal suara azan pun belum dikumandangkan.

__ADS_1


"Iya Re, gue siap-siap dulu. Tapi, sebelumnya gue mau ngomong sama elu Re, malam tadi lu tidur kaya kebo! pules amat dah," Sultan kembali membuat Rere tersipu malu akan ucapan yang ia berikan kepadanya.


"Malu gue Tan! gue lupa matiin teleponnya tadi malam, patinya elu senang kan Tan?".


"Biasa aja Re, gue udah sering melihat lu tidur terdengkur-dengkur seperti itu. Yaudah, gue mau siap-siap pergi ke mesjid dulu," Sultan langsung mematikan teleponnya setelah ia memberikan salam kepadanya.


Sultan membangunkan seluruh temannya, dan ia mengajak mereka semua untuk pergi salat berjamaah di dalam mesjid. Namun, mereka lebih memilih untuk salat berjamaah di dalam ruangan kosan, mungkin mereka semua hanya kelelahan, ataupun mereka akan sarapan pagi terlebih dahulu.


Sultan membiarkan semua teman-temannya untuk tetap berada di dalam ruangan kosan, asalkan mereka benar-benar melaksakan salat berjamaah di dalam sana.


Ia berniat menjadi setan sementara, setelah ia melaksanakan salat berjamaah di dalam mesjid. Dan setan yang di maksud itu adalah ia sengaja ingin mengganggu mereka yang sedang melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam ruangan kosan nanti.


"Jangan harap lu semua bisa salat berjamaah di dalam kosan dengan tenang!" Sultan berucap dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri di belakang semua teman-temannya yang masih tertidur itu.


Kebetulan Dimas membawa radio mini tanpa kabel, dan jadi Sultan pun bisa menjahili mereka semua dengan backsond suara kentut.


Permainan di mulai, Sultan telah selesai melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam mesjid. Tentunya ketika Sultan akan masuk ke dalam kosan, teman-temannya sempat membuat tulisan dari lembaran kertas yang bertuliskan kalau mereka semua sedang melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam sana.


Sultan mengintip dari luar kaca jendela yang kebetulan gorden kain penutup kaca jendela tersebut agak terbuka sedikit.


Ia pun lalu memulaikan suara backsond tersebut, dan dengan seketika semua temannya tertawa, bahkan Alamsyah yang ditunjuk sebagai imam pun tertawa dengan lepasnya lebih dulu.


"Woii bego! itu tadi siapa yang kentut? gila apa ya, lu semua! dosa bego!" ucap Alamsyah sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Azmi berpendapat bahwa Dimas lah yang kentut! tapi, Dimas tidak setuju dengan ucapan Azmi karena memang bukan dia yang kentut, melainkan suara dari radio itu.


Sultan pun lalu masuk dan berucap bahwa dialah salah satunya yang ingin menjahili mereka semua dengan memutarkan backsond suara kentut.


__ADS_2