
Waktu itu, dan tepatnya pada jam 08.30 yang di mana mereka semua berbincang dengan lepas tanpa memikirkan bagaimana caranya mereka bisa kembali menyinggahi sekolahnya itu di dalam sana.
Dan tentu saja mereka semua akan melupakan hal itu, bilamana Sultan tidak berbicara dan tidak mengingatkan mereka semua di sana, namun untung saja, Sultan sempat melihat ke arah jam tangan yang tengah ia kenakan itu, dan lantas semua orang pun mulai merasa panik, dikarenakan dengan waktu sesiang itu, mereka masih akan tetap nekat masuk ke dalam sekolahnya itu dengan hanya bermodalkan berani saja, dan tentunya Pak Maki takan pernah membiarkan mereka lolos sebegitu mudahnya.
"Waduhh ... bahaya Gi, bahaya! kalau gini caranya, kita pasti bakalan habis sama Pak Maki Yog!" ucap Sultan yang terlihat begitu sangat panik.
"Kenapa Tan? bahaya apanya?" ucap Yogi yang sama-sama paniknya dengan Sultan, padahal waktu itu Sultan belum menceritakan kepanikannya itu kepada Yogi.
"Udah jam setengah delapan ini Yog," ucap Sultan yang seketika membuat semua kawannya itu pun merasa panik tak berketepian.
Dengan seketika, Yogi pun lalu kembali bangkit dari tidurnya, yang di mana waktu itu dia tengah tertidur di bawah lantai teras kamar Akbar, dan tentunya punggung Yogi sempat membentur ranjang kasur yang berada di dalan kamar kosan Akbar itu di sana.
Dan lalu Iman pun sempat menyemburkan kembali kopi dingin yang tengah ia seruput itu, dan tentunya semburannya itu pun tepat mengenai wajah Taufik di depan teras kamar kosan Akbar itu.
Taufik pun sempat terkejut, dan dia pun merasa sangat menyesal duduk di samping Iman, dikarenakan semua wajahnya terkena dampak dari semburan kopi Iman itu di depan teras sana.
Bukan hanya Taufik saja, melainkan Rizal pun sempat terkena dampaknya juga, namun dampak yang diterima oleh Rizal itu tak seberapa, dikarenakan cipratan semburan air kopi itu hanya mengenai baju Rizal saja.
Dan bahkan Maulana lebih parah, yang di mana ia tengah menghisap dalam-dalam asap rokok itu hingga pada akhirnya Maulana pun tersedak, dan ditambah lagi Maulana pun sempat salah memegang batang filter rokok, yang di mana ia malah memegang ujung panasnya yang ditimbulkan dari rokok tersebut itu.
__ADS_1
Akan tetapi, yang paling lucu itu adalah Akbar, yang di mana dia tengah berada di dalam kamar mandi karena ada suatu panggilan alam yang tak bisa dia tahan lebih lama lagi.
Dan tentunya Akbar pun merasa tidak nyaman, dikarenakan Iman mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu dengan keras, yang di mana sehingga Akbar pun mulai tergesa-gesa sembari mengenakan kembali celana seragam sekolahnya itu di dalam sana.
"Bai, Bai, woii ... lagi ngapain elu di dalam? lama amat! padahal ini udah hampir satu jam elu di dalam sana, cepat liat jam berapa sekarang!" ucap Iman sembari mengetuk-ngetuk dengan kerasnya pintu kamar mandi itu di sana.
"Astaghfirullah, udah jam setengah delapan lebih! tungguin gue woii anak-anak bodoh!" ucap Akbar, yang di mana suara guyuran air pun lalu ia siramkan dengan sangat tergesa-gesa.
Alangkah menyebalkannya kawan-kawan Akbar itu, yang di mana mereka semua pun meninggalkannya di sana sendirian, dikarenakan mereka terlalu lama menunggu Akbar di dalam sana, dan sehingga mereka semua pun lari terbirit-birit meninggalkan Akbar tanpa sedikit pun mereka merasa bersalah.
....
Sebelum itu, Sultan pun sempat berbicara dari kejauhan kepada Akbar, bahwa Sultan lah yang akan mengisi absensi kehadirannya itu menjadi orang sakit, dan tentu saja Akbar merasa begitu lega ketika mana dia mendengarkan hal itu.
"Bai, elu tenang aja ya, soalnya gue yang bakalan ngisi absensi elu, dan jadi elu engga akan mendapatkan absensi alpa di kelas," ucap Sultan sembari berlari meninggalkan Akbar di sana sendirian.
"Gue bakalan bilang sama Pak Maki Bai, bahwa siswa yang sering bolos ini sering diam di kamar kosan sendiran," ucap Iman sembari berlari dan tertawa kepadanya di sana dengan lepas.
"Jangan Men, eh! elu mah bercandanya kelewatan mulu dah! kalau bukan temen! udah gue bunuh lu pake jurus katak-katak gila," ucap Akbar sembari berlari memasuki kamar kosannya itu, dan tentu saja di sana Akbar pasti akan mengunci rapat-rapat pintu kamarnya itu seperti hal nya Kang Azis waktu itu.
__ADS_1
Iman dan Sultan hanya bisa tertawa, dikarenakan suatu saat nanti, perpisahan ini pastinya akan ada, dan itu akan nyata terasa sepinya, bilamana semua temannya itu telah lulus semua dari sekolah yang sangat mereka cintai itu di sana.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon Sultan menyala dengan sangat keras! dan siapa lagi kalau bukan Rere lah yang meneleponnya.
"Aihh, ini si Rere bolot mau apa nelepon lagi? entar kalau pacarnya yang imut ini ketauan sama guru kesiswaan botak itu gimana coba! bukannya dia kasihan sama gue ya, kalau misalnya gue dimarahin mulu sama guru kurus itu di sana," ucap Sultan dalam hati sembari kembali memasuki handphonenya itu ke dalam saku celana seragamnya itu di sana.
Dan lantas Rere pun merasa heran! dikarenakan sikap Sultan tidak seperti biasanya hari ini, yang di mana biasanya ia pasti akan selalu mengangkat telepon darinya, walaupun ia sedang sibuk, ataupun sedang tertidur pun, ia pasti akan mengangkatnya terlebih dahulu hanya untuk menyapanya.
"Kok, dia engga ngangkat telepon dari gue ya? engga biasanya Sultan kayak gini, apa jangan-jangan dia lagi belajar ya? mungkin saja kali, yaudah deh diemin aja, palingan dia juga bakalan nelepon balik nanti," ucap Rere yang tengah berbicara sendiri di dalam kamarnya itu sembari menatap foto wajah Sultan.
Kembali lagi kepada Sultan, yang di mana waktu itu Pak Mukhsin pun datang, dan itu adalah suatu keuntungan yang begitu besar bagi mereka, dikarenakan bilamana mereka bersama dengan Pak Mukhsin, maka mereka semua akan baik-baik saja.
"Bukannya masuk! malah sembunyi-sembunyi begini! lagi apa kalian di sini hah? cepet masuk," ucap Pak Mukhsin sembari menjewer telingan mereka satu-persatu.
Aduh-aduh ... ! itu adalah suara rasa sakit, yang di mana rasa sakit itu sungguh sangat terasa menyengat, dan cubitan Pak Mukhsin itu bisa dibilang setara dengan sengatan serangan madu liar.
"Kita kesiangan Pak, tadinya kita mau masuk, tapi guru di depan gerbangan banyak beut, kita jadi ngeri Pak, masuk ke dalamnya," ucap Sultan sembari mengelus-elus telinga, yang di mana telinganya itu dengan seketika berubah warna menjadi warna merah.
"Ayo, buruan ikut sama bapak, wajah aja nampak garang kalian mah! tapi nyali kalian selembut kucing rumahan," ucap Pak Mukhsin yang terlihat begitu sangat santai dalam menangani siswa nakal seperti mereka.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka pun bisa masuk kembali ke dalam sekolah, mereka pun tertawa dalam hati, dan mereka pun berpikir bahwa hari ini memang adalah hari keberuntungan mereka semua.
Pak Mukhsin tak terlalu banyak berkata-kata, dan mereka semua lalu masuk ke dalam sekolah begitu saja, dan ternyata Pak Mukhsin malah membela mereka semua, yang di mana beliau membela mereka dengan alasan untuk membantu dirinya membereskan barang-barang penting yang berada di dalam rumahnya itu.