Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 166 : Kebahagiaan


__ADS_3

"Engga ada hal yang harus di permasalahkan Be, lagian malam itu juga aku pun sama tidur kayak kamu, jadi udah ya? lebih baik kita bahas soal pertemuan nanti pagi," ucap Sultan membuat Rere tersenyum.


"Engga ah, gue kesian sama lu, lagian gue pun sama lelahnya sepertimu Tan," ucap Rere kembali menguji kesabaran Sultan, berhubung Sultan kini tengah dekat dengannya dan jadi dia pun ingin memastikan apakah prianya akan marah.


Bilamana Sultan melihat Rere sekarang, maka ia pun akan tersenyum lebar seperti kekasihnya di sana, namun itu menjadi suatu keberuntungan bagi Rere, dikarenakan apa yang tengah Rere rasakan, Sultan tak dapat merasakannya selain dialah yang memberi tahu Sultan bahwa saat ini dia tengah bahagia.


Sultan berpikir kenapa Rere seperti ini, biasanya dia adalah orang paling pertama yang akan merasakan kebahagiaan sebahagia ini.


"Serius nih Re? kalau emang kamu lagi cape, mungkin kamu bisa melampiaskannya ke gue, dan nanti biar gue yang datang ke sana, lu mau apa?" tanya Sultan yang memang ia sudah berharap lebih untuk menemuinya sekarang.


"Gue engga mau apa-apa Tan, gue cuma butuh istirahat aja kok," ucap Rere dengan senyuman jahatnya.


Sultan tersenyum jahat, sama hal nya seperti Rere, mungkin Rere takan mengetahui apa sikap yang akan Sultan berikan kepadanya selanjutnya.


Sultan telah merencanakan sesuatu, dan ia akan menjahili Rere kembali agar Rere bisa membuka mulutnya itu. Tentunya ia akan membuat Rere dan akan mengungkapkan bahwa sebenarnya dia pun sama-sama merindukan pertemuannya yang singkat ini di sini.


"Kamu yakin Re? kalau emang kamu engga mau ketemu sama gue, tentunya gue engga akan mempermasalahkannya, lagipula gue masih bisa ngumpul di kosan sama teman-teman gue kalau emang elu engga mau ketemu sama gue," ucap Sultan mulai membuat Rere kesal.


"Ini anak emang engga tahu, atau pura-pura engga tahu aja? masa sih dia engga peka sama sekali dengan kemauan gue ini," ucap Rere dalam hati.


Rere tak menjawab pertanyaan dari Sultan, ia terdiam dengan rasa kekecewaannya, namun Sultan takan semudah itu menghilangkan kebahagiaannya, dan lantas ia pun segera mengungkapkan ucapan yang ingin Rere dengar.


"Makanya Re, kalau kamu emang rindu bilang aja, engga usah lah berpura-pura so jual mahal sama gue seperti ini, pacarmu di sini," ucap Sultan membuat Rere kembali bergumam.


"Awas aja kamu Tan! gue kira elu benar serius engga memahami kata-kata gue tadi," Rere mulai merasa lega dan mulai berpikir, hampir saja ucapannya yang tadi dapat membuat Rere semakin terjerumus, serta masuk ke dalam jurang kerinduannya.

__ADS_1


"Gue engga pernah seegois itu Re, lagian gue engga akan bisa melakukan hal yang dapat membuatmu hilang dari muka bumi ini."


Sultan masih membercandai Rere sembari tertawa lepas melihat reaksi terkejut Rere berlebihan seperti itu di sana.


"Kayaknya gue rindu juga sama mamah kamu Tan, mungkin hari ini mainnya cukup di rumah kamu aja ya?" tanya Rere membuat Sultan memanggil ibunya.


"Mah, Rere rindu nih sama mamah," teriak Sultan memanggil ibunya yang tengah mencuci baju di mesin cucinya.


Beliau masuk ke dalam kamar Sultan, dan beliau menyuruh Sultan untuk memasukan semua baju cuciannya ke mesin cuci, sementara beliau berbincang terlebih dahulu bersama dengan Rere.


....


Sultan menggantikan pekerjaan ibunya, walaupun beliau agak sungkan menyuruh Sultan untuk mencuci baju, tapi sepertinya Sultan sama sekali tak keberatan bila beliau menyuruhnya untuk menggantikan pekerjaannya sementara itu di sana.


"Tadi waktu ngomong sama mamah kamu engga bilang rindu, tapi pas waktu mamah kasih handphonenya ke Sultan kamu baru bilang rindu," ucap ibu Sultan dengan lembutnya sembari tersenyum kepada Rere.


"Rere malu mah," ucap Rere dengan nada suara malunya itu.


"Mumpung mamah ada di rumah, lebih baik Rere main ke sini aja ya, nanti biar Sultan yang jemput kamu ke sana, pokonya Rere harus ke sini."


"Iya Mah, nanti Rere main ke rumah."


Perbincangan mereka tak berlangsung lama, sehingga beliau menghampiri Sultan untuk memberikan handphonenya kembali.


"Nanti jemput Rere ke rumahnya ya, Tan, soalnya dia mau main ke sini, dan jangan lupa minta izin sama mamahnya dulu biar nanti mamahnya engga khawatir," ucap ibunya sembari memberikan handphone miliknya itu.

__ADS_1


"Giliran mamah yang ngomong sama Rere, dia main setuju-setuju aja, perasaan kalau Sultan yang ngomong Rere suka susah jawabnya," ucap Sultan merasa heran dengan kemauan Rere itu.


"Makanya Tan, kalau mau ngajak dia pergi kamu harus ngomong dengan nada selembut mungkin, dan kamu juga harus ingat bahwa wanita ingin diperlakukan selembut yang dia harapkan serta yang dia inginkan."


Sultan berpikir dengan penuh tatapan tajam, ternyata ibunya pun bisa bersikap semanis Sultan, dan bahkan sikapnya itu bisa dibilang lebih manis daripada dengan sikap asli Sultan kepada Rere.


Apa mungkin kebiasaan Sultan yang sekarang tak luput dari kebiasaan ibunya itu dulu, tapi ayahnya pernah berkata bahwa ibunya adalah wanita yang sangat pemalu.


Sultan berpikir kembali, dan ia membandingkan sikap ayahnya dengan dirinya yang sama-sama memiliki sikap menyebalkan juga, tapi ia merasa heran, ayahnya tak begitu menunjukan sikap manisnya, malahan ibunya lebih memberikan sikap itu kepada Sultan dan Rere.


Sultan menatap kedua orang tuanya sebelum dia pergi dari sana, ia menatap tajam, apakah mereka akan menujukan sikap kedua itu di hadapannya langsung, tapi faktor umur memang sudah menelan masa muda mereka, dan jadi alhasil mereka sama sekali tak menunjukan sikap apa pun kepadanya.


"Jam delapan gue berangkat ya, gue mau mandi dulu sebentar, pokonya elu harus udah siap biar kita bisa langsung berangkat dari sana," perintah Sultan kepada Rere.


"Iya Tan, udah deh jangan bawel mulu! emangnya elu engga denger ucapan ibumu tadi itu apa?" tanya Rere yang padahal seharusnya Sultan bisa mengikuti apa ucapan ibunya tadi itu.


"Percuma Re, lagian setiap hari gue selalu melakukan hal tersebut, tapi ya, mau bagaimana lagi kalau elunya masih aja malu dengan sikap manis gue itu."


"Mana ada Tan! itu pun hanya sekali saja kalau gue lagi marah sama elu, jangan ngada-ngada! gue tampar baru tahu rasa!".


"Itu ancaman bukan Re? gue engga percaya lu bisa nampar gue tanpa sebab yang jelas, tapi kalau emang lu mau melakukan hal itu, apakah gue boleh memperaktekan hal itu terlebih dahulu sama elu Re?".


"Ngajak ribut ini anak! awas aja lu Tan!".


"Ehh, engga-engga Re, maksud gue yaudah, terserah kamu aja mau ngapain gue juga, kalau gitu gue pamit mau mandi dulu," ucap Sultan yang tak langsung mematikan ponselnya dan malah melempar ponselnya ke atas kasur tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2