
Pada saat Sultan kembali ke dalam kosan, dengan seketika ia pun dikerumuni oleh mereka semua, mereka itu adalah teman-temannya.
Sultan memang sudah mengiranya dari awal bahwa Azmi pasti telah menceritakan hal yang sudah dia lihat tadi pagi bersama dengan Sultan. Sultan menyuruh mereka untuk diam, namun mereka sama sekali tidak mau mendengarkan ucapannya.
"Tan, kenalin gue sama cewe kenalan lu di sini dong, sekalian gue juga mau minta nomor Whatsappnya, siapa tahu gue bisa dapetin hatinya," ucap Alamsyah terlihat semangat dan percaya diri bahwa Sultan akan memberikan nomor Whatsapp Adelia kepada dirinya.
"Nomor apaan? gue juga kagak punya, lagian buat apa nyimpen kontak cewe banyak-banyak selagi gue masih memiliki Rere, pujaan hati gue," ucap Sultan sembari mengambil ponselnya yang sempat ia isi dayanya.
"Jangan gitu dong Tan, gue tahu kalau lu bohong," ucap Wildan mengira Sultan tengah membohongi mereka semua.
Sultan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengelus-elus rambutnya sendiri juga. Sultan merasa tak habis pikir, sebenarnya apa mau mereka, apa dengan hanya memiliki satu cewe saja mereka semua masih belum merasa puas.
Sultan tak mau membuka mulutnya walaupun mereka mengikuti dirinya hingga ke luar ruangan. Sultan lebih memilih untuk menghubungi Rere saja agar mereka semua terdiam tanpa suara.
Sultan mengira mereka semua akan menutup mulutnya, namun alangkah menyebalkannya mereka, yang di mana demi mendapatkan nomor telepon Adelia mereka semua hampir saja membuat hubungan Sultan dengan Rere hancur.
Untung saja Rere percaya penuh terhadap Sultan, apalagi soal menyangkut pautkan hati wanitanya, ia memang takan pernah melakulan hal tersebut kepada Rere.
"Assalamu'alaikum, pagi Re, kamu udah makan belum? pokonya sebelum berangkat PKL kamu harus makan dulu oke, supaya tenagamu bisa digunakan sampai sore," ucap Sultan dengan manisnya menyapa Rere di pagi hari yang cerah ini.
"Wa'alaikum Salam, udah kok, Tan, tapi sayang hari ini gue makan masakan bikinan gue sendiri tanpa elu yang ngasih makanan sama gue seperti gue sakit dulu," ucap Rere penuh harapan, namun harapan itu takan pernah terwujud untuk Bulan sekarang.
Suara bising di sana membuat Rere penasaran, sebenarnya mereka sedang membicarakan hal apa, sampai mereka menyebut nama Sultan berkali-kali tanpa mau berhenti.
Wildan, dia adalah orang pertama yang berkata bahwa Sultan tengah menduakan Rere di sini. Rere merasa itu tidak mungkin, dikarenakan Sultan sangat mencintainya.
__ADS_1
Sultan hanya bisa tersenyum, dan malahan Sultan menyuruh mereka berbicara dengan suara lantangnya, apa mungkin Rere mau mendengarkannya, tentu saja itu tidak.
"Re, Sultan punya cewe baru di sini," ucap Wildan yang membuat Rere terkejut, namun itu tidak lah lama.
"Mana mungkin cowok gue mau menduakan cewenya yang imut ini di sini, kalau pun benar nanti gue mau nyuruh dia jadi pacar keduanya aja," canda Rere yang sama sekali tak mau mempercayai ucapan dari Wildan.
"Gue bilang apa, Rere sama Sultan itu pasangan paling setia, mana mungkin Sultan ataupun Rere menduakan pasangannya sendiri," ucap Dimas membela Sultan, yang di mana sebenarnya dia pun berharap sama seperti teman-temannya semua, ingin meminta nomor Whatsapp dari Adelia.
"Kok, elu malah ngebelain Sultan sih bolot! kita kan lagi mancing agar dia takut, dan udah itu dia merasa terancam sampai akhirnya dia mengalah untuk memberikan nomor Whatsapp Adelia," ucap Alamsyah yang tak menyadari permainan Dimas.
....
Sultan adalah tipe pria yang tak suka dikekang, apalagi sampai semua temannya mengacam Sultan, mana mungkin Sultan mau memberikan nomor telepon Adelia kepada mereka semua dengan cara yang seperti itu tadi.
"Pantesan aja kenapa mereka semua nuduh lu kayak gitu Tan, ya, karena mereka ngarepin itu dari lu," ucap Rere terlihat santai dalam merespon ucapan Sultan.
Mereka berpikir ternyata sulit membuat Rere cemburu kepada Sultan, hingga pada akhirnya mereka lebih memilih untuk mengalah saja, sampai mereka masuk ke dalam kosan.
Seperti biasa mereka menyiapkan makanan untuk mereka santap sebelum berangkat pergi PKL. Ini akan menjadi pekerjaan yang melelahkan karena sebab mereka baru saja tiba di Tangerang, dan terlebih rasa sakit dipunggung mereka masih saja belum menghilang.
"Punggung gue masih sakit duh," ucap Azmi sembari memijat-mijat punggungnya sendiri.
"Jelas lah Mi, soalnya tadi pagi lu abis ditindih sama tubuh Dimas sampai diketekin juga lagi," ucap Rizki membuat semua temannya tertawa lepas di depan teras kosan.
"Untung aja gue ke luar tadi pagi, jadi gue engga sempat diketekin sama Dimas," ucap Sultan sembari menghisap rokoknya.
__ADS_1
"Curang lu Tan! elu engga ngerasain baunya ketek Dimas tadi pagi, jijik gue Tan, sumpah!" ucap Azmi masih belum bisa menghilangkan aroma bau ketek Dimas diingatannya.
"Lagian elu parah sih Mi, siapa suruh lu kirim video Dimas itu ke grup kelas sama grup kita," ucap Sultan malah semakin membuat posisi Azmi semakin terpojok.
Sultan sengaja membuang wajahnya agar Dimas tak mengketeki wajah Sultan seperti Dimas mengketeki wajah Azmi.
Buangan wajah Sultan sebenarnya takan berdampak apa-apa, lagipula Dimas takan berani mengketeki Sultan yang selalu ada untuknya disaat Dimas membutuhkan curhatan dari Sultan.
Waktu tak berjalan lama, hingga pada akhirnya mereka pun segera pergi meninggalkan kosan untuk pergi melaksanakan tugas prakerinnya di Tangerang.
Mereka menyimpan motornya di belakang Perusahaan, dan tempatnya tak cukup jauh dari sekitaran warung milik ibu penjual makanan dan minuman.
Setiap jam istirahat makan siang Sultan bersama dengan semua temannya sering membeli rokok serta minuman dingin di warung tersebut.
Ibu itu juga sama seperti mereka, sama-sama memiliki darah keturunan dari tanah sunda. Sultan selalu berbincang bersamanya bilamana Sultan sedang tak mau menyantap makanan berat seperti nasi dan juga lauk-pauknya.
Kembali kepada Sultan dan semua teman-temannya yang tengah melaksanakan apel pagi bersama dengan seluruh siswa di sana.
Seperti biasa Sultan ditunjuk lagi sebagai pemimpin apel pagi oleh seseorang penanggung jawab yang amat tegas dan terlihat agak sedikit menyeramkan.
Anehnya kenapa Sultan selalu disandingkan dengan Aisyah, padahal sebelumnya Sultan sempat ditunjuk sebagai pemimpin apel bersama dengannya juga.
Dan sekarang dia disandingkan lagi dengan Aisyah, yang di mana Aisyah selalu bertugas menjadi pengabsen kehadiran seluruh siswa di sana.
Sorak tepukan tangan pun kembali diberikan oleh seluruh siswa, sepertinya mereka merindukan sosok Sultan di sana, apalagi yang mendampinginya itu adalah Aisyah.
__ADS_1