Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 272 : Masalah sepele


__ADS_3

Azmi datang menghampiri Sultan sambil membawa makanan berupa tempe goreng serta tahu goreng yang masih hangat, dan tidak lupa pendampingnya ada sambel yang sempat Sultan bawa dari rumahnya.


Mereka bilang sambel goreng buata ibu Sultan itu enak, bahkan lebih dari sekedar kata enak saja, makanya Sultan sengaja membawa sambel goreng tersebut untuk semua temannya di sana.


"Tan, gue engga mau melihat elu ngalah sama mereka, jadi sekarang elu makan duluan aja selagi tempe goreng sama tahu gorengnya masih hangat," ucap Azmi sambil menaruh piring yang di atasnya sudah dia taruh dengan nasi beserta dengan lauk pauk yang dia sebutkan juga.


"Makan bareng Mi, panggil juga si Dimas, biar dia makan sesuai porsi yang dia butuhkan, lagian apa yang gue lakukan ini bukan semata-mata hanya ingin melihat kalian kenyang saja, sebenarnya gue jarang makan pagi, dan bilamana gue terlalu memaksakan perut ini untuk sarapan, yang ada perut gue akan semakin berulah saja."


Entah itu adalah penyakit ataupun itu disebabkan oleh gangguan yang lain, hanya saja ucapan Sultan itu memang benar ada dan terasa nyata olehnya, di mana bila Sultan terlalu memaksakan dirinya untuk sarapan pagi, yang ada perutnya akan menjadi terasa sangat sakit saja, hal tersebut bukan disebabkan oleh dia yang ingin buang air besar, melainkan perutnya hanya akan terasa sakit saja, dan selepas itu rasa sakitnya akan sembuh dengan sendirinya tanpa sekali pun dia meminum obat.


"Sebenarnya itu adalah gangguan yang sering terlintas seperti angin yang mudah berlalu saja Tan, makanya elu harus sering melakukan hal yang gue sebut itu tadi, lagian apa yang elu ucapkan itu memang benar, bahkan gue juga pernah merasakan hal yang sama seperti elu itu, namun ternyata setelah gue membiasakannya, hal tersebut engga pernah gue rasain lagi hingga sampai saat ini."


"Intinya elu harus sering membiasakannya aja Tan, gue yakin setelah elu membiasakannya, nanti juga semua rasa sakit itu akan menghilang bagaikan ditelan bumi, yang terpenting sekarang elu jangan terus-terusan mengalah, apalagi sampai elu memberikan jatah makan elu ini."


Ucapan Azmi itu memang benar, Sultan sering kali mengalah demi melihat semua temannya makan selahap mungkin, padahal Sultan tak perlu melakukan hal tersebut, dikarenakan apa yang mereka makan semuanya sudah diatur sesuai dengan takarannya masing-masing.


Sultan tersenyum tipis sambil mengernyitkan dahinya, tapi tetap saja dia masih ingin menyantap makanan yang Azmi suguhkan bersama dengannya dan juga bersama dengan teman gemuknya, yaitu Dimas.

__ADS_1


Sultan tahu, makan sendiri itu tak senikmat seperti makan bersama, jadi di sana Sultan menyuruh Azmi dan Dimas untuk menemaninya makan sebelum teman-temannya semua terbangun dari tidurnya.


Azmi setuju, hingga pada akhirnya dia memanggil Dimas agar teman gemuknya ikut makan bersama dengannya di depan teras kontrakan.


Azmi masuk ke dalam ruangan dan memanggil Dimas di dalam kamar mandi, Dimas tak mendengar panggilan darinya karena suara air yang berjatuhan itu membuat telinga Dimas menjadi tuli.


"Dut, kebiasaan dah elu ini ya, cepetan mandinya bego! gue udah laper nih, kalau elu mau dapet jatah makan lebih banyak, buruan mandinya, sebelum gue yang habiskan semua jatah makan milik Sultan nanti," ucapan Azmi masih diabaikan oleh Dimas, hingga mana Azmi pun menggedor-gedor pintu kamar mandi agar Dimas menyadarinya.


....


Dorr, dorr, dorr ....


"Ada apa sih bego? berisik amat, bentar lagi gue ke luar, ini tinggal nyuci satu baju lagi," teriak Dimas membuat azmi jengkel, mengapa ucapan Azmi tak dia dengarkan.


"Lu engga dengar ucapan gue yang sebelumnya apa! dasar budeg! itu sarapan pagi elu udah gue siapin, jangan sampai sarapan elu itu habis dimakan oleh Sultan, makanya cepetan ke luar," teriak Azmi, di mana Dimas baru sadar ternyata Azmi menyuruhnya untuk makan.


Dimas terlihat santai karena dia tahu bahwa Sultan takan pernah menghabiskan jatah makan miliknya, malahan yang ada Sultan akan memberikan jatah makannya itu untuk dia habiskan, secara pola makan Sultan bisa dibilang sangat rendah, bukan melainkan buruk.

__ADS_1


Tak lama kemudian Dimas ke luar dari dalam kamar mandi, di sana Dimas terlihat begitu santai menjemurkan bajunya tanpa dia mau melihat sarapan paginya itu terlebih dahulu.


"Pura-pura engga lihat lagi si bego! padahal gue tahu kalau elu lagi lapar, untung masih ada Sultan di sini yang nahan gue, coba saja kalau dia engga ada di sini, mungkim jatah sarapan pagi elu ini udah gue habisin Dim."


Basa-basi Dimas membuat Azmi semakin kesal saja, apalagi pada saat dia melihat raut wajah Dimas, rasanya dia ingin sekali memukul wajah Dimas hingga hidungnya berdarah.


Azmi memang masih kesal dengan apa yang telah Dimas lakukan, gara-gara ulah Dimas, celana barunya jadi basah, andai saja Sultan tak ada di sana, dan mungkin mereka benar-benar akan berkelahi.


Sultan menatap raut wajah kedua temannya itu, Sultan berpikir bahwa mereka berdua sedang marahan, namun dia tetap duduk diposisinya sebagai penengah, agar permasalahan mereka dapat dia atasi lebih lanjut lagi.


"Yaelah ... kalian berdua ini kayak bocah! pake ada acara duduk jauh-jauhan seperti ini lagi, bukannya kalian itu sabahat bagaikan kepompong ya, tapi kenapa elu semua berkelahi hanya gegara masalah makanan."


"Celana yang basah dan juga kening yang menghitam itu semuanya adalah masalah yang sering terjadi, lagian ini bukan waktunya untuk saling baperan, pokoknya awas aja lu ya, kalau elu semua masih belum pada akur, lama-lama gue nikahin juga lu."


Makanan yang mereka anggurkan kini mulai mereka santap, sebenarnya masalah yang seperti ini sudah sering kali terjadi, maka dari itu Sultan tak terlalu mengherankannya, dikarenakan sebabnya dia pun pernah mengalami hal yang sama juga seperti mereka, namun tak lama setelah pertengkaran itu, keesokan harinya Sultan bisa tertawa lepas seperti biasanya lagi.


Sultan adalah ketua di sana, dan dia juga harus bisa berpikir lebih dewasa dari mereka semua, apa pun perselisihannya, dia harus bisa melerainya, jangan sampai tugas yang diberikan oleh Pak Mukhsin dia lupakan.

__ADS_1


Andai saja Pak Mukhsin tahu bahwa Sultan bersama dengan rekan-rekannya masih sering berkelahi di sana, dan mungkin beliau akan memarahi Sultan terlebih dahulu, untung saja dia tak pernah menceritakan hal tersebut, jadi posisinya yang sekarang bisa dianggap aman, namun itu hanya sementara saja selagi beliau tak menyadarinya.


__ADS_2