Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 123 : Ketegasan sikap seorang guru


__ADS_3

Malam itu, Sultan dan Rere tertidur lebih awal, entah karena apa, atau mungkin karena mereka berdua merasa kelelahan, dikarenakan perjalanannya itu tadi cukup memakan waktu yang cukup lama.


Tak terasa pagi pun mulai hadir menyapa kembali, namun waktu itu Rere sama sekali belum mengabari prianya yang tengah menunggunya itu di sana.


Suara telepon Rere menyala, dan kemudian dia pun menjawab panggilan suara dari Sultan dengan mengeluarkan nada yang agak sedikit terhentak, dan mungkin sekarang dia masih merasakan sedikit angin laut yang masuk ke dalam tubuhnya itu.


"Assalamu'alaikum Re, kamu baik-baik aja kan? jangan sakit ya, pacar mandiri gue," ucapnya yang mungkin dia takan pernah bisa membiarkan wanitanya itu jatuh sakit, dikarenakan bilamana Rere benar-benar mengalami hal itu, maka itu tandanya Sultan telah gagal menjaganya.


Rere hanya tersenyum dan tertawa tipis disaat prianya itu mengucapkan kata-kata yang memang disetiap harinya, Sultan sering membuatnya tersenyum dan tertawa dengan lepasnya.


"Apaan sih kamu Tan, kamu itu engga jelas banget dah sumpah! pagi-pagi kok, udah bawel aja kayak mamah gue di sini," ucapnya yang padahal dia juga sangat senang bila Sultan memperhatikannya sebegitu dalamnya di pagi hari ini.


Ucapan Rere itu tadi sungguh tak asing ketika Sultan mendengarkannya, bagaimana tidak! suara lembut wanita yang baru terbangun dari tidur panjanganya itu sungguh membuat hatinya berdetak kencang, andai saja dia mengetahui perasaannya yang sekarang ini, dan mungkin wanitanya itu pun akan merasakan hal yang sama dengannya, yaitu sama-sama merasakan kekuatan cinta yang hadir dengan seketika cepatnya, sehingga hanya senyumanlah yang dapat menjawabnya, bahwa dengan mendengarkan suaranya saja, Sultan dapat merasakan kebagiaan yang sesungguhnya.


Setelah telepon suara dimatikan, Sultan pun tak berkata-kata apalagi kepada wanitanya itu, dan bahkan Rere pun hanya terdiam tanpa bersuara, yang seolah-olah dia memang sudah mengetahuinya bahwa Sultan memang akan datang kembali untuk menemuinya di sana.


Kameja panjang berwarna abu-abu polos itu serta celana jeans hitam dia kenakan dengan sangat rapi, dan dia pun tak lupa untuk menyemprotkan berapa parfum di baju dan di celananya itu, dikarenakan dia bukan hanya akan menemui Rere saja di rumahnya, melainkan dia juga akan menemui guru pendampingnya itu di rumah beliau langsung.


Yang memang Sebelum itu dia pun masih memiliki banyak acara bersama dengan guru pendampingnya dan juga teman-temannya, yang di mana besok mereka semua akan segera berangkat pergi PKL ke Tangerang.


Kringg, kringg, kringg ....

__ADS_1


Telepon suara Sultan berbunyi dengan seketika kerasnya, disaat dia akan segera pergi meninggalkan rumahnya itu di sana.


Dan ternyata itu adalah Pak Mukhsin, yang di mana beliau adalah pembimbing yang bertanggung jawab untuk mengantarkan semua teman itu pergi berangkat PKL ke Tangerang.


Sultan pun lalu menelan lidah ketika mana beliau menelepon dirinya, kenapa bisa? ya, karena mungkin beliau adalah sosok ketua guru jurusan yang paling tegas.


Dan terlebih Sultan adalah siswa yang sangat beliau percayai, maka dari itu beliau memang sengaja memilihnya untuk menjadi pemimpin yang mungkin dia dapat membawa nama baik sekolahnya itu nanti di sana.


"Assalamu'alaikum, bapak engga suka melihat kamu bertele-tele! dan jadi bapak menyuruh kamu dan juga teman-teman pemalasmu itu untuk berkumpul di rumah bapak sekarang!" nada suara tinggi itu adalah ciri khasnya, yang di mana Sultan pun merasa bahwa teman-temannya takan pernah merasakan bagaimana kakunya disaat dia menjawab telepon dari guru tegas itu.


....


"Siap Pak, saya kumpulkan semua teman-teman saya sekarang, ini engga akan lama Pak," dengan lantangnya dia berbicara seperti itu kepadanya, hingga pada akhirnya beliau mematikan teleponnya setelah dia mengucapkan salam kepada Sultan.


Beliau sangat suka dengan ucapan Sultan itu, dan untung saja sebelumnya dia tidak menentukan waktu kapan mereka akan tiba di sana, dan bilamana dia berkata bahwa jam 7 lebih dia akan tiba di rumahnya itu, maka dia akan marah karena beliau adalah guru yang tidak pernah mau membuang waktunya itu.


Suara lantang cukup membuat beliau bangga, yang terpeting Sultan jangan pernah sesekali mengeluarkan kata-kata yang sedikit arogan, bila itu terjadi, habislah semangatnya nanti.


Bila Sultan tidak mengabari seluruh temannya itu, maka tamatlah riwayat mereka semua, dan tentunya hal ini yang paling dia tidak sukai itu, yang di mana hilangnya kontak yang membuat perasaan cemasnya itu menjadi semakin tak karuan saja.


Banyaknya alasan! semakin membuat Sultan tak pernah mau mendengarkan alasannya itu, dan bahkan ada yang berkata nanti, baru bangun dari tidurnya, dan bahkan ada yang berkata gue ada urusan sebentar, nanti gue nyusul.

__ADS_1


Padahal hari itu mereka telah mendengarkannya langsung dari mulut gurunya itu, tapi kenakalan di usia remaja ini cukup menyulitkan guru pendampingnya itu juga.


"Gue kelamaan kagak Re? maaf ya, soalnya tadi Pak Mukhsin nelepon gue dan nyuruh gue untuk datang ke rumahnya sambil marah-marah coba," ucap Sultan yang memang tadi dia langsung pergi menjemput Rere ke rumahnya setelah dia mengabari semua temannya itu.


"Berani juga kamu nantang Pak Mukhsin ya, Tan, emangnya kamu engga takut dibunuh sama dia apa nanti Tan?" ucapan Rere itu hanya membuat semangat Sultan menjadi hilang saja, dan tentunya sikap rese itu tidak lain turun dari Sultan juga.


"Emang gue takut gitu Re! enggalah ... ada-ada aja kamu ini Re, emangnya gue cowok apaan," ucapannya itu bukan melainkan menumbuhkan semangatnya, tapi yang ada ucapannya itu yang membuat semangatnya itu terjatuh dengan seketika, kenapa bisa? dikarenakan Pak Mukhsin kembali meneleponnya di sana.


Pak Mukhsin kembali memarahi Sultan, dan Sultan pun hanya tercengang kaget, kenapa beliau meneleponnya disaat waktu yang kurang tepat.


"Emang enak dimarahin sama Pak Mukhsin! makanya Tan, jangan main-main sama ucapanmu itu, tahu sendiri kan akibatnya sekarang."


"Malah ketawa lagi, yaudah kita berangkat, soalnya gue engga bisa lama-lama di sini, nanti yang ada Pak Mukhsin malah tambah marah sama gue."


Motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan, yang sebenarnya dia sangat ingin bercerita panjang lebar bersama dengan Rere, walaupun itu hanya sesaat saja, asalkan Sultan bisa mendengarkan lebih indahnya suara tawanya itu.


Dia sama sekali tidak tersinggung ketika Rere tertawa lepas seperti itu kepadanya, dan bahkan dia sangat bahagia ketika dia mendengar Rere sudah mulai mengikhlaskan kepergiannya itu nanti.


Rere tersenyum dengan lebarnya di hadapan Sultan, dan sementara Sultan menatap raut wajah wanita cantiknya itu dengan tatapan yang sangat tajam.


Dan setelah itu, Sultan pun lalu pergi kembali meninggalkan Rere di sana sendirian, dan terlebih Pak Mukhsin terus-menerus menelepon Sultan hingga yang ketiga kalinya.

__ADS_1


__ADS_2