Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 351 : Dia yang suka bercanda


__ADS_3

Singkat cerita, di mana suara raungan motor semuanya telah dinyalakan. Mereka semua kini mulai pergi meninggalkan Pelabuhan Ratu.


Motor Sultan berjalan dibarisan paling depan, dikarenakan mereka semua takut bila nanti Sultan akan berkelahi dengan berandalan jalanan yang sempat memukul tubuhnya itu di tepi pantai Pelabuhan Ratu tadi.


Sultan mengira kalau dia tak pantas berjalan dibarisan paling depan, lantas Sultan menyuruh mereka yang ada dibarisan paling belakang untuk maju menggantikannya di depan sana, namun mereka sama sekali tidak mau menuruti ucapan Sultan, dan sebabnya karena mereka takut Sultan akan membahayakan dirinya sendiri.


"Mereka kenapa sih Re! gue bingung dah, padahal gue cuma mau melajukan motor ini dibarisan paling belakang aja, tapi mereka malah menolak ucapan gue," ucap Sultan terlihat bingung, namun ia tak mau banyak bicara, dikarenakan mungkin mereka hanya takut melihat Sultan terbaring lemas seperti tadi.


"Lagian elu lemah sih Tan! kenapa bisa coba elu sampai dipukul habis-habisan tanpa melawan mereka sedikit pun, emangnya mereka lebih kuat dari kamu apa?" Pertanyaan Rere membuat Sultan tertawa, dan ternyata dia pun ingin melihat prianya melawan mereka sampai mereka meminta ampun kepada Sultan.


"Lucu beut dah elu Re! tadi aja lu khawatir ngeliat gue tergeletak di tepi pantai, apalagi sampai gue melawan berandalan itu semua, mungkin luka gue bakalan lebih parah dari luka yang sebelumnya."


Rere sempat berpikir, kenapa sekarang prianya itu terlihat lemah, bahkan pada saat dia menyuruh Sultan untuk membalaskan dendamnya, Sultan terlihat kurang percaya diri.


Sebenarnya apa yang membuat Sultan setakut itu, padahal Sultan sering melakukan hal tersebut bersama dengan semua teman-temannya, bahkan disaat dia sendirian pun dia bisa menuntaskannya.


"Tan, aku mau nanya, tapi kamu janji jangan marah ya, soalnya pertanyaan aku ini agak sedikit menguras emosional kamu," ucap Rere membuat Sultan bingung.

__ADS_1


"Tanya yang banyak Re, aku engga akan marah kok, asalkan jangan bertanya kalau kamu mau mencari sosok pria yang lebih sabar dari aku di sini," ucap Sultan sembari menatap raut wajah Rere di balik kaca spion motornya.


"Kenapa kamu terlihat takut pada saat aku menyuruhmu untuk melawan berandalan itu Tan? padahal kamu bukannya bisa melawan mereka semua ya, jangankan berandalan itu, pereman pun kamu lawan kan Tan? " tanya Rere hanya membuat Sultan semakin tertawa lepas saja, lantaran ia tak pernah melihat Rere berisikeras seperti itu menyuruh Sultan untuk melawan berandalan jalanan tersebut di sana.


"Gue hanya takut melihatmu kecewa Re, dan kamu harus ingat bahwa kuatnya gue pun ada batasnya, gue engga bisa menahan serangan mereka karena mereka maju bersamaan," ucap Sultan setengah-setengah, ia hanya ingin melihat wanitanya itu sadar, bahwa ia takan pernah berkelahi langsung di hadapan kekasihnya.


Rere agak sedikit tersentuh, namun itu hanya ucapan yang belum Sultan selesaikan sepenuhnya, dan sebenarnya ia pun masih menyimpan beberapa kata untuk diucapkan kembali kepada Rere.


Sultan menghela napas panjangnya, ia pun menatap raut wajah Rere kembali, dan di sana Rere agak sedikit tersenyum, entah kenapa dia bisa tersenyum seperti itu, atau jangan-jangan Rere tersenyum karena Sultan telah melupakan masalah tadi.


"Gue mau menceritakan semua kejadian kemarin Re, di mana jumlah pereman tersebut memang tak sebanyak seperti para berandalan yang sudah memukul-mukul tubuh gue ini, dan malam itu gue berkelahi bukan hanya bermodalan tenaga saja, melainkan gue pun menggunakan semua otak gue juga agar para pereman itu bisa masuk ke dalam jebakan yang telah gue buat sendiri, maka dari itu kenapa gue dapat menumbangkan para pereman itu kemarin dan alasannya ini Be."


Ucapan Sultan masih belum bisa masuk dikepala Rere, lantas dia pun bertanya kembali kepada Sultan, apa yang Sultan maksud jebakan itu.


"Jebakan apa Tan? gue masih bingung nih!" tanya Rere sembari menyandarkan dagunya dibahu Sultan.


"Itu adalah teknik pancingan Re, di mana teknik itu sering gue gunakan dalam keadaan mendesak saja, dan gunanya untuk membuat lawan tersebut lengah, sehingga tanpa dia sadari semua rekannya sudah terpisah dengannya."

__ADS_1


Ucapan itu telah membuat Rere paham, dan mungkin dia berpikir tidak ada salahnya ikut serta dalam adu jotos bersama dengan prianya, yaitu Sultan.


"Kayaknya asik juga tuh, Be, gue boleh ikutan kan? sekali-kali ajakin gue lah berantem sama para berandalan jalanan, asalkan syaratnya kamu ada di dekat gue aja Tan," ucapan Rere terus saja membuat Sultan tertawa lepas, bahkan ia pun tak habis pikir dengan kemauan wanitanya itu, apakah benar dia ingin melakukan hal tersebut bersama dengannya.


"Masalahnya bukan hanya itu saja Re, tapi disaat bertarung seperti itu gue engga bisa terus-menerus mengawasi kamu, lagipula bertarung tak segampang yang kamu pikirkan Re, walaupun lawan itu lemah, namun akan tetapi mereka memiliki kemampuan dalam berpikir yang lebih baik, maka orang kuat pun akan kalah juga dengan kecerdasannya."


"Gue kan cerdas, jadi gue boleh ikut serta dalam melindungi elu kan Tan? gue bisa menjaga lu dalam kelemahan gue ini, katamu kekuatan tak berpengaruh dalam pertarungan kan, bukan begitu Tan?".


Sultan hanya bisa tersenyum lebar saja, dan rasanya ia ingin sekali memberhentikan lajuan motornya hanya untuk mencubit pipi Rere di belakang sana.


Ia tersenyum sangat lama sekali, sampai-sampai ia tak sadar bahwa Rere tengah memeluk tubuhnya dengan waktu yang cukup lama.


Sandaran kepala Rere dibahunya membuat Sultan sadar, ternyata sifat manja dia sama sekali tak berubah dari dulu, malahan dia semakin berulah saja.


"Ohh, iya Re, kasih tahu ibumu ya, kalau anaknya yang cantik ini mau belajar berkelahi dengan pacarnya sendiri," ucap Sultan membuat Rere tersenyum, apakah itu adalah ajakan, namun dia tak mau percaya dengan ucapan Sultan begitu saja.


"Engga mau ah, kamu sering boong sama gue, lebih baik elu belajar sendiri aja, siapa tahu kalau nanti kamu berantem lagi sama berandal jalanan elu bisa menang, engga kalah seperti tadi," ucap Rere membuat Sultan tercengang, apakah itu sebuah isyarat bahwa wanitanya akan mengizinkan Sultan lagi untuk berkelahi dengan siapa pun orangnya, dan orang itu masih menjadi tanda tanya besar, dikarenakan Sultan belum melihat pasti siapa orang yang akan melukai Rere lagi selain para pereman terminal yang sempat menodongnya itu.

__ADS_1


"Katanya kamu mau nyobain gimana rasanya berantem sama berandal jalanan Re, kalau emang mau elu harus bisa menguasai beberapa teknik gerakan silat, dan guru yang akan mengajari kamu itu adalah ibu gue sendiri," ucapan Sultan membuat Rere terkejut, ternyata beliau pun dulu sama seperti Sultan, yakni sama-sama suka berkelahi juga.


__ADS_2