
"Yaudah kalau begitu, berhubung semuanya udah pada kumpul lebih baik sekarang kita langsung berangkat aja," ucap Alamsyah mengajak seluruh temannya untuk pergi dari sana.
"Pamitan dulu sama bapak sama ibu lu dulu Lam, sekalian kita berdoa bersama dulu di sini," ucap Azmi membuat Alamsyah memanggil kedua orang tuanya.
Suara motor mulai dinyalakan setelah ayah Alamsyah membacakan doa untuk keselamatan mereka semua. Mereka mengecup tangan kedua orang tua Alamsyah, dan setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Kota Sukabuminya.
Kemungkinan mereka akan tiba di Tangerang pada malam hari, dikarenakan mereka berangkat dari Kota Sukabumi pada pukul jam 03:00 sore.
Bilamana mereka mengendarai motornya lebih cepat, maka mereka akan tiba di Tangerang lebih awal, namun karena ini adalah pertama kali mereka menggunakan kendaraan pribadi, jadi sangat disayangkan mereka harus mengendarai motornya sendiri dengan kecepatan standar saja.
Sebelumnya mereka sempat berhenti untuk melaksanakan ibadah salat asarnya di dalam mesjid pada pukul 04:00 sorean.
Lalu setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanannya yang masih cukup jauh. Motor melaju sejajar ke arah belakang, dibarisan paling depan seperti biasa ada Wildan yang menjadi petunjuk arah.
Dengan tertibnya mereka mematuhi ketertiban peraturan berlalu lintas tanpa adanya berkompoi menghabiskan seisi jalur jalanan.
Bukan hanya sekedar mitos kenapa sampai saat ini jalanan disekitaran area terminal Cibadak masih sering macet, padahal hari itu bukan harinya untuk pulang kampung karena libur panjang.
Untung saja mereka semua menggunakan kendaraan pribadi berupa motor, jadi dengan mudahnya mereka menyalip selah-selah yang agak sedikit terbuka.
Hingga pada akhirnya setelah mereka ke luar dari jalur tersebut mereka baru bisa merasakan jalanan yang sedikit terbuka luas.
Malam hari mulai menyapa, mereka semua memberhentikan laju motornya untuk melaksanakan ibadah salat magrib di sebuah musala yang tak sengaja mereka lihat.
"Perjalanan kita masih cukup panjang Bro, nanti setelah salat magrib kita cari tempat yang enak untuk dijadikan tempat nongkrong," ucap Sultan sembari melepaskan sarung tangannya.
"Di sini ajalah Tan, kita numpang sebentar," ucap Azmi yang memang terlihat sudah kelaparan.
__ADS_1
"Jangan Mi, engga enak sama orang-orang di sini, lagian ini kan tempat ibadah, lebih baik kita nyari tempat lain aja setelah salat magrib," ucap Alamsyah mewakili perasaan Sultan untuk tidak menyantap makanannya di tempat suci ini.
Mereka semua setuju dengan ucapan Alamsyah dan juga Sultan. Tak lama kemudian setelah mereka selesai melaksanakan ibadah salat wajibnya, mereka pun lalu mencari tempat yang cocok untuk dijadikan tempat beristirahatnya.
Dipersimpangan jalan ada sebuah warung gubuk sederhana, lantas mereka pun berhenti di depan warung tersebut untuk menyantap makan malam yang sebelumnya mereka bawa dari rumahnya masing-masing.
"Assalamu'alaikum, Pak, saya sama teman-teman saya mau minta izin numpang beristirahat di warung bapak ini ya, sekalian saya juga mau pesan susu jahe dan juga kopi hitam hangatnya," ucap Sultan dengan rendah hatinya meminta izin kepada pemilik warung tersebut.
"Tan, pesanan gue samain aja kayak lu," ucap Wildan yang tak langsung memesan pesanannya sendiri, dikarenakan dia tengah merendahkan sedikit tekanan angin di dalam ban motornya itu.
"Tan, elu juga makan sini, kita engga enak kalau ngediemin lu sampai elu engga makan," ucap Dimas menyuruh Sultan untuk makan, namun Sultan hanya menganggup saja dan menolak ajakan mereka.
"Kalian makan duluan aja, gue belum laper, palingan nanti gue makannya setelah sampai di dalam kosan," ucap Sultan dengan anggukannya itu.
....
Ibunya sangat mengkhawatirkan keselamatan Sultan, namun tidak dengan ayahnya, sepertinya beliau memang tak terlihat menghkhawatirkan Sultan sedikit pun.
Sebenarnya beliau bukannya tidak sayang dengan Sultan, melainkan beliau sudah terlalu percaya kepada anaknya sendiri bahwa dia sanggup untuk menjaga dirinya dari bahaya fisik seperti berkelahi contohnya.
Panggilan suara pun ditutup, dikarenakan mereka tak mau mengganggu perjalanan Sultan. Dan kemudian Sultan pun lalu menghubungi Rere yang sama-sama tengah menunggu kabar dari Sultan.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara ponsel milik Rere berdering di dalam kamarnya. Rere yang tengah mengasuh adik bungsunya di ruang tamu itu pun segera masuk ke dalam kamarnya untuk menjawab panggilan telepon dari Sultan.
"Itu pasti Sultan. Mah, Rere mau menjawab panggilan telepon dulu," ucap Rere sembari memberikan adik perempuannya itu kepangkuan ibunya.
__ADS_1
"Telepon dari siapa Re?" ucap ibunya penasaran.
"Engga tahu Mah, mungkin itu dari Sultan."
Ibu Rere berharap panggilan telepon tersebut memang dari Sultan, beliau tak ingin Rere menerima panggilan telepon dari pria lain selain dari Sultan, dikarenakan beliau tidak ingin melihat Sultan mendengar kabar bahwa Rere tengah dekat dengan pria lain selain dekat dengan Sultan saja seorang.
"Assalamu'alaikum, elu ke mana aja sih Re, perasaan elu lama amat dah ngangkat teleponnya," ucap Sultan dengan candaannya itu.
"Wa'alaikum Salam, Engga sabaran amat sih elu Tan! padahal ini tuh belum masuk satu hari elu ninggalin gue di sini dah Tan," ucap Rere sembari membercandai prianya itu juga di sana.
"Kata-katamu itu seolah-olah terdengar seperti tuduhan dah Re, padahal gue sama sekali engga merindukan elu di sini."
"Rese lu Tan! udah deh Tan, jangan mulai! gue cuma mau dengerin kabar dari lu sekarang kalau elu udah sampai mana?".
"Masih tetap sama Re, seperti dulu, masih barada di sekitaran area hatimu itu," ucap Sultan membuat Rere tersenyum lebar.
Dengan seketika Rere terdiam mendengar sikap manis Sultan di tengah kerinduan itu sedang melanda di dalam hatinya.
Berapa kali Sultan memanggil namanya, namun Rere masih saja terdiam. Lamunan Rere sempat membuat Sultan mematikan teleponnya, dan pada saat Rere sadar panggilan suara teleponnya itu sudah terputus.
"Ihh, ini anak emang rese ya! baru aja sebentar gue terdiam, dia malah matiin teleponnya gitu aja," ucap Rere sembari menghubungkan kembali panggilan suara teleponnya itu.
Sultan tertawa lepas mendengar Rere berbicara tanpa henti memarahi dirinya atas dasar sikapnya yang sangat menyebalkan itu.
"Malah ketawa lagi! bukannya mikir! untung aja lu jauh Tan, coba aja kalau lu dekat sama gue, udah gue tanam lu di dalam tanah hidup-hidup," ucapan Rere semakin membuat Sultan tertawa lepas saja.
"Hahh, apa Re? ditanam! ini gue engga salah dengarkan, lagian gue itu bukan biji buah yang ditanam bakalan tumbuh menjadi pohon terus menghasilkan benih buah yang baru, hadeuh ... dasar orang aneh!" ucap Sultan menjeda ucapannya itu terlebih dahulu untuk mengambil napas panjangnya yang sempat habis karena Rere terus-menerus membuatnya tertawa lepas.
__ADS_1
"Elu di sana pasti lagi mikir kan Re, siapa tahu dengan cara lu naman tubuh gue di dalam tanah, tubuh gue ini akan berubah menjadi pohon dan menghasilkan banyak Sultan yang baru kan?" canda Sultan membuat Rere merasa tak sanggup menahan rasa jengkel atas sikap menyebalkan yang Sultan berikan kepadanya.