
Pagi datang menyapa, semangat baru kini mulai hadir di hari terakhir ini. Panggilan azan salat subuh telah dikumandangkan oleh salah satu siswa yang berasal dari kelompok Sultan.
Kelompok Sultan duduk terdiam dengan rapi di barisan paling depan dan di barisan kedua. Seluruh siswa di dalam sana masih mengumpulkan nyawanya sendiri, namun tidak dengan kelompok Sultan, mereka di dalam sana terlihat begitu segar bugar karena mereka terbangun lebih awal pagi itu, bersama Sultan dan juga Rere.
Mereka yang dihina! dan mereka semua yang membuktikan kedisiplinannya di sana. Semua orang menganggap anak nakal itu lemah! namun, tidak dengan kelompok Sultan karena selama ini Sultan mengajarkan mereka untuk bersaing dalam kebenaran, dan bukan dalam kebencian.
Salat subuh pun telah dilaksanakan. Dan setelah salat subuh itu selesai, mereka pun lalu kembali masuk ke dalam kelas, dan lalu pergi kelapangan upacara untuk melaksanakan apel pagi. Dan setelah apel pagi itu selesai, mereka pun lalu melaksanakan senam pagi yang di komandoi oleh para anggota TNI.
Namun, di sana kelompok Sultan tak ikut senam pagi bersama dengan para siswa lain di lapangan sana, karena pagi itu ada salah satu dari anggota TNI, yang melihat kelompok Sultan telah melaksanakan lari pagi bersama dengan para pembimbingnya di lapangan sekolah itu.
Kelompok Sultan pun lalu diberikan jatah makanan yang paling pertama, dan itu semua mereka berikan sebagai tanda hadiah, atas kedisiplinan yang telah kelompok Sultan tersebut lakukan di dalam sekolahannya itu.
Pagi itu, adalah pagi yang begitu berat! dialami oleh para siswa baru lainnya di dalam sekolah sana. Begitu banyak keringat yang mereka keluarkan di pagi hari itu. Suara nafas pun tak terdengar seirama di kala itu, dikarenakan mereka tak bersungguh-sungguh melaksanakan perintah apa yang diberikan oleh para abdi negara itu.
Namun, kelompok Sultan di sana hanya bisa tersenyum manis sembari menikmati makanannya tersebut dengan damai, tanpa sedikit pun mereka merasa risau akan dimarahi kembali oleh para panitia OSIS di dalam sekolah tersebut.
Waktu terus berjalan tiada henti, tanpa lelah. Semua siswa kini di kumpulkan kembali setelah mana mereka mengganti bajunya kembali di dalam kelas.
Ini adalah waktunya bagi mereka merasakan begitu susahnya masuk ke dalam sekolah tersebut. Mereka akan di uji secara fisik dan mental kembali oleh para anggota TNI di sana.
__ADS_1
Berkilo-kilo meter mereka akan disesatkan di jalanan besar, di sungai, dilumpur tanah persawahan, dan nantinya mereka akan kembali masuk ke dalam sekolah dengan wajah yang sangat mengkharu kan karena mereka di sana telah selesai menyelesaikan tugas yang diberikan oleh semua guru, para abdi negara, dan juga para panitia OSIS, serta para pembimbingnya masing-masing di dalam sekolah tersebut.
Waktu itu, sebelum keberangkatan mereka, Sultan di sana menghampiri kelompoknya, dan dia berbicara kepada mereka untuk tetap bersama-sama dan saling tunggu-menunggu bilamana ada salah satu rekannya yang merasa sangat kelelahan di jalanan nanti.
"Boy, jangan ngegedein ego! bilamana dari anggota kalian ada yang merasa kelelahan, tungguin dia, jangan kalian tinggalin karena ini bukan perlombaan Boy, paham kalian semua!" ucap Sultan dengan tegas kepada kelompoknya.
"Siang Kang! mohon doanya ya, Kang Sultan, Teh Rere," ucap seluruh kelompok Sultan dengan serentak.
Pritt, pritt, pritt ... suara peluit dibunyikan berkali-kali oleh salah satu anggota TNI di lapangan sana.
"Semua berkumpul cepat! kalau lambat saya guling kan kalian semua di jalanan besar sana!" ucap salah satu anggota TNI.
Dengan seketika, mereka pun berkumpul di lapangan sana. Sebagian siswa masih ada yang berdiam diri di lapangan sekolah karena mereka di sana takan pernah di izinkan jalan bersama-sama dengan kelompok lain.
....
Sementara itu, apa yang dilakukan oleh para pembimbing di dalam sekolahannya itu di sana? dan ya, mereka semua akan dipersiapkan untuk membuat drama kejutan, yang di mana para pembimbing di sana akan berkelahi dengan para panitia OSIS yang berada di dalam Gor sekolah.
Itu semua hanyalah drama, tak nyata adanya. Mereka merencanakan itu semua hanya karena ingin melihat sebagaimana perdulinya kelompok mereka di dalam Gor tersebut nantinya, ketika mana mereka melihat para pembimbingnya itu berkelahi dengan para panitia OSIS di dalam sana.
__ADS_1
Waktu telah lama berjalan, mereka semua kini pergi meninggalkan sekolahnya itu di sana. Mereka semua berangkat pada jam delapan pagi hingga jam setengah delapan pagi, dan mereka sudah bersih meninggalkam sekolahnya di sana.
Kembali dengan Sultan lagi, yang di mana dia berjalan berdua kembali bersama dengan Rere di dalam sekolah tersebut. Rapat panitia OSIS, beserta dengan para pembimbing di dalam Gor sekolah telah usai dilaksanakan.
Dan akhirnya mereka bisa melepaskan tanggung jawabnya itu kepada panitia OSIS dan juga dengan para abdi negara di sana. Sultan bersama Rere kembali duduk di kursi depan sanggar Pramuka.
Semua kawan Sultan di sana, seperti biasa kembali bersantai di kosan untuk merokok dan bersantai untuk melampiaskan rasa letihnya itu, setelah mana mereka menghabiskan waktunya itu di dalam sekolahnya yang tercinta ini, bersama dengan para adik kelasnya juga di dalam sana.
"Mau makan lagi engga Re?" ucap Sultan kepada Rere sembari mengelus-elus hijab yang melekat dikepalanya itu.
"Makan melulu dah elu mah Tan! bukannya tadi udah makan ya, sama kelompok kita di lapangan sana?" ucap Rere sembari menoyor kepala Sultan dengan sangat pelan.
"Kali ini biar gue yang masakin elu makan Re."
"Elu aja sana makan Tan, entar di sini gue yang bakalan lihatin elu makan nanti."
"Elu mah bukan malah lihatin gue makan, tetapi elu mah mau ngeledekin gue sembari tertawa-tawa engga jelas! udah itu elu ngevideoin gue! dan terus udah itu elu ngeuploadnya ke sosial media elu dengan caption, 'Anak buaya lagi makan', ngaku engga elu Re!".
"Ihh, hehe, elu kali itumah Tan yang engga jelas! masa sih segitu resenya gue dimata elu Tan!".
__ADS_1
"Elu mah tukang usil Re! masa mamah elu lagi tidur, elu jahilin sih, pake acara naburin garam sekilo ke mulut mamah elu lagi! itu kan dosa Re! gimana kalau mamah elu ngutuk elu jadi kukang coba! entar gue engga bisa ketemu sama elu lagi nanti."
Rere pun tertawa di sanggar sana, dan Sultan pun di sana mencubit pipi Rere berkali-kali untuk menyuruhnya terdiam, supaya rindunya ini tak begitu sulit untuk di ingat kembali.