
Aisyah baru berpikiran ke arah sana, apa yang Sultan ucapkan tadi itu dengan seketika mengingatkannya bahwa ternyata dia juga masih memiliki teman-teman prianya yang lain selain teman-teman Sultan.
Mungkin nanti Aisyah akan berusaha menceritakan beberapa problem yang tengah dia hadapi sekarang ini kepada teman-teman satu sekolahannya semua, dan berhubung kontrakan mereka terpisah cukup jauh, jadi dia hanya bisa menceritakan semua problemnya setelah dia pulang dari dalam ruang lingkup area Perusahaan.
Aisyah sempat berpikir, dan bahkan Aisyah sempat beranggapan bahwa teman-teman satu servernya itu takan pernah berani menolongnya, apalagi masalah ini ada hubungannya dengan para brandalan yang secara tidak langsung pernah menodong semua teman satu servernya itu disebuah jalanan yang pastinya tidak jauh dari tempat persinggahan Aisyah.
"Sebenarnya gue engga terlalu yakin sih Tan sama mereka, apalagi kalau teman-teman gue itu tahu siapa brandalan yang tengah kita hadapi sekarang ini, dan pastinya mereka akan menolak mentah-mentah ajakan dari gue ini Tan," ucapan Aisyah membuat Sultan bingung, mengapa Aisyah berpikiran seperti itu, padahal dia juga belum melihatnya secara langsung apakah benar mereka semua akan menolak ajakan darinya nanti begitu saja.
"Belum juga dicoba Syah, kenapa elu udah berpikiran ke arah sana aja, apa salahnya mencoba Syah? mungkin teman-teman elu itu mau membantu elu nanti, diskusiin terlebih dahulu, dan setelah elu mengetahui tolakannya, elu baru boleh berpikiran ke arah sana."
Tentunya Sultan belum mengetahui masalah yang sebeneranya itu apa dan kenapa, makanya Sultan tak begitu menyetujui usul dari Aisyah, dikarenakan yang dia tahu itu hanyalah satu, yakni seorang teman yang benar-benar menganggapnya ada, mereka takan pernah mungkin bisa meninggalkan temannya sendiri meski dalam keadaan sesulit apa pun itu masalahnya.
"Kamu engga tahu sih Tan, dulu kita juga pernah ditodong sama para brandalan itu, teman-teman cowok gue engga ada yang mau melawan sedikit pun, dan di sana yang hanya berani melawan mereka adalah gue seorang."
__ADS_1
"Kok, gue engga tahu masalah ini ya, Syah, kenapa elu engga pernah cerita sama gue tentang masalah yang pernah elu hadapi ini, kalau gue boleh tahu kapan hal itu terjadi?".
"Tiga hari sesudah gue memulai PKL di sini Tan, dan jujur saja waktu itu kita semua masih bisa dibilang lugu, apa yang elu lihat sekarang ini tentunya udah berbeda dari hari-hari sebelumnya, asalkan elu tahu Tan, raut wajah polos gue di hari pertama itu jauh lebih terlihat polos, berbeda hal nya dengan sekarang, di mana kepolosan diraut wajah gue dengan seketika berubah, hanya saja orang-orang masih sering memandang lemah gue Tan, meskipun gue udah mencoba untuk mengubah sikap gue ini, tapi tetap saja mereka masih menganggap gue sebagai sosok wanita polos yang engga akan pernah bisa mengubah kehidupannya di dunia nyata ini."
Sultan melihat senyuman kesedihan diraut wajah Aisyah, dan di sana Sultan tak langsung menanyakan alasan yang sebenarnya itu dikarenakan sebab apa.
Sebagaimana sosok Sultan, dia takan pernah sanggup dan dia takan pernah rela melihat semua orang-orang yang telah dia anggap sebagai temannya sendiri tertunduk seperti yang tengah Aisyah perlihatkan sekarang.
Sultan memang paling tahu cara apa yang harus dia lakukan kepada Aisyah selain dia memberikan sikap resenya itu saja, makanya Sultan lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan yang lain sebelum Sultan menanyakan semua alasan kenapa orang-orang itu bisa menganggap buruk sosok Aisyah.
"Kamu menyesal Syah?" tanya Sultan sambil menaruh gelas yang berisi air teh itu di samping tubunya.
"Engga Tan, soalnya gue tahu arti dari rasa syukur yang sebenarnya itu seperti apa, dan tentunya rasa tersebut hadir dikarenakan gue engga sengaja mendengar salah satu ucapan yang ke luar dari mulut seseorang, dan orang itu sering gue panggil pria rese."
__ADS_1
"Waktu itu dia pernah berkata bahwa diamnya dia itu bukan dikarenakan dia takut, hanya saja rasa sabar yang sering kali datang itu dengan seketika menyuruhnya untuk tetap diam terlebih dahulu sampai hingga waktu tidur sang serigala itu tiba."
"Orang yang elu maksud itu ya, gue ... lagian elu ini sok bijak amat dah jadi cewe! apa susahnya tinggal bilang to the point aja bahwa sebenarnya orang yang elu sebut-sebut itu adalah gue, buang-buang waktu keseriusan gue aja elu mah ah!" ucap Sultan sembari menepikan raut wajahnya seraya menyeruput kembali air teh hangatnya itu.
Aisyah tersenyum, lantas setelah itu teman-teman Aisyah akhirnya ke luar juga dari dalam ruangan kontrakan. Sementara teman-teman Sultan sudah menunggu di depan jalanan sambil menyaksikan kehebatan seorang Sultan dalam membuat Aisyah tersenyum.
Mata teman-teman Sultan memang sangat jeli sampai-sampai hanya dengan menatap Aisyah selewat saja, mereka sudah bisa menebak Aisyah tengah tersenyum untuk Sultan, tapi sangat disayangkan, Sultan malah membuang wajahnya di sana.
"Andai saja yang di sana itu gue, mungkin pada saat Aisyah tersenyum, gue engga akan membuang pandangan gue sendiri, dasar Sultan bego! emangnya dia engga melihatnya apa, senyuman Aisyah itu sangat manis," ucap Azmi sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Yang disenyumin oleh Aisyah itu hanya Sultan seorang Mi, dan yang wajib membalas senyuman manis dari Aisyah itu cuma Sultan seorang, bukan malah elu bego! lagian elu ini alay beut dah jadi cowok Mi! itukan cuma sebuah senyuman biasa aja, dan sebenarnya elu engga perlu tuh sampai harus terbawa suasana yang seperti itu, apalagi sampai elu baper-baper sendiri, yang ada nanti gue tabok juga tuh pipi lu Mi," ucap Alamsyah terlihat begitu bijak, namun sangat disayangkan sekali bahwa apa yang dia ucapkan itu ternyata hanya sebatas alasan yang tengah dia buat-buat saja agar semua temannya memuji-mujinya di sana, padahal ucapan Azmi itu adalah suatu ungkapan yang sengaja Alamsyah simpan, dikarenakan dia tahu bahwa ungkapan tersebut dapat membuat semua temannya jengkel.
"Benar kata Alam, tolonglah Mi, berpikir lebih dewasa sedikit saja, dan gue juga mau minta tolong sama elu nih, tolong jangan menjadi beban para teman-teman elu dulu di sini oke, Mi, tapi kalau elu emang tetap masih mau jadi beban gue, itu sih engga masalah, asalkan elu mati aja sana," ucap Rizki membuat hati Azmi tersentuh.
__ADS_1
"Ucapan Azmi itu hanya sebatas candaan saja, lagipula dia benar kok, senyuman Aisyah memang manis untuk dilihat, bahkan gue tahu kalau elu semua berpikiran hal yang sama dengan dia, hanya saja problem ini membuat pikiran kita semua menjadi berbelit-belit, dan mungkin Sultan takan pernah mau melihat teman-temannya terlamun seperti sekarang ini, makanya kita harus bisa melepaskannya dengan senyuman serta candaan."
Itu adalah ucapan dari Dimas, dia adalah orang pertama yang membuat semua temannya terdiam, pikiran Dimas itu terdengar seperti sebuah seruan, di mana dia ingin melihat semua temannya bangkit dari rasa keterpurukannya, dikarenakan hal tersebut dapat membuat semangat mereka roboh begitu saja.