
Waktu itu tepatnya pada jam 3 pagi, di mana suara ayam yang berkokok dengan seketika membangunkan Sultan. Dia terbangun dari tidurnya seorang diri, sementara teman-temannya yang lain masih saja tertidur lelap.
Hari ini Sultan hanya bisa menghabiskan sisa waktu tidurnya sekitar satu jaman saja, bahkan kurang dari satu jam, namun di sana dia terlihat begitu segar bugar setelah dia terbangun dari waktu tidur singkatnya.
"Hadeuhh ... ayam siapa itu! bukannya ini masih terlalu pagi ya, tapi anehnya dia udah main berkokok aja, emangnya sekarang jam berapa sih," ucap Sultan sembari melihat jam di handphonenya.
Pagi itu Sultan memang tak sempat menyalakan alarm di handphonenya dikarenakan ia terlalu mengantuk, sepertinya teman-temannya juga sama tak ada yang menyalakan alarm di handphonenya sendiri, biasanya jam segini Sultan sering dibuat risih oleh suara alarm dari handphone milik teman-temannya itu.
Namun, entah kenapa pagi ini terdengar begitu sunyi sekali, dan tentunya Sultan merasa begitu khawatir, bilamana dia terlalu terlelap dalam tidurnya, mungkin sesuatu hal yang tak ingin mereka rasakan akan benar-benar terjadi.
"Waduh, ternyata udah jam tiga, untung saja suara ayam sempat menyadarkan gue, biasanya gue sering dibangunin oleh suara alarm dari handphone mereka, tapi anehnya sekarang tak ada satu pun suara alarm yang berbunyi."
Setelah Sultan sadar dia pun lalu mengecek semua handphone milik teman-temannya, dan ternyata memang benar, tak ada satu pun diantara mereka yang menyalakan alarm di handphonenya sendiri, berikut juga dengan Sultan, dia pun sama seperti mereka semua yang lupa menyalakan alarm di handphonenya sendiri.
Tak lama kemudian setelah Sultan sadar dari tidurnya, dia pun segera pergi membersihkan dirinya di dalam toilet selagi teman-temannya tertidur.
Sebagaimana anak rantauan, apalagi di dalam kontrakan bukan hanya ada dia saja, melainkan ada banyak orang yang pastinya mereka semua akan berebutan pergi ke dalam toilet untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Orang yang bangun paling pagi tentunya dapat merasakan begitu damainya mandi tanpa harus diburu-buru oleh orang yang menunggunya di luar ruangan toilet.
__ADS_1
Dan intinya orang tersebut merupakan sebagian orang yang bangunnya paling lambat sekali ataupun itu orang yang paling terakhir bangun dari tidur terlelapnya.
"Mendingan gue mandi lebih dulu aja dah sebelum mereka semua mengganggu waktu mandi damai gue di dalam sana, apalagi teman gemuk gue yang satu ini, dia merupakan sosok makhluk yang biasanya paling lambat bangunnya," ucap Sultan sambil menatap raut wajah Dimas, dan lalu setelah itu Sultan pun mulai masuk ke dalam ruangan toilet.
Pagi itu Sultan tak begitu lama berdiam diri di dalam ruangan toilet, berhubung dia hanya memiliki beberapa saja pakaiannya yang terlihat kotor, dan tentunya pakaian tersebut merupakan pakaian yang sempat dia gunakan pada saat dia berkelahi di jalanan sepi tadi, jadi Sultan hanya bisa merendamnya sampai ada yang mau membasuh pakaiannya itu.
Biasanya Azmi, Dimas, dan Alamsyah sering melakukan hal tersebut bilamana kondisinya memang sedang tak terkondisikan, contohnya seperti kondisi Sultan sekarang, di mana mereka hanya mau membasuh pakaian dari salah satu temannya yang sedang sakit saja.
Berbeda hal nya dengan sosok Sultan, di mana dia memang sering melakulan hal tersebut tanpa dia melihat kondisi teman-temannya di sana sekarang seperti apa, yang jelas dia hanya tidak ingin melihat tolilet dipenuhi oleh barang-barang atau pakaian dari teman-temannya yang kotor.
....
Tak lama kemudian Sultan ke luar. Pada saat itu Sultan dibuat tertawa ketika melihat Dimas bersin tanpa dia terbangun sekali pun dari tidurnya.
"Haciww ... jangan pergi."
Ya, itu adalah suara bersin serta suara Dimas mengigau. Lantas tak heran kenapa Sultan bisa tertawa, padahal dia baru saja ke luar dari dalam toilet, namun dengan seketika teman gemuknya itu membuatnya tertawa lepas sehingga yang ada dipikiran Sultan sekarang adalah menjahilinya.
Di dalam ruangan sana terdapat bantal Azmi yang tak digunakan lagi karena bantal tersebut terlalu keras, akan tetapi tak cukup keras-keras juga.
__ADS_1
"Mendingan gue bangunin si Dimas lebih dulu aja dah daripada gue bangunin si Azmi, soalnya kasihan tadi malam dia terus-menerus nemenin gue di depan teras, jadi biarin ajalah dia tertidur lebih lama lagi," ucap Sultan yang sudah siap melempar bantal yang cukup keras itu ke arah Dimas.
Bukk ....
Suara jatuhan bantal tersebut tepat mengenai wajah teman gemuknya itu, hingga pada akhirnya Dimas terbangun dari tidurnya sembari memperlihatkan reaksi terkejutnya.
"Gila lu Tan, kaget gue! lagian elu ini kenapa sih Tan, perasaan seneng amat dah mengganggu waktu tidur gue ini. Oke, untuk sementara waktu ini posisi elu aman Tan, tapi bilamana nanti kesehatan elu udah mulai membaik, pokoknya elu harus siap-siap aja Tan," ancam Dimas tak membuat jiwa Sultan gentar, bahkan Sultan malah semakin meledek Dimas di sana.
"Mau sekarang juga boleh Dim, gue jabanin walaupun tubuh elu sebesar gajah," ucap Sultan tak sengaja melempar bantal yang tengah Alamsyah gunakan.
Alamsyah terkejut, dia mengira bantalnya terbang dengan sendirinya, namun ternyata itu adalah ulah Sultan, dan untung saja Alamsyah belum sepenuhnya pulih dari tidur terlelapnya, tapi di sana Dimas tanpa sengaja melempar bantal tersebut tepat mengenai wajah Alamsyah, sehingga di sana Dimaslah yang disalahlan oleh Alam.
"Ahh ... ternyata elu Dim! padahal gue lagi enak-enaknya tidur, tapi elu malah mengganggu waktu tidur gue, elu sih enak Dim, bisa tidur nyenyak tadi, sedangkan gue sama sekali engga bisa tidur dengan nyenyak," ucap Alamsyah yang lebih memilih untuk tertidur lagi saja, dikarenakan pagi itu dia memang masih mengantuk.
Dengan begitu cepatnya Alamsyah tertidur kembali sehingga Sultan dan Dimas mengira bahwa Alamsyah hanya sedang mengigau saja.
"Kayaknya dia lagi ngelindur dah, yaudah Dim, mendingan elu mandi duluan aja, soalnya di sini elu yang paling lama tidurnya, sedangkan mereka baru bisa tidur di jam-jam yang singkat ini," ucap Sultan yang langsung pergi dari dalam ruangan sembari membawa handphonenya itu juga.
Setelah Sultan duduk di depan teras, dia pun lalu membuka galeri di dalam handphonenya hanya untuk melihat-lihat apakah ada foto yang dapat membuat kondisinya menjadi semakin jauh lebih baik lagi bila dia membandingkannya dengan kondisinya yang sekarang tengah dia rasakan ini.
__ADS_1
Ternyata di sana ada salah satu foto yang entah itu foto di zaman kapan, namun di sana terlihat bahwa foto tersebut di ambil ketika Sultan masih menginjakan kakinya di bangku kelas 10.
Dan foto tersebut memperlihatkan senyuman Rere yang tanpa sengaja ikut terfoto bersama dengan rekan-rekan dari satu Organisasi Pramuka.