Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 110 : Rasa sayang yang sama


__ADS_3

Sultan dan imamnya itu tadi, mereka berdua pun masih duduk terdiam di dalam musala yang memang musala itu tak begitu terlalu besar, bisa dibilang musala itu sama persis dengan bangunan gazebo, yang di mana sebenarnya tempat suci itu masih sangat layak dan nyaman untuk digunakan sebagai tempat beribadah.


Dengan khusyuknya Sultan berdoa, hingga mana semua anggota keluarganya pun membiarkan dia untuk berdiam diri di dalam musala itu seorang diri terlebih dahulu, dan tentunya tak ada yang bisa melarangnya, apalagi bundanya.


Wanita itu adalah malaikat yang selalu Sultan doakan, walaupun beliau bukan ibu aslinya, namun akan tetapi rasa sayangnya terhadap bunda angkatnya itu sudah bisa dibilang sama dengan dirinya menyayangi ibu aslinya sendiri di sana.


Lantas bapak imam itu, dengan seketika menghampiri Sultan dan lalu beliau pun menyuruhnya untuk mengumandangkan azan salat isya di dalam musala tersebut itu.


Kembali lah mereka melaksanakan kewajibannya itu, dan tentu saja kenapa ia tak ingin ke luar dari dalam musala itu dari awal, dikarenakan Sultan tidak ingin membatalkan wudunya sebelum waktu salat isya telah berlalu.


Sementara itu Agung, Danar, dan Robby menyiapkan beberapa batang kayu untuk membuat api unggun yang tak begitu besar, asalkan itu bisa menghangatkan semua tubuh mereka di sana.


"Oyy, ke mana kakak lu Vi? udah tidur bukan dia, perasaan dari tadi gue engga melihatnya," ucap Sultan sembari duduk di samping Stevia.


"Mana mungkin dia tidur jam segini Tan, palingan dia ada di dalam toilet, mungkin dia mau ganti baju dulu sambil mencuci mukanya itu," ucap Stevia sembari menunjuk ke arah toilet yang sedang kakaknya itu gunakan.


"Emangnya dia berani jalan sendirian gitu Vi? gue engga yakin sama dia, yaudah Vi, gue mau nyamperin dia dulu di sana," ucap Sultan kembali, yang di mana dia pun lalu pergi meninggalkan Stevia sembari mencubit pipi wanita itu dengan lembut.


"Tungguinnya di luar ya, Tan, elu jangan nemenin dia di dalam, nanti bunda marah sama elu loh Tan," ucap Stevia sembari menoleh dengan lamanya ke arah Sultan.


Sultan pun hanya bisa tersenyum, dan lagi pula apa yang dia ucapkan tadi kepadanya itu terlalu berlebihan, namun Sultan sadar, namun Sultan telah memahaminya dari awal bahwa ucapannya itu hanya sebatas candaan saja, dikarenakan dulu mereka pernah sedekat itu.

__ADS_1


Sultan pun lalu berdiri sembari menyandarkan punggunya itu di depan bagunan toilet, yang memang sekarang di dalam toilet tersebut itu ada sosok wanita cerewet yang sangat dia sayangi, namun tidak untuk mencintainya, dikarenakan cintanya itu hanya berada di dalam pelukan kekasihnya itu di sana, dan tentunya siapa lagi kalau bukan Rere.


Tokk, tokk, tokk ....


Suara ketukan pintu itu Sultan bunyikan, yang di mana tadinya dia memang ingin menakut-nakuti kakaknya itu di dalam sana, namun Sultan tidak ingin membuat dia celaka, dan jadi Sultan lebih memilih untuk berkata jujur saja bahwa dia tengah menunggunya di luar sana.


"Ihh, siapa itu? di dalam sini ada orang," ucap kakaknya yang merasa terkejut, ketika mana dirinya mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu toiletnya itu.


"Gue ada di luar ya, dan jadi elu engga usah takut merasa sendiri di dalam sana, dikarenakan gue sengaja datang ke sini memang untuk nemenin elu," ucap Sultan yang masih menyandarkan punggungnya itu.


Ia pun lalu menoleh ke arah kakaknya yang dengan seketika membuka pintu toilet itu, dan tentunya kenapa dia membuka pintu toliet itu, dikarenakan dari awal dia memang sudah selesai menganti bajunya tersebut.


"Tungguin gue ya, Tan, gue mau cuci muka dulu, dan gue mau minta tolong sama elu untuk megangin baju gue serta jaketmu ini dulu," ucapnya yang langsung memberikan bajunya itu kepada Sultan.


Tak lama setelah itu, Sultan bersama dengan Teh Mawar pun lalu pergi ke tempat, yang di mana semua orang tengah berkumpul di sana untuk menghangatkan seluruh tubuhnya itu.


"Ini Tan, bandrek buat kamu, kalau kurang manis kamu bisa tambahin gula lagi aja ya," ucap bundanya, yang di mana ketika Sultan duduk, bundanya itu pun dengan seketika menghampirinya sembari memberikan minuman hangat yang beliau bawa langsung dari Bandung.


"Wahh, enak nih Bun, makasih ya," ucap Sultan yang langsung mengambil bandrek yang tadi beliau buatkan untuk Sultan dan juga anak wanitanya itu.


Beliau pun lalu meninggalkan mereka berdua, dan tentunya bunda juga memang ingin berbincang banyak bersama dengan Sultan, namun ketika beliau melihat anak wanitanya itu, dengan seketika bunda pun lebih baik memilih untuk mengalah saja, dan terlebih beliau jarang sekali melihat dia tersenyum dan tertawa lebar bersama dengan Sultan seperti itu.

__ADS_1


"Elu beneran engga mau ikut gue ke Bandung Tan? bukannya elu masih ada waktu beberapa hari ini lagi ya, dan lebih baik elu tinggal dulu aja di sana," ucapnya sembari menyandarkan kepalanya itu dengan manisnya di bahu Sultan.


"Kapan-kapan ya, Teh, soalnya gue masih butuh waktu untuk beristirahat di sini, dan lagian gue juga harus nemenin Rere di waktu terakhir gue, kalau misalnya gue belum pacaran dengan Rere, mungkin gue bakalan mau nerima ajakan elu itu," ucap Sultan sembari merangkul bahu kakaknya itu dengan manis.


"Salah engga sih Tan, kalau gue ingin mencari pendamping hidup yang sama persisnya memiliki sifat seperti elu kayak gini?"


"Sebenarnya gini ya, Teh, kata-kata elu itu tadi mencerminkan bahwa elu itu sedang mencari jodoh yang sempurna, dan gue harap elu bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memilih jodoh yang emang elu inginkan, semua orang memiliki sifat pribadinya tersendiri, dan mungkin nanti ada seseorang yang akan datang dihidup elu dan akan membahagiakan elu dengan cara yang dia punya sendiri."


"Intinya, setiap orang yang elu anggap bahwa dia itu bisa membuat elu bahagia, yang bisa membuat elu tersenyum, tertawa, menangis, marah, berantem, dan gue harap orang itu akan benar-benar bisa membuatmu bahagia, carilah orang yang seperti itu, tapi jangan pernah sesekali kamu mendekati pria yang mudah berucap kata-kata pergi di kala perdebatan sedang elu jalani nantinya."


"Cari lah sosok pria yang memang dari awal sudah bisa membuat elu tersenyum dan tertawa, dikarenakan senyuman itu datang di waktu yang memang kita jarang pernah menyadarinya di saat sepi," ucapnya dengan begitu panjang lebar, yang di mana dia pun tersenyum untuk Sultan.


"Elu dong itu mah Tan, soalnya dari awal Stevia membawa elu ke rumah bunda, gue udah dibuat tersenyum dan tertawa dengan lepasnya," ucapnya, yang di mana dia pun langsung menatap wajah Sultan, dan alhasil Sultan pun dibuat tersenyum olehnya.


"Tunggu sebentar aja ya, gue mau ngambil kain blangket dulu di dalam tas, biar nanti elu engga kedinginan, walaupun elu udah pakai jaket, gue engga mau melihat elu sakit," ucap Sultan yang langsung meninggalkannya di sana sendirian.


Di sana hanya ada Danar dan Agung berdua, yang di mana bundanya sudah mulai memasuki tendanya bersama dengan anak wanitanya yang kedua, dan sementara itu Robby sudah tertidur pulas di dalam tendanya sendirian.


Sultan pun masuk hanya sesaat saja ke dalam tenda, dikarenakan dia cuma ingin mengambil kain blangketnya saja, dan tentunya dia pun tak mau mengganggu temannya itu yang sedang tertidur pulas, sebelum Agung dan Danar lah yang akan mengganggu dia tertidur di dalam sana.


Dan kemudian Sultan pun datang sembari memakaikan selimut blangket tenun khas Toraja itu keseluruh tubuh Teh Mawar, dan yang di mana dia lebih memilih kedinginan sendiri asalkan tubuh kakaknya itu tetap merasa hangat.

__ADS_1


__ADS_2