
Rere membawa Sultan pergi menjauh dari teman-temannya. Nampaknya Rere terlihat senang ketika mana sekarang dia bisa sepenuhnya bermain bersama dengan Sultan.
Rere mengambil ponselnya dan memotret wajah Sultan pada saat Sultan tak menyadari akan hal tersebut itu. Sultan bingung kenapa Rere tertawa-tawa sendiri di sampingnya, lantas ia pun menanyakan alasan Rere bisa tertawa seperti itu.
"Kenapa sih elu Re! ada yang lucu ya? cerita dong sama gue apa yang membuat elu tertawa lepas seperti ini di samping gue," tanya Sultan sambil mencubit pipi kiri Rere.
"Pacar gue ganteng juga ya, kalau difoto pas dianya lagi engga sadar kayak gini," ucap Rere sembari menunjukan foto hasil jepretannya kepada Sultan.
"Gue emang ganteng Re, pantas saja Putri ngegombalin gue di hadapan elu langsung, andai saja kalau gue itu engga tahu apa yang namanya setia, mungkin gue udah macarin Putri juga," ucapan Sultan membuat Rere menjewer telinganya dengan sangat keras.
Sultan berteriak kesakitan, ia pun lalu memegang tangan Rere, namun tenaga Rere lebih kuat bila dibandingkan dengan tenaga Sultan.
Sultan sengaja mengalah agar ia tak melukai tangan lembut dari Rere. Semakin Sultan diamkan jewerannya malah semakin keras, hingga pada akhirnya Sultan pun memeluk kepala Rere agar jewerannya terlepas.
"Tega beut dah elu Re, sama pacar sendiri! perasaan elu seneng amat dah kalau ngeliat gue sengsara seperti ini," ucap Sultan sembari menepikan raut wajah Rere tanpa ia mau melepaskannya sedikit pun sebelum dia berhenti menjewer telinganya.
Nampaknya Rere terlihat nyaman pada saat Sultan memeluk kepalanya, dan terlebih pelukannya itu memang sangat lembut walaupun Rere sempat membuat Sultan kesakitan karena dia telah menjewer telinganya dengan sangat keras.
Telinga Sultan agak sedikit memerah, namun ia masih saja belum menyadari akan hal itu, dan di sanalah Rere yang mengetahuinya lebih dulu kalau telinga Sultan memerah.
Sultan melepaskan tepian tangannya dengan perlahan, dan tak lama kemudian Rere pun memberikan sebuah kaca kecil kepada Sultan agar dia tahu seperti apa sifat Rere bilamana Sultan membuatnya marah.
__ADS_1
Rere memberikan kaca kecil yang selalu dia bawa ke mana pun tempatnya kepada Sultan. Lantas ia pun dibuat terkejut oleh Rere kalau telinganya memerah seperti itu.
"Aihh ... pantas saja kenapa telinga gue ini tiba-tiba bisa panas dengan sendirinya, dan ternyata telinga gue ini merah, emang parah elu Re!" ucap Sultan sembari melihat dan memegang telinganya yang memerah itu.
"Makanya Tan, kalau jadi cowok itu jangan rese-rese amat kayak beginilah! elu tahu sendiri kan akibatnya seperti apa kalau elu membuat gue marah," ucap Rere sembari menyandarkan kepalanya dibahu Sultan.
Sultan tak dapat berkata apa-apa lagi setelah Rere menyandarkan kepalanya dibahu Sultan. Dan sekarang yang hanya bisa ia lakukan adalah mengelus-elus lembut hijab yang melekat di kepala wanitanya itu sambil memberikan kembali kaca kecil milik Rere.
Sultan dan Rere terdiam, mereka berdua hanya bisa menatap alam yang indah ini dengan tatapan manja mereka.
Tak lama kemudian Sultan mulai bangkit dari duduknya, lantas dia pun mengajak Rere untuk merasakan seberapa kuat dorongan serta tarikan yang dihasilkan oleh air ombak pantai yang cukup besar itu di sana.
Sultan terus memegang tangan Rere tanpa mau ia melepaskannya pada saat air ombak membasahi celana mereka berdua.
Sultan menggendong tubuh Rere sambil berjalan-berjalan menelusuri tempat yang lainnya. Ia sengaja berjalan di atas genangan air laut yang terbawa langsung oleh air ombak hingga sampai ke tepian pantai.
Makin ke sini celana bagian bawah Sultan semakin basah, namun ia tak terlalu memperdulikannya, dikarenakan nanti pun celana jeans hitamnya akan mengering dengan sendirinya.
"Celana elu basah tuh Tan, mendingan sekarang elu turunin gue aja di sini, emangnya elu engga cape apa Tan, dari tadi menggendong tubuh gue tanpa elu mau menurunkan tubuh gue ini?" tanya Rere dengan lembunya sembari melingkarkan kedua tangannya di samping leher Sultan.
"Gue sama sekali engga cape tuh Re, kalau emang elu mau turun dari gendongan gue ya, turun aja, kita diam di warung yang menjual air kelapa muda itu," ucap Sultan sembari menurunkan tubuh Rere.
__ADS_1
Mereka berdua kini duduk di warung yang menjual air kelapa muda sambil menikmati air kelapa muda dibatoknya langsung.
"Ibu, saya mau pesan dua air kelapa mudanya ya, sekalian sama pop mienya juga dua," ucap Sultan memesan minuman serta makanan dengan nada suara lembut seperti biasanya.
"Air kelapa mudanya mau langsung diminum dari batoknya apa mau dipindahin ke gelas dulu?" tanya penjual air kelapa muda sembari menatap raut wajah pemesannya, yaitu Sultan.
"Kayaknya lebih enak diminum dari batoknya langsung deh Bu, kalau begitu saya mau pesan dua air kelapa mudanya tanpa dipindahkan dulu ke gelasnya ya, Bu."
Beliau langsung membuatkan pesanan Sultan, dan di sana beliau dibantu oleh suaminya juga lantaran beliau tak cukup kuat untuk membelah batok kelapa muda seorang diri.
Pesanan air kelapa muda dan juga pop mie datang bersamaan, Sultan dan Rere memilih untuk meminum air kelapa muda terlebih dahulu karena cuaca hari ini memang cukup panas.
"Kenapa kamu engga mau main sama teman-temanmu di sana aja Be? gue bisa kok, jalan-jalan sendiri tanpa harus elu yang nemenin gue di sini," ujar Sultan menyuruh Rere pergi bermain bersama dengan teman-teman lamanya di sana, namun Rere malah menolaknya, dan dia lebih memilih untuk bermain bersama dengan Sultan saja.
"Iya Tan, nanti gue bakalan main sama mereka, tapi sekarang gue cuma mau main berdua sama elu aja, soalnya besok elu pasti udah berangkat lagi ke Tangerang kan? makanya gue engga mau menyia-nyiakan kesempatan ini," ucap Rere membuat Sultan mencubit pipinya dengan manis.
"Yaudah Re, kalau emang kamu masih belum puas jalan-jalan sama gue, mungkin besok gue datang ke rumahmu deh, sama sekalian gue juga mau nagih janji kamu yang sebelumnya, di mana elu janji kan mau masakin makanan kesukaan gue nanti."
"Jangan besok Tan! gue cuma ingin melihatmu istirahat satu hari aja di rumahmu sendiri, hari ini udah cukup bagi gue Tan, makasih ya," ucap Rere sembari memagang tangan Sultan, namun dengan seketika Sultan menepikan tangannya dari Rere, dikarenakan Sultan tidak mau melihat Rere mengetahui keaadaan buruknya yang sebenarnya sekarang.
Rere mengetahui alasan kenapa Sultan menepikan tangannya itu, dan sebelumnya dia sudah mengetahui alasan tangan Sultan sering basah dengan seketika.
__ADS_1
Rere tersenyum sembari berdoa dalam hatinya, dia berdoa agar Sultan cepat sembuh, dan dia berdoa agar jantung prianya yang lemah itu pun cepat pulih seperti dulu kala pada saat ia dilahirkan.