Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 415 : Melawan kesunyian malam


__ADS_3

Sultan memang akan menghampiri Rere di sana, namun dia sengaja pergi pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil motor pamannya, dan kebetulan motor beliau itu merupakan motor matic asli Yamaha, dan tentunya pamannya itu sempat berbicara kepadanya bahwa dia akan membawa pergi motornya ke mana? dan alasan Sultan itu adalah untuk menyervis motor beliau.


Pada dasarnya itu hanyalah alasan yang dia buat saja, dan sebenarnya pamannya itu sangat baik, tentunya beliau pun takan pernah melarang Sultan untuk pergi dengan menggunakan motornya itu, bahkan bilamana dia berkata jujur kepada pamannya itu pun, beliau masih akan tetap mengizinkannya untuk pergi ke mana pun yang dia mau.


Setelah Sultan mengganti bajunya itu, yang di mana dia pun lalu melajukan motor pamannya itu dengan perlahan sembari menatap tajam kembali permandangan yang tak begitu asing baginya.


Rere pun sempat memikirkan Sultan di sana, namun waktu itu jam kerjanya masih ada dan masih berjalan beberapa menit lagi, dan lantas pada akhirnya dia pun tidak bisa berbuat apa-apalagi selain menunggu waktunya itu tiba takan lama lagi.


"Padahalkan engga ada satu jam gue teleponan sama dia tadi di sana, tapi kok, gue udah kangen lagi aja sama anak bolot itu ya? gue penasaran jadinya! agak-agaknya sekarang dia ada di rumahnya apa kagak ya?" ucapnya sembari tersenyum seorang diri di kala bayangan raut wajah Sultan terlintas dipikirannya itu dengan seketika cepatnya.


Kerinduannya itu terhadap Sultan takan pernah bertahan lama, setelah dia datang menemuinya di sana dengan alasan ingin menyervis motornya itu, dan tak disangka-sangka ucapan yang Sultan bicarakan kepada pamannya itu sebelumnya ternyata memang benar, dia pun tak hanya ingin menemui Rere saja, dan melainkan dia juga ingin mengganti oli mesin motor pamannya itu juga di sana.


"Itu bukannya si Sultan bolot kan! tapi kenapa dia pakai motor pamannya ya, emangnya si Jagur ke mana? apa jangan-jangan dia jual lagi keorang lain, kalau emang dia menjualnya, awas aja elu Tan! masa lu mau ngejual kenangannya juga," ucap Rere dalam hati.


Dia pun menatap wajah Sultan sambil mengepalkan tangannya, yang di mana sikapnya itu dia berikan dan dia suguhkan untuk memukul wajah Sultan, dan di sana bagaimana Sultan bisa membandingkan sikap lembut yang kakak angkatnya itu miliki, ya, dikarenakan sikap dan watak prilaku wanitanya itu bisa dibilang sudah seperti anak laki-laki yang hobbynya berkelahi.

__ADS_1


"Kang, saya mau ganti oli mesin ya, sekalian saya mau minta Rere juga ya, ehh, maksud saya sekalian sama pasangin lampu seins LED ini nya juga ya," ucap Sultan yang memang sudah keceplosan, hingga pada akhirnya Sultan pun diperbolehkan untuk duduk berdua bersama dengan pacarnya itu.


Plakk ....


Itu hanya tamparan level satu saja, dan tamparan itu belum terasa sakit, dikarenakan Rere mana mau bersikap keras, ataupun menampar wajah Sultan dengan sekeras mungkin di depan para karyawan yang sedang bekerja di sana itu.


"Kamu udah jual motor bukan hah? beraninya ya! awas aja kalau sampai motormu itu emang kamu jual begitu saja kepada orang lain Tan, habis lu nanti!" ucap Rere yang membisiki telinga Sultan sambil mencubit keras tubuh Sultan.


Raut wajah Sultan menciut kesakitan, entah siluman apa yang sedang merasuki jiwa wanita cantiknya itu, sampai-sampai Sultan dibuat takut dan diam begitu saja tanpa melawan.


Apa yang Sultan bisa lakukan untuk sekarang? dan tentunya dia hanya bisa membuat wanitanya itu terus bahagia saja kepadanya untuk saat ini, namun itu bukanlah suatu hal yang pastinya akan selalu terjadi, dikarenakan menjalani setiap hubungan takan pernah selamanya berjalan dengan baik dan mulus, yang di mana akan ada kalanya semua orang dibuat terpukul oleh suatu keadaan rasa cinta yang terpendam, ataupun terduakan oleh ego dan juga oleh amarahnya sendiri.


"Sebelum motor gue selesai diganti oli, gue mau bisikin sesuatu sama elu Re, tapi elu jangan marah ya, kalau gue itu sayang sama kamu," bisik Sultan yang langsung membuat Rere tersenyum manis.


Wanita itu, kemudian menutup mulut prianya dengan menggunakan tangan kanannya, dan sementara itu tangan kirinya ia gunakan juga untuk menutup mulutnya, tapi dia hanya menempelkan saja jari telunjuknya itu di bibirnya saja sambil bergumam kata yang singkat.

__ADS_1


"Sutt ... kalau didengar banyak orang malu, diem aja bisa engga sih Be? pliss, lah ya," bisik Rere kepada Sultan, yang di mana dia masih menutup mulut prianya itu tanpa sedikit pun dia mau melepaskannya.


Sultan pun terdiam dengan menyandarkan punggungnya itu di sebuah kursi yang sudah disediakan di Pt. Yamaha tersebut itu di sana dengan damainya sembari melihat ke depan jalanan, yang memang dia pun takan lama lagi berada di Kota Sukabuminya itu.


"Di kala sepi, di kala sunyi, di kala rindu, di kala diam, dan di kala hati membelenggu bagaikan angin yang berlalu, meratap langit malam di atas langit sana dengan dihadirkannya bintang-bintang dan sang rembulan malam, hingga pada akhirnya mata hanya sanggup menatapmu dari kejauhan, namun doa tak dapat hilang dan akan selalu menemanimu dalam diam, dalam kelam, meskipun entah kapan pertemuan itu akan berjalan, semoga apa yang aku harapkan bisa tersemogakan secepat mungkin untukmu sayang," ucapnya dalam hati sembari menatap raut wajah Rere yang sedang menunduk akan malu bertemu dengannya kembali.


Motor matic pamannya itu telah selesai diservis, walaupun dia hanya mengganti oli mesin motornya saja, yang terpenting baginya adalah bisa menemui Rere dan juga bisa melihat Rere itu ceria kembali.


Sultan pun berbicara kepada Rere bahwa dia akan menunggunya di dalam kosan sampai dia pulang PKL, dan Rere pun merasa bahwa Sultan tak perlu menunggunya seperti itu, dikarenakan Rere tahu, kalau Sultan butuh istirahat yang panjang, dan terlebih Sultan baru saja pulang dari campnya.


Sultan pun menunggu Rere di dalam kosan, sampai pada akhirnya dia pun memejamkan matanya terlebih dahulu, dan Akbar pun membolehkannya, yang asalkan Sultan pun membolehkan Akbar untuk menghabiskan rokoknya itu, dan tentunya Sultan pun berbicara kepada temannya itu di sana, mau dia makan dengan nasi sampai habis pun tentunya boleh.


"Bai, gue mau tidur dikamar lu ya, tapi lu harus bangunin gue jam tiga, kalau elu emang mau rokok, ambil aja di dalam tas slempang gue ini," ucap Sultan yang langsung berbaring di atas kasur keras Akbar.


"Siap, nanti gue bangunin elu jam tiga, pokonya elu tenang aja dah Tan," ucap Akbar.

__ADS_1


Dalam hitungan detik, Sultan pun tertidur, bukan karena dia pria pemalas, namun kebetulan waktu itu dia sama sekali tidak tertidur sampai pagi hingga siang, dan dia baru bisa tertidur setelah dia melaksanakan salat zuhurnya di kosan Akbar juga.


Suara Akbar terdengar keras di luar ruangan, dan dia pun terlihat tengah berteleponan bersama dengan pacarnya juga, apalagi pacarnya sekarang sedang ada di tempat yang memang itu adalah Kampung aslinya, dan sedangkan Akbar di sini bisa dibilang hanya sebagai pengunjung sementara saja.


__ADS_2